Jumat, 21 Agustus 2015

Kekayaan Tak Ternilai


Anak, sosok yang kehadirannya selalu dinanti. Tidak ada satu orang pun di dunia, yang masih punya hati, mampu menelantarkan buah hatinya. Sebagai fitrah seorang manusia dan orangtua, pasti kita akan sangat bersyukur ketika diamanahi anak.
Seorang anak dilahirkan untuk disayangi dan dididik bukan untuk diterlantarkan. Anak itu amanah terindah dari Sang Maha Pencipta. Sejatinya ketika kita diamanani (dititipi) sesuatu berarti kita harus menjaganya dengan sangat baik. Suatu saat ketika titipan itu diminta kembali, maka Sang Pemilik akan senang ketika “titipannya” itu terjaga dengan baik.
Karena anak merupakan titipan, maka kita harus terus berusaha menjaga titipan itu. Jangan sampai atas dasar pemuasan ego, kita memperlakukan anak dengan tidak manusiawi. Bahkan tak jarang akhir-akhir ini banyak kasus penganiayaan anak yang dilakukan oleh orangtua kandungnya sendiri.
Sungguh ironis memang, orangtua yang seharusnya menjadi sahabat, pelindung dan juga orang yang membuat mereka nyaman, malah menjadi algojo bagi nyawa si anak. Lantas, kalau sudah begini, kemana anak harus mencari tempat ternyaman dalam kehidupannya? Dan yang membuat kita tidak habis pikir ialah banyak kasus yang menjadikan ibu sebagai tersangka dari kejadian kriminal tersebut.
Mungin timbul pertanyaan, sudah hilangkah surga di bawah telapak kaki ibu? Kemanakah cinta tulus yang dulu selalu didapatkan saat si buah hati masih dalam rahim? Apakah harga untuk sebuah kasih sayang sudah terlalu mahal hingga orangtua sudah tak sanggup memberikannya?
Sebenarnya ketika kita mengingat kembali tujuan dan niat kita untuk mendapatkan buah hati, maka kita akan sadar dalam memperlakukan mereka. Kita semua harus menyakini kalau anak itu bukan orang dewasa bertubuh kecil. Anak ya anak. Jangan samakan pola pikir kita dengan mereka.
Contoh kasus, ada orangtua yang berani melakukan kekerasan kepada anaknya, hanya karena si anak tidak mau menurut apa yang dikatakan atau diperintahkan. Hal itu terjadi, karena kita menganggap anak harus paham 100% dengan apa yang kita ucapkan. Padahal dunia mereka berbeda dengan dunia kita. Mereka tidak bisa dipaksakan untuk memahami semua yang kita inginkan.
Mungkin sebagian orang menganggap cara mendidik orangtua dengan kekerasan dan dilabeli atau dibalut dengan kata disiplin itu baik. Padahal apapun alasannya, kelembutan dan kasih sayang jauh lebih ampuh dalam mendidik anak untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Sebenarnya kita bisa bercermin pada beberapa kasus yang terjadi. Banyak anak yang pada akhirnya memilih untuk hidup di jalanan dan hidup semau mereka, karena intinya mereka tidak betah dengan situasi rumah. Mereka lelah dengan perlakuan orangtua yang penuh dengan tuntutan dan amarah.
Sebagai orang dewasa, sudah sepantasnya kita menerapkan lima bahasa cinta kepada anak-anak. Menurut Dr. Gary Chapman ada lima bahasa cinta yang harus kita tunjukkan kepada orang-orang yang kita sayangi, yaitu
1.        Words of Affirmation (Kata-kata yang membangun)
Ketika kita membiasakan mengatakan kata-kata positif yang memotivasi, maka anak itu akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan bermental pemenang.
2.        Quality Time (Waktu yang berkualitas)
Memberikan waktu kita kepada anak-anak merupakan aset yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Anak yang merasakan keberadaannya orangtua di sisinya, mereka akan tumbuh menjadi anak yang penuh cinta. Dan tentu saja, seseorang yang merasa penuh cinta akan dengan mudah membagi cinta kepada orang lain.
3.        Receiving Gifts (Menerima hadiah)
Berilah kejutan dengan memberinya hadiah. Sebuah reward akan membuat anak diperhatikan dan dihargai kerja kerasnya. Tak perlu barang yang berharga mahal. Karena meskipun hanya sebatang coklat, anak akan merasa kita sebagai orangtuanya menilai mereka sudah berusaha melakukan yang terbaik.
4.        Acts of Service (Mau melayani)
Melayani di sini bukan artinya kita harus bersikap seperti pembantu, tapi sesekali membantu meringankan pekerjaan mereka.
5.        Physical Touch (Sentuhan fisik)
Menurut beberapa penelitian, sentuhan atau pelukan akan memberikan energi. Selain itu, pelukan juga akan meningkatkan kecerdasan otak anak, merangsang keluarnya hormon oksitosin, memberikan perasaan senang, mengurangi racun dari zat derifit glutamat yang berbahaya pada otak anak.

Kelima bahasa cinta ini jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya kepada anak-anak, maka akan memberikan efek yang luar biasa. Kita jangan terlalu ideals dengan memikirkan bagaimana mengurus seluruh anak di negeri ini. Karena yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memulai semuanya dari rumah atau keluarga sendiri. Ketika setiap orang memiliki pemikiran yang sama untuk menjadikan anak-anaknya bermental pemenang dengan pemenuhan cinta dari orangtua, maka efek virus positif tersebut akan menyebar sampai ke seluruh negeri ini.
Kita harus selalu ingat, anak merupakan kekayaan tak ternilai bagi seseorang. Ketika kita menyia-nyiakannya kesempatan untuk mendidiknya, maka hanya penyesalan yang akan kita dapatkan. Waktu yang kita investasikan untuk menemani mereka, semuanya akan tergantikan dengan perkembangan kecerdasan hati, pikir dan perilaku mereka. Anak tidak bisa ditukar dengan harta yang lain. Sekali kita mengabaikannya, maka itu artinya kita telah kehilangan kekayaan yang tidak ada bandingannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar