Rabu, 12 Agustus 2015

Sepenggal Kisah di Hari Raya

 #GiveAwayLebaran

Berbeda,
Ya, ada yang berbeda di Ramadhan dan lebaran tahun ini. Tak pernah terbayangkan akan ada sosok pendamping yang menemani. Dulu, Ramadhan hanya dilewati bersama keluarga dan teman-teman. Tapi, sekarang, ada seseorang yang selalu menjadi pengingat untuk meningkatkan semangat beribadah.
Di Ramadhan dan Idul Fitri kali ini pun, aku dan suami merasa sangat bahagia dan bersyukur. Kehadiran amanah terindah yang selalu menjadi penyemangat untuk terus dekat dengan-Nya. Alhamdulillah, Kuasa-Nya memang sungguh luar biasa, kami bertiga bisa melaksanakan shaum bersama-sama. Sungguh, bahagia yang tak cukup dilukiskan dengan kata-kata.
Meski awalnya, kami sempat khawatir apakah janin ini bisa diajak berpuasa. Tapi, Alhamdulillah, Dokter dan Bidan sangat membolehkan Debay diajak berpuasa. Katanya biar jadi anak sholeh, aamiin J.
Tapi, kekhawatiran kedua pun datang menyapa ketika kami harus mudik. Kami memang sudah berniat untuk merayakan hari raya di Lumajang, Jawa Timur. Tentunya perjalanan dari Bandung ke Lumajang harus memakan waktu yang begitu lama, dan dalam kondisi berpuasa juga. Tapi, kami yakin Allah bersama kami, meski ada sedikit ‘insiden zupa-zupa’ dalam perjalanan kami.
Ya, entah karena kelelahan atau karena kami tidur terlalu larut, akhirnya ketika prama dan prami menawarkan makanan untuk sahur, kami sami sekali tidak mendengarnya. Akhirnya suamiku langsung memesan ke dapur. Namun sayang, mereka katakan kalau yanng tersisa tinggal sup dan roti. Suamiku berpikir lebih baik memilih roti saja. Dalam pikiran suamiku, cukuplah makan roti untuk sahur. Tapi, kami saling berpandangan ketika seorang prama menghampiri kursi kami, ia datang sambil membawa dua mangkuk zupa-zupa.
Suamiku yang baru pertama makan zupa-zupa, sama sekali tidak menyukai makanan yang katanya aneh itu. Aku, yang memang kurang suka dengan zupa-zupa, akhirnya memesan sup. Menurutku, semangkuk sup ayam panas lebih bisa bersahabat dibanding zupa-zupa. Tapi, kembali lagi aku dan suamiku saling berpandangan dan menahan tawa. Ya, ternyata sang prama datang dengan semangkuk zupa-zupa di nampan. Yang dimaksud sup oleh prama itu, ternyata zupa-zupa juga.
Karena takut mubazir, akhirnya kami membatalkan pesanan itu. Untunglah, prama itu mau menerima pembatalan pemesanan tersebut. Kami berdua pun memutuskan untuk makan udang goreng dan hati ayam sisa buka puasa. Kami makan udang dan hati ayam dicampur keripik pedas tanpa nasi.
Suamiku menyarankanku untuk tidak berpuasa karena khawatir dengan kondisi janin. Tapi, aku katakan kalau aku akan melihat kondisi nanti siang saja. Jika sekiranya tidak kuat, aku akan membatalkan puasaku demi Debay.
Sepanjang perjalanannya, aku dan suamiku terus saling meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Kami berdua pun tak lepas berdoa untuk kesehatan Debay. Alhamdulillah dengan afirmasi dan kami ajak ngobrol setiap saat, Debay tetap sehat dan lincah dalam rahim.
Setelah melewati perjalanan hampir 24  jam dari Bandung, akhirnya kami sampai di rumah sederhana nan sejuk. Ibu, kakak, keponakan dan Bu Lek sudah standby di depan rumah menyambut kami. Rasa haru dan bahagia ketika melihat keluarga sehat, terutama Ibu.
Perjalanan kami bertiga memang sudah ditunggu-tunggu oleh Ibu dan keluarga besar di Lumajang. Ibu bahkan sempat mengungkapkan rasa kangen yang begitu besar kepada kami bertiga. Sejak selesainya perhelatan “Ngunduh Mantu” akhir Maret kemarin, kami memang hanya bertegur sapa lewat telepon dan sms dengan beliau, jadi wajar jika kedatangan kami ditunggu-tunggu. #Merasa bahagia :D
Sepuluh hari shaum kami lewatkan di Lumajang dengan begitu khusyuk. Tak ketinggalan menu khas Lumajang buatan Ibu, menjadi santapan saat tiba waktu buka dan sahur. Untunglah cita rasanya hampir sama dengan masakan Sunda yang sudah sangat familiar di lidahku.
Melewati Ramadhan dengan sensasi yang berbeda, itulah yang aku rasakan. Ada banyak hal yang membuatku banyak bertanya kepada suami. Perbedaan budaya memang kadang membuatku harus cepat memahami dan menyesuaikan diri.
Tak terasa 30 hari sudah, bulan Ramadhan menyapa. Suara takbir yang terus berkumandang mulai terdengar dari pengeras suara. Takbiran menyambut lebaran keesokan harinya kami lewatkan dengan seluruh keluarga. Suamiku juga mengajakku berkeliling kota Lumajang melihat keramaian malam takbiran. Semua itu merupakan momen yang tak akan terlupakan.
Lebaran spesial, itulah yang sering kami ucapkan. Banyak nikmat yang kami rasakan di hari raya tahun ini. Berkah Ramadhan menyapa kami silih berganti. Tak ada kata yang lebih pantas selain rasa syukur kepada Allah SWT.

Artikel ini diikutsertakan dalam#GiveAwayLebaran yang disponsori oleh Saqina.comMukena Katun Jepang Nanida, Benoa KreatiSandermDhofaro, dan Minikinizz

1 komentar:

  1. insiden zupa-zupa? apa itu.. hehehe..

    salam kenal ya mba intan, terimakasih sudah ikut #GiveAwayLebaran, sering2 ya main ke blogku www.heydeerahma.com ;)

    =Dee=

    BalasHapus