Sabtu, 28 November 2015

Belajar Dari Orangtua

11.08 0 Comments
Foto: Pribadi

Keluarga sebagai tempat pertama seorang anak mengenal apapun. Dengan kata lain rumah adalah sekolah pertama dan orangtua ialah guru pertama yang dikenal oleh anak-anak. Karena alasan itulah keluarga harus menjadi tempat yang paling kondusif dalam menerapkan nilai-nilai positif kehidupan.
Ya, begitulah yang aku rasakan selama ini. Sejak kecil orangtuaku mendidik aku dan keempat kakakku dengan luar biasa. Banyak orang di luaran termasuk keluarga besar kami, yang menilai orangtua kami, terutama Bapak, tidak memiliki hati dalam mendidik.
Kami memang dididik dengan sangat disiplin dan tegas. Namun tentunya jauh dari kekerasan yang menyebabkan kami terluka. Ketegasan yang diterapkan memang sengaja Bapak lakukan untuk membuat kami anak-anaknya memahami makna hidup yang sebenarnya.
Kami tidak dididik menjadi anak yang manja dan mengalah pada kehidupan. Kami dibimbing untuk menjadi pribadi yang mandiri dan kerja keras. Sejak kecil, kami dididik untuk mendalami tiga pelajaran yang sangat membantu kami hingga saat ini. Ya, sejak di bangku SD hingga SMA, Bapak menekankan kepada kami untuk memahami agama, bahasa asing dan bela diri.
Awalnya kami heran, mengapa mesti tiga ini? Mengapa tidak yang lain? Ternyata semuanya terjawab sekarang. Saat kami sudah mulai dewasa, kami merasa betapa pentingnya ketiga hal itu. Dan ketiga itu sangat membantu kami untuk mengarungi kehidupan sekarang.
Tidak hanya itu, Bapak mendidik kami untuk memiliki jiwa entrepreneur, jiwa pemberani dan juga menghargai waktu dan uang. Sejak kecil, kami diajari untuk bisa berjualan. Kami berlima diharuskan untuk menyimpan kue dan es mambo ke warung-warung di sekitaran rumah sebelum kami berangkat ke sekolah.
Foto; Pribadi
Tidak boleh ada kata malu dan malas dalam kamus kehidupan kami. Semuanya harus kami jalani sebagai proses pembelajaran hidup dari Bapak. Bapak selalu mengingatkan semua yang kami dapatkan pasti akan berguna ketika kami dewasa nanti.
Ya, benar saja. Nilai-nilai yang diterapkan oleh Bapak sampai saat ini sangat terpatri dalam diriku dan keempat kakakku. Nilai kedisplinan, keberanian, kejujuran, kerja keras, sampai saat ini masih saja tergores pasti dalam langkah kami. Kami malu jika harus meminta dari orang lain, karena sejak kecil kami dididik untuk berusaha dengan hasil kerja sendiri. Kami bisa membiayai kuliah dari hasil mengajar dan berdagang.
Nilai-nilai positif yang Bapak terapkan dalam kehidupan kecil kami ternyata menjadi inspirasi bagi anak-anaknya, khususnya aku. Aku selalu menanamkan nilai-nilai itu kepada keponakan-keponakan dan anak didikku sebelum aku menikah. Aku tanamkan dalam jiwa mereka untuk menjadi pribadi yang berani, jujur dan kerja keras.
Aku selalu berusaha untuk memberikan contoh yang baik. Contohnya saja, sebelum aku meminta mereka untuk lebih banyak membaca daripada menonton TV, maka kau sendiri harus melakukan itu terlebih dahulu. Bahkan tanpa ada ucapan atau suruhan, mereka dengan sendirinya akan mengikuti apa yang aku lakukan.
Foto : Pribadi
Banyak hal yang aku lakukan untuk menjadikan keponakan-keponakan serta anak didikku memiliki nilai-nilai positif dalam kehidupannya. Karena bagiku, masa anak-anak adalah masa yang paling baik untuk membiasakan sesuatu. Saat itu, karena aku belum menikah, maka aku menanamkan nilai-nilai itu kepada keponakan-keponakan dan anak didikku.
Dan saat ini, ketika aku telah dikaruniai seorang putra, aku mulai belajar menanamkan nilai-nilai tersebut kepadanya. Meskipun usianya baru 2,5 bulan, tapi aku mencoba membiasakannya dengan segala yang positif. Mungkin sebagian orang berpikir, anak seusia itu belum mengerti. Tapi, aku yakin jangankan anak sudah lahir, anak dalam kandungan saja sudah bisa mendengar. Karena aku pikir, mumpung masih kertas kosong, jadi akan lebih mudah menerapkan nilai-nilai positif pada amanah terindah ini.
Foto; Pribadi
Aku selalu membiasakan anakku mendengarkan yang baik-baik saja. Pujian, kata-kata motivasi dan afirmasi selalu aku bisikkan kepadanya. Aku juga mengajarkannya untuk mengenal banyak orang dengan adat dan bahasa yang berbeda-beda. Karena aku dan suamiku berasal dari dua budaya yang berbeda, maka ia pun akan tumbuh dalam dua kebiasaan yang berbeda pula. Tapi, aku tidak pernah membatasinya. Karena ketika ia dewasa nanti, ia pun akan mengenal dunia dengan kondisi orang-orang yang berbeda pula. Oleh karena itu, aku ingin menanamkan kepadanya nilai-nilai positif agar kelak ia bisa menjadi pribadi yang positif pula.
Semua yang aku lakukan tentunya tidak lepas dari didikan orangtuaku dulu. Aku memang terinspirasi dari bagaimana Bapak dan Mamah menanamkan nilai-nilai positif kepada kelima anaknya. Menurutku tidak ada salahnya ketika kita belajar dari orangtua, jika itu memang hal yang positif. 

#parentingantikorupsi #GakPakeKorupsi #PRUNG 

Senin, 23 November 2015

ASUS Zenfone 2 Laser, Smartphone 4G Performa Hebat Harga Bersahabat

21.15 0 Comments
Sumber: www.asus.com
Hari gini siapa sih yang tidak ingin punya gadget yang bisa mengerti keinginan kita. Ya, tentunya saja setiap orang menginginkan smartphone yang bisa memenuhi setiap kebutuhannya. Ponsel pintar yang dicari haruslah memiliki performa yang mumpuni.
ASUS Zenfone 2 Laser ialah jawaban dari kegelisahan para pecinta gadget yang hebat namun kadang kantong tak pernah bersahabat. ASUS memfasilitasi keinginan msyarakat yang begitu tinggi pada smartphone 4G yang berkualitas namun harga tidak membuat rekening terkuras.
Ada tiga varian dari ASUS Zenfone 2 Laser ini, yaitu ukuran 5 inci, 5,5 inci dan 6 inci. ASUS Zenfone 2 Laser juga memiliki fitur yang yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mulai dari sistem Android 5.0.2 Lollipop yang diperkuat prosesor quad-core hingga octa-core dari Qualcomm.
ASUS Zenfone 2 Laser juga dilengkapi dengan Gorilla Glass 4. Seperti yang sudah kita ketahui, Gorilla Glass 4 merupakan lapisan antigore terbaru dari Corning yang menawarkan daya tahan dua kali lebih baik ketika terjatuh. Tidak hanya itu, aplikasi yang satu ini mamu mereduksi kemungkinan layar pecah hingga mencapai 85% serta 2,5 kali lebih kuat dari lapisan Gorilla Glass 3.
ASUS Zenfone 2 Laser juga memberikan kenyamanan bagi pecinta streaming. Smartphone yang satu ini dilengkapi dengan Bluelight Filter. Itu artinya kita bisa dengan nyaman menikmati streaming dari YouTube dengan konektivitas data kecepatan tinggi 4G LTE. Ketika aplikasi ini diaktifkan, maka ia akan mengurangi warna biru pada layar dan akhirnya bisa menghasilkan warna yang lebih lembut. Kelebihan lain dari aplikasi ini ialah tidak akan membuat mata kita lelah, meskipun berlama-lama melihat ke layar.
Dengan namanya ASUS Zenfone 2 Laser, maka kelebihan yang paling menonjol ada pada kamera dari smartphone ini. Resolusi dari kamera utama ASUS Zenfone 2 Laser mencapat 13MP dengan lensa f/2.0 aperture dan mampu mengambil foto dengan resolusi 4128 x 3096 pixel. 
Tapi, tidak hanya itu saja yang menjadi kelebihan dari sisi kamera. ASUS Zenfone 2 Laser juga dilengkapi dengan zero shutter lag. Dengan fitur yang satu ini, kita tidak akan takut kehilangan momen tak terlupakan yang berlangsung cepat.
Dan tentu saja fitur Laser Auto Focus memperkuat kualitas dari kamera smartphone ASUS Zenfone 2 Laser ini. Dengan adanya fitur ini, kita akan diberikan kenyamanan untuk lebih cepat mencari fokus terhadap obyek foto hingga 0,03 detik, baik dekat maupun jauh. Laser Auto Focus juga membuat smartphone yang satu ini tidak hanya cepat namun juga tepat dalam mendapatkan obyek yang diinginkan, meskipun dalam kondisi kurang cahaya sekalipun.
Kelebihan dari kamera yang dimiliki ASUS Zenfone 2 Laser ialah mampu menangkap gambar dan video hingga 400% lebih terang meskipun dalam kondisi cahaya yang kurang terang. Hal ini karena adanya teknologi ASUS PixelMaster Camera. Dual LED (dual tone) flash yang dimiliki smartphone ini juga dapat menjadikan hasil foto rekaman lebih natural. Tidak hanya digunakan untuk mengambil foto saja, kamera ini pun mampu merekam video dengan FullHD dan kecepatannya mencapai 30 frame per detik.
Bagi penggemar selfie, ASUS Zenfone 2 Laser memberikan kenyamanan yang luar biasa. Resolusi kamera depannya mencapai 5MP dengan aperture f/2.0. Tidak hanya itu, sudutmya pun lebih besar 85o, sehingga menjadikan obyek yang ditangkap pun lebih banyak. Dan tentu saja kamera smartphone ini pun didukung dengan autofocus yang luar biasa.
Dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki tersebut, tidak berlebihan jika ASUS Zenfone 2 Laser menjadi jawaban dari keinginan konsumen. Kepuasan konsumen akan sangat terpenuhi dengan aplikasi yang disediakan oleh produk ASUS yang satu ini. ASUS Zenfone 2 Laser, smartphone 4G performa hebat harga bersahabat.

Rabu, 18 November 2015

Dengan Caranya Aku Dididik

14.09 0 Comments
Menjadi guru? Tentulah tidak sedikit orang yang menomorduakan profesi satu ini. Bahkan tak jarang, di beberapa perguruan tinggi, fakultas keguruan menjadi pilihan terakhir setelah pilihan lain tidak bisa terpenuhi.
Ironis memang, sosok yang sebenarnya memegang peranan penting dalam kemajuan suatu bangsa, didapat hanya karena keisengan dan bukan pilihan dari hati. Namun, tidak bisa dipungkiri hal itu memang benar-benar terjadi di negara ini. Sebagian orang masih memandang rendah dan meremehkan profesi mulia ini.
Namun, ditengah ironi yang terjadi di negeri ini, ternyata masih ada yang berpikiran berbeda. Pemikirannya ditanamkan kepada kelima anaknya, bahwa apapun pekerjaannya kelak, semua anaknya harus merasakan menjadi guru terlebih dahulu. Dia mendidik anak-anaknya untuk belajar mengajar sejak duduk di bangku SMP dan SMA. Menurutnya, setiap orang itu akan menjadi guru bagi dirinya dan keluarganya.
Sosok itu begitu kuat menginspirasi anak-anaknya untuk memilih jalan hidup sebagai seorang pendidik. Meskipun sosok itu bukanlah sosok yang kaya harta dari hasil mendidik murid-muridnya. Tapi, setidaknya dia sudah menanamkan kepada kelima anaknya untuk menjadi pribadi yang kaya hati dengan memilih jalan sebagai seorang pendidik.  
Sosok itu menjadi inspirasi bagi anak perempuan terakhirnya untuk menjadi seorang pendidik yang bisa senantiasa mengajar dengan ketulusan. Biarkan uang akan mengikuti, itulah nasihat yang selalu sang Ayah katakan. Dan kata-kata itulah yang terus menjadi pegangan bagi anak bungsunya ini.
Ya, dialah sosok ayah sekaligus guru bagiku. Aku yang dulu sempat memandang sebelah mata terhadap profesi guru, saat ini begitu mencintai profesi yang satu ini. Aku berpikir profesi guru ialah profesi yang tidak hanya mengandalkan kekuatan otak tapi juga hati.
Bagiku Bapak sudah sangat berjasa dalam mendidikku. Bukan hanya pendidikan tentang makna kehidupan yang memang semestinya diajarkan oleh seoarang ayah kepada anak-anaknya. Tapi juga, Bapak benar-benar guru dalam mendidik pendidikan umum.
Bapak yang sangat mencintai Bahasa Inggris menularkan kesukaannya itu kepada anak-anaknya, termasuk aku. Kami dididik untuk memahami dan mencintai bahasa asing. Dan beliaulah langsung yang mengajarkannya.
Aku begitu merasakan didikan yang luar biasa dari Bapak. Hampir setiap hari aku ‘dicekoki’ dengan bahasa asing. Dari Senin sampai Senin lagi, dari pagi sampai malam, aku ‘dipaksa’ untuk belajar bahasa asing yang satu ini.
 Dulu aku merasa Bapak itu begitu keras dan tidak ada toleransi sama sekali. Bahkan aku merasa bosan dan lelah ketika terus disuruh belajar Bahasa Inggris. Kadang, aku sering mencari-cari alasan untuk bolos belajar bersama Bapak.
Tapi, ternyata semua itu terasa hasilnya sekarang. Aku bisa merasakan banyak manfaat dari belajar Bahasa Inggris. Aku dengan mudah ditawari pekerjaan ini dan itu. Tidak hanya itu aku juga bisa berani mengembangkan lembaga bahasa Inggris yang dulu sempat dirintis oleh Bapak. Dari merintis ulang tempat les itu, aku mendapatkan kantong rezeki yang patut untuk disyukuri. Selain itu, impianku untuk bisa bertemu dengan orang-orang asing pun, dengan mudah bisa terwujud.

Bagiku, Bapak ialah pahlawan yang sangat berjasa dalam kehidupanku. Sosok seorang ayah dan guru yang senantiasa menginspirasi. Karena didikannya aku bisa seperti sekarang. Dengan caranya yang luar biasa aku merasakan hasil yang tak terkira dan tak bisa dilukiskan oleh kata. 
Foto:Pribadi

Tulisan dibuat untuk Lomba Menulis "Guruku Pahlawanku"