Kamis, 25 Agustus 2016

Menyapa Kota Karnaval

21.46 1 Comments
 
Sumber: www.jemberfashioncarnaval.com
Datanglah ke kota ini pada bulan Agustus, maka kita akan disuguhi dengan sajian karnaval yang unik dan menarik. Ya, Jember, selain dikenal dengan sebutan kota tembakau karena sebagai penghasil komoditas tembakau terbesar di Indonesia, juga dikenal dengan sebutan Kota Karnaval.
Mungki timbul pertanyaan, mengapa disebut sebagai kota karnaval? Karena di kota ini selalu diadakan Fashion Carnaval yang dikenal dengan Jember Fashion Carnaval (JFC) setiap tahunnya. JVC merupakan Fashion Carnaval terunik keempat dunia setelah Rio De Jenairo. Untuk tahun ini, Jember Fashion Carnaval (JFC) akan diselenggarakan mulai tanggal 24 – 28 Agustus. Tema yang diusung kali ini ialah Revival.
Kita akan disuguhi dengan pawai ribuan peserta dengan berbagai kostum yang uni. Arak-arakan akan berlangsung di sepanjang 3,6 Km yang dimulai dari alun-alun Jember. Berbagai awak media, baik dalam maupun luar, akan ikut serta mengabadikan momen yang luar biasa ini.
Jember Fashion Carnaval (JFC) menjadi icon bagi kota yang mendapat julukan kota tembakau ini. Di bulan ini, ribuan mata tertuju pada kota ini. Rasanya sangat rugi jika kita tidak bisa menyaksikan langsung keramaian JFC.
Tidak sulit untuk bisa menginjakkan kaki dan menikmati keindahan Kota Jember, sekaligus menyakiskan event yang bertaraf internasional ini. Kota Jember memiliki bandar udara yang dilalui oleh 2 maskapai penerbangan, Garuda Indonesia dan Susi Air. Garuda Indonesia melayani rute Jember – Surabaya dengan frekuensi penerbangan 10 kali dalam seminggu. Sedangkan Susi Air melayani rute Jember – Sumenep dengan frekuensi 1 kali dalam seminggu.
Untuk akses di kota Jembernya sendiri tidaklah sulit. Angkutan Kota (Lyn) senantiasa beroperasi setiap hari dari pagi hingga malam. Tidak hanya itu, fasilitas taksi pun tersedia di kota ini.
Jika kita mengunjungi kota ini, jangan lupa juga untuk mencoba makanan khas Jember, yaitu berbagai olahan tapi. Kita bisa mencoba suwar-suwir, prol tape, pia tape, brownies tape, dan dodol tape. Selain itu, ada satu makanan khas Jember lainnya, yaitu kedelai edamame.

Rasanya tidak rugi, jika kiat mengagendakan akhir pekan di minggu keempat bulan Agustus ini, untuk berkunjung ke Jember. Apalagi dengan adanya Airpaz, travelling menjadi lebih mudah. Kita tidak perlu lagi pusing-pusing mikirin bagaimana caranya membeli tiket pesawat. Airpaz hadir memberikan kemudahan. So, keep this chance, guys! Kota Karanaval menunggu kedatangan teman-teman semua. 
Sumber: www.ragamtempatwisata.com

Selasa, 16 Agustus 2016

Penghargaan, Tanda Cinta Tanpa Cela

20.56 0 Comments

Penghargaan bukan hanya sekedar kata atau kalimat. Tapi, ada sesuatu yang memiliki kekuatan untuk merubah ke arah yang lebih baik. Jangan pernah abaikan sebuah penghargaan karena akan ada satu keajaiban yang terjadi.
Penghargaan tak melulu harus berupa gantungan medali, tingginya piala atau limpahan hadiah. Penghargaan bisa saja hanya sebuah ucapan atau jabatan tangan dan mungkin sekedar rangkulan dan tepukan di bahu. Tapi, efek dari penghargaan itulah yang akan menjadikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.
Bagiku, penghargaan itu bagaikan suntikan semangat. Sebuah penghargaan yang aku dapatkan bisa menjadikan aku merasa ada dan diakui. Sejak kecil aku memang dibiasakan untuk selalu memberikan penghargaan sekecil apapun kepada orang lain. Dan begitu pun sebaliknya, aku pun merasakan kedua orangtuaku selalu memberikan penghargaan, meskipun apa yang aku lakukan hal yang tidak begitu besar. Dan, ketika aku selalu diberikan penghargaan, maka aku pun belajar untuk menghargai apa yang telah orang lain lakukan. Aku diajarkan arti sebuah usaha dan kerja keras.
 Habits itu ternyata terbawa sampai aku dewasa. Ketika aku sudah menjadi seorang guru, aku terapkan itu pada caraku mengajar. Aku selalu memberikan penghargaan kepada anak didikku. Usaha yang telah mereka lakukan untuk menjadi lebih baik, selalu aku berikan reward. Dan, itu sangat memberikan pengaruh yang luar biasa pada proses belajar mengajar.
Tidak hanya itu, sekarang, saat aku sudah diamanahi seorang malaikat kecil yang lucu, aku terapkan kebiasaan baik itu. Ketika si kecil sudah bisa melakukan sesuatu yang baik, aku puji dan juga berikan ciuman dan pelukan hangat. Selain itu, terkadang aku pun memberikan MPASI yang dengan menu khusus dan juga hadiah kecil lainnya sebagai reward.
Meskipun usianya baru 11 bulan, tapi aku ingin sejak dini ia sudah mengenal bagiamana menghargai orang lain. Untuk itulah aku didik ia dengan penuh penghargaan. Karena aku yakin, ketika ia dibesarkan dengan penuh penghargaan, maka ia pun kelak akan dengan mudah menghargai orang lain.
Aku dan suami sudah sepakat, kami ingin belajar untuk senantiasa bersikap memanusiakan manusia. Kami tidak pernah berpikir, kalau usia anak kami masih sangat kecil dan belum mengerti. Kami yakin, meskipun ia usianya belum genap 1 tahun, ia sudah merasakan bagaimana kami memperlakukannya. Ia sudah bisa melihat dan menyimpan memori ilmu menghargai, hanya saja ia belum bisa berbicara apa yang ia rasakan.
Sejatinya ketika kita memberikan penghargaan kepada orang lain, kita sedang mendapatkan penghargaan untuk diri kita. Kita sedang menyimpan deposit kebahagiaan dalam hati dan jiwa kita. Selain itu, kita juga sedang mengisi tanki cinta dalam hidup kita.
Aku yakin, sebuah penghargaan, sekecil apapun itu bisa mengubah hitam menjadi putih, bisa mengganti tangis menjadi tawa dan melebur sedih menjadi bahagia. Penghargaan itu memberi amunisi cinta untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Bagiku, penghargaan itu merupakan tanda cinta tanpa cela.  
Seperti halnya juga Sodexo, sesuai dengan tagline-nya “Quality of Life Services”, senantiasa memberikan penghargaan yang luar biasa kepada klien, baik itu perusahaan, penjual atau kita sebagai konsumen. Dengan misi globalnya selalu memberikan senyuman kepada semua orang, Sodexo memberikan pelayanan yang inovatif sebagai bukti penghargaan pada semua pihak. Bukti dari penghargaan yang luar biasa pada pelanggannya, Sodexo memberkan fasilitas voucher belanja sodexo yang terhubung dengan merchant sodexo yang jumlahnya tidak sedikit.


Jumat, 05 Agustus 2016

Semua Karena ASI

13.44 2 Comments

Menjadi ibu dari satu anak tentunya mengalami banyak cerita seru dalam mengurus si kecil. Kehadiran si kecil di tahun pertama pernikahanku membuat semua rasa bercampur menjadi satu. Tidak hanya itu, kelahiran si kecil yang masih berusia 8 bulan di kandungan pun menjadi kisah tersendiri yang sulit terlupakan.
Ya, ketika usia kehamilanku menginjak 8 bulan, aku mengalami pecah ketuban selama 2 hari. Awalnya, Dokter memberiku suntikan penguat paru-paru agar bayi bisa bertahan sampai 9 bulan dalam kandungan. Tapi, karena kondisi psikologisku sangat tertekan, bayi dalam kandungan beberapa kali tidak terdengar detak jantungnya, namun aku belum mengalami pembukaan sama sekali. Dan saat itu, aku mengalami sakit luar biasa di bagian perut. 
Tepat 2 jam setelah kejadian itu, aku langsung mengalami pembukaan sepuluh. Tiga orang dokter dan empat bidan langsung menanganiku saat itu juga. Ada banyak perkiraan para dokter. Mulai dari aku hanya bisa melahirkan dengan jalan operasi caesar. Selain itu, ada dua kemungkinan, ibu dan anak tidak akan selamat atau salah satu dari kami yang bisa bertahan. Tidak hanya itu, prediksi lainnya pun, kalaupun si bayi lahir, ia akan terlahir prematur dan perlu diinkubator. Aku dan suami hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Allah Swt.

Tapi, syukur alhamdulillah, tepat tanggal 7 September 2015 pukul 21.55 terdengar tangis nyaring malaikat kecilku. Ia lahir dengan selamat dan normal. Semua perkiraan dokter sama sekali tidak terbukti. Aku dan suami menangis bahagia penuh syukur.
Namun, ujian cinta tidak berakhir sampai disitu. Tepat ketika ia berusia 3 hari, kadar bilirubin berada dalam batas yang tidak seharusnya. Kami diberikan pilihan oleh dokter, apa mau diberikan tindakan dengan disinar atau diberikan terapi ASI dan berjemur. Akhirnya, aku dan suami memilih untuk mengambil pilihan kedua.
Sejak saat itu, aku dan suami mulai mengajak bicara si kecil. Setiap kali kami bisikkan agar si kecil mau menyusui setiap 1 jam sekali. Bahkan seringkali aku menyusui saat sedang mengajar les. Itu semua kami lakukan agar kadar bilirubinnya bisa normal.
Setelah 2 minggu, kami pun mengecek kembali kondisi si kecil. Alhamdulillah, kadar bilirubinnya sudah normal. Aku dan suami pun bisa bernapas lega. Sejak saat itu, aku pun benar-benar menjaga makanan agar ASI-ku bisa berlimpah, dan si kecil bisa mendapatkan ASI yang berkualitas.
Dari hari ke hari, pertumbuhan si kecil sangat luar biasa. Mulai dari fisik yang sehat. Di usianya yang mau menginjak 11 bulan, berat badannya mencapai 10,9 kg. Padahal berat badan lahirnya hanya 2,5 kg. Selain itu juga, kecerdasan si kecil pun sering kali membuat kami takjub. Ia sudah bisa mengingat beberapa kata dalam bahasa Inggris. Ketika aku menyebutkan nama benda dalam Bahasa Inggris, matanya langsung mencari benda yang aku sebutkan itu.

Hal lain yang patut kamu syukuri juga ialah setiap kali kami ajak untuk travelling, baik jarak dekat maupun jauh, ia sama sekali tidak pernah rewel. Malah sebaliknya, ia sangat menikmatinya. Terakhir, kami mengajaknya mudik dari Jember ke Bandung, alhamdulillah ia sehat dan tetap ceria di sepanjang perjalanan hingga sampai ke tempat tujuan dan kembali ke rumah.

Dengan hasil yang luar biasa itu, aku dan suami sepakat untuk tetap memberikan ASI tanpa bantuan susu formula hingga usianya genap 2 tahun. Apalagi aku bukanlah seorang ibu bekerja, jadi aku bisa lebih fokus untuk mencurahkan rasa cinta lewat aktivitas menyusui. Aku pun bersyukur, karena suamiku sangat memberikan perhatian penuh, sehingga aku merasa nyaman dan tenang saat memberikan ASI kepada si kecil. 
Bagiku, ASI adalah hadiah terindah untuk si kecil. Aku berharap semoga setiap tetesan ASI yang diminum menjadi syariat ia tumbuh menjadi anak yang sholeh, sehat, cerdas dan senantiasa menjadi penyejuk hati perekat cinta. Inilah caraku untuk bersyukur karena Allah Swt sudah memilihku untuk dititipi amanah terindah. 


Oya, di akhir tulisanku ini, aku ingin mengajak semua sahabat wanita yang memiliki bayi, jangan takut untuk menyusi. Di Pekan ASI Dunia yang jatuh pada tanggal 1 - 7 Agustus, kita sama-sama mengingatkan untuk kembali melihat fitrah kita sebagai seorang ibu. ASI bukan hanya sekedar tetesan air susu, tapi ada pesan cinta yang akan kita berikan untuk si kecil. Aktivitas menyusui bukan hanya pemenuhan kewajiban semata, tapi merupakan tanda cinta seorang ibu kepada anaknya.