Senin, 07 November 2016

365 Hari di Bumi Pendhalungan

19.57 0 Comments

Ketika pikir dibawa kembali ke tahun lalu. Saat pelukan dan tangisan menyatu mengiringi kepergian kami bertiga. Kami pikir kejadian perpisahan di stasiun hanya ada dalam film atau sinetron saja. Ternyata, kami merasakan momen tersebut, dimana kata sudah tak sanggup terucap lagi, hanya air mata yang sanggup menyampai makna.
Tak pernah aku bayangkan bisa hidup berjauhan dari orangtua dan keluarga besar. Tak terasa pula, sudah satu tahun aku tinggal di kota yang mendapat julukan Kota Tembakau, Jember. Saat ini, potongan puzzle cerita hidupku sedang berlatar di sini.
Aku tak pernah mengelak, jika seringkali ada rasa rindu yang menyapa. Bumi Pasundan bagiku tak hanya sekedar tempat kelahiran, namun ada cerita panjang menjemput impian sebagai pecinta kata dan bahasa. Tidak hanya itu, di Tanah Parahyangan, ada janji yang melangit terucap dan menjadi awal dari langkahku kini.
Tapi, di Bumi Pendhalungan ini, langkahku tak berarti terhenti. Ada dua sosok penguat yang terus menemani langkah ini. Ada seorang imam yang terus membimbing dan mendampingiku. Dan, tentu saja si kecil Azka, bagiku adalah penyemangat dan sekaligus sahabat.
Saat ini, biarlah aku bungkus rindu yang mendera dengan balutan doa tanpa jeda. Meski raga belum mampu bersua dengan kedua orangtua, tapi aku tak pernah lelah mendekap mereka dalam doa. Karena aku yakin, doa tak pernah mengenal jarak.
Dan, satu hal yang selalu kami tanamkan dalam alam bawah sadar, kisah kehidupan kami tak akan pernah selalu berlatar di sini. Kami masih memiliki banyak impian untuk menyapa dunia. Kami masih akan terus melangkah bersama menjemput impian-impian itu. Insya Allah...