Minggu, 11 Desember 2016

Pesan Cinta Dalam Sebuah Pustaka


Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Perpustakaan Kabupaten Jember. Meskipun tidak seluas dan selengkap perpustakaan di kota tempat tinggalku dulu, tapi menurutku tempat ini cukup representatif. Lokasi yang mudah diakses dan juga tempat yang cukup nyaman. Semua itu terbukti dari banyaknya pengunjung meskipun saat itu bertepatan dengan Hari Sabtu.
Perpustakaan Kabupaten Jember tidak hanya menyediakan fasilitas buku-buku dan bacaan saja, tapi ada ruangan yang dikhususkan untuk mengakses internet. Sebuah tempat yang sangat mendukung bagi para pecinta ilmu. Selain itu, pelayanannya yang sangat ramah membuat kita nyaman mengunjungi tempat ini.
Di kunjungan pertama, aku tertarik pada sebuah buku yang ada diantara jajaran buku-buku agama. “Kado Cinta untuk Muslimah”. Sekilas aku berikan review tentang buku yang luar biasa ini. Aku benar-benar beruntung, karena ada pesan cinta yang kutemukan dalam sebuah pustaka.



Kado Cinta untuk Muslimah



“Perempuan yang beruntung adalah perempuan yang berhasil mendapatkan seorang suami yang pertama-tama merasa dirinya adalah sahabat. Karena hal yang terpenting dalam pernikahan, menurut saya, adalah persahabatan.”

Sebuah kutipan dari buku yang ditulis oleh Ahmad Rofi’ Usmani ini benar-benar memiliki makna yang dalam. Tulisan yang mengawali berlembar-lembar kalimat penuh inspirasi dan motivasi bagi kaum hawa. Kata-kata penggugah di halaman-halaman awal sebelum kita masuk dalam telaga ilmu yang bermakna bagi muslimah.
Buku yang diterbitkan Penerbit Mizania tahun 2010 ini memiliki 379 halaman. Ada 4 bagian bahasan dalam buku ini. Bagian pertama berisi tentang kisah-kisah tentang cinta, pernikahan dan kebahagiaan. Penulis membahas berbagai fenomena yang terjadi masyarakat luas tentang ketiga hal tersebut. Ada banyak kisah yang disajikan tentang sikap seorang suami, istri dan seluk beluk dalam pernikahan.
Dalam bagian ini, ada satu kisah yang sangat familiar di telinga kita. Kisah seorang lelaki sholeh yang sudah terlanjur makan buah apel tanpa izin kepada pemiliknya terlebih dahulu. Karena merasa menyesal, ia mencari tahu siapa pemiliknya. Ia bertekad akan melakukan apapun agar si pemilik tidak akan mendakwanya di akherat kelak. Sebuah kejujuran yang merupakan buah dari kesholehan pun diberi ganjaran yang luar biasa oleh Allah. Ia diminta si pemilik kebun apel tersebut untuk menikahi anak gadisnya yang katanya bisu, tuli dan buta. Karena ia memang bertekad untuk menggugurkan dosanya, maka ia terima tawaran itu dengan ikhlas. Dan, ternyata, karena kesholehannya itu, ia mendapatkan seorang wanita sholehah yang memang bisu untuk membicarakan kejelekan orang lain, tuli untuk mendengar hal-hal yang dilarang oleh Allah, dan buta untuk melihat sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah.
Pada bagian kedua, penulis menyajikan kisah-kisah tentang keibuan dan kebijaksanaan bertindak. Ada banyak pembelajaran yang luar biasa bagi seorang wanita, baik itu bagi yang sudah menyandang predikat seorang ibu, maupun bagi mereka yang masih mempersiapkan untuk itu. Pembaca disuguhi banyak kisah tentang bagaimana bersikap cerdas dan bijak dalam menjalani tugas seorang ibu.
Pada bagian ketiga, ditulis tentang kisah-kisah seputar nilai-nilai luhur. Para muslimah diingatkan kembali tentang fitrahnya. Kita diajak untuk kembali melihat apa sebenarnya tugas dan kewajiban kita sebagai seorang muslimah.
Pada bagian terakhir, ada kisah-kisah seputar perjuangan dan arahan untuk menerima keimanan dan meniti jalan lurus. Di bagian ini, pembaca digiring untuk melihat kisah-kisah yang sebenarnya sering terjadi di masyarakat luas. Kisah-kisah yang membuat kita belajar banyak tentang arti dan makna sebuah keimanan.

Buku ini memiliki banyak sisi positif. Tulisan yang tidak menggurui, tapi tanpa kita sadari ada banyak pembelajaran yang kita dapatkan. Rasanya tidak berlebihan ketika mengatakan ini merupakan buku yang sangat inspiratif. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar