Minggu, 26 Maret 2017

Tanda Cinta untuk Suamiku

Sumber: www.elevenia.co.id

Dulu, antara aku dan dirinya tak saling mengenal. Ia yang berasal dari tanah Jawa dan aku USA alias Urang Sunda Asli. Entah keyakinan darimana, ia datang mengetuk pintu rumah meminta izin kepada bapakku untuk mengenalku.
Bagaikan kisah dalam cerpen atau novel. Hanya karena aku suka menulis dan ia telah membaca tulisan-tulisanku, ia dengan yakin berniat meminangku. Tak perlu menunggu waktu lama, dengan keyakinan yang datan begitu saja, aku menerimanya. Tak pernah sekalipun kami bertemu berdua dan mengobrol, apalagi jalan bareng. Kami memiliki cara sendiri untuk saling mengenal.
Meski hanya berjarak 2 minggu dari pertemuan dengan kedua orangtuaku, kami pun bertunangan. Tidak lama dari itu, hanya berselang 3 bulan, janji suci pun melangit disaksikan oleh wali dan para saksi. Sebuah janji yang kami jaga agar tak akan pernah ada celah untuk mengingkarinya.
Kini, perjalanan pernikahanku sudah hampir 3 tahun. Meski kami tak saling mengenal sebelumnya. Tapi, cinta memang tak pernah mengenal durasi dan kondisi. Bahkan, saat ini, kelekatan dan kenyamanan antara kami berdua begitu kuat. Caranya memperlakukanku, benar-benar membuatku bersyukur telah menjadi bagian hidupnya.  
Sejak awal menikah, ia tidak pernah absen memberikan kejutan di momen-momen spesial. Mulai dari awal aku dinyatakan hamil, ulang tahun, hingga setiap kali aku memenangkan lomba menulis. Selalu saja ada hadiah yang memang sedang aku impikan. Bahkan, aku seringkali tak sadar, ia sedang mencari tahu apa keinginanku. Dan, ia selalu berhasil membuat air mataku tak terbendung sebagai tanda bahagia.
Berbeda dengan diriku. Aku selalu saja gagal untuk memberikannya sesuatu yang sedang ia inginkan. Bukan karena aku tak sayang dan perhatian kepada suami, namun selalu saja ada halangan untuk memberikan tanda cinta kepadanya. Di hari ulang tahun yang berbarengan dengan lulus sidang, aku baru saja melahirkan anak pertama. Awalnya aku sudah merencanakan memberikan kejutan kecil. Tapi, semuanya batal karena aku baru pulang dari Rumah Sakit.
Di hari wisudanya pun, aku belum ditadirkan memiliki rezeki untuk membelikannya hadiah. Aku kadang merasa sedih ketika tidak bisa mengungkapkan rasa cinta kepadanya. Meskipun suamiku bilang, aku sudah memberikan hadiah di momen-momen istimewanya. Tapi, tetap saja, aku merasa impianku untuk memberikannya hadiah belum terwujud.
Akhir-akhir ini, suamiku sering sekali mengatakan ingin memiliki sepeda. Niatnya begitu kuat ingin menggunakan sepeda ke kantor, karena ia tak memiliki waktu untuk berolahraga dengan kesibukan kantor yang tak ada hentinya. Bahkan waktu weekend pun kadang harus digunakan untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Jadi, untuk mencari waktu berolahraga sangat sulit sekali.
Sejak awal tahun 2017, ia sudah mengatakan ingin sekali membeli sepeda. Aku sebenarnya langsung mengizinkan tanpa banyak alasan. Namun, suamiku tak juga membelinya. Aku tahu, ia harus menyimpan dulu keinginannya membeli sepeda, karena harus mendahulukan kepentinganku dan juga si kecil.
Aku merasa kasihan kepada suami karena ia harus memendam keinginannya demi anak dan isterinya. Padahal, aku tahu, ia bisa saja langsung mewujudkan impiannya itu. Tapi, selalu ia prioritaskan aku dan si kecil.
Sebagai rasa sayang, aku ingin sekali mewujudkan impiannya memiliki sepeda. Tidak hanya itu, hadiah sepeda ingin aku berikan sebagai ucapan terima kasih atas segala perhatian dan rasa sayangnya kepadaku dan si kecil. Selama ini, ia selalu mengorbankan dan mengenyampingkan kesenangan dirinya sendiri. Karena alasan itulah, aku ingin sekali memberikannya kejutan kecil ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar