Minggu, 16 Juli 2017

Lebih Dari Sekadar Perayaan

Giveaway Dunia Gairah


Lebaran. Satu kata, satu momen, tapi beribu atmosfer terasa. Setiap orang punya tafsir rasa sendiri-sendiri. Ada yang merindu pada sungkeman, ada yang menanti penganan khas lebaran, dan ada pula yang menunggu bertemu seluruh anggota keluarga besar.
Bagiku, lebaran berarti obat dari rasa rindu yang membuncah. Lebaran berarti bisa bertemu dengan kedua orangtua. Lebaran berarti mempertemukan buah hatiku dengan kakek dan neneknya di Bandung.

Ya, menjadi perantau dan berkesempatan pulang setahun sekali, tentulah selalu menanti momen lebaran. Jarak yang tidak bisa dikatakan dekat menjadi pertimbanganku dan suami untuk menjadwalkan pulang setiap Hari Raya. Meskipun di tahun ini, ada banyak ‘drama’ yang harus kami lewati.
Mulai dari permohonan cuti tambahan suamiku tidak disetujui, perubahan waktu cuti bersama yang membuat kami harus merubah jadwal keberangkatan, dan juga kondisiku yang kurang fit semingu sebelum mudik. Selain itu, aku dan suami juga harus membatalkan tiket kereta api yang sudah kami pesan 3 bulan lalu. Kami memutuskan untuk menggunakan pesawat karena beberapa pertimbangan, salah satunya adalah kondisi fisikku.
Ya, karena kodisi fisikku yang belum begitu pulih, aku pun mengalami dehidrasi di saat perjalanan mudik. Ditambah lagi, tubuh yang terbiasa cuaca panas di Bumi Pendhalungan harus merasakan dinginnya udara di Bumi Pasundan. Alhasil, aku harus bersilaturahmi kembali ke Rumah Sakit di hari ke-3 lebaran di Bandung.
Tapi, di luar itu semua, aku bersyukur karena penantian selama satu tahun untuk bertemu Mamah dan Bapak dan juga keluarga besar di Bandung, akhirnya terwujud. Bagiku, yang belum pernah tinggal berjauhan dengan kedua orangtua sebelum menikah, tentunya bukan hal yang mudah untuk hidup merantau. Kerinduan untuk berjumpa dengan kedua orangtua selalu saja membayangiku.
Usia mereka yang sudah semakin senja dan juga kondisi kesehatan yang sudah tidak seperti dulu, juga menjadi alasanku memutuskan untuk pulang di Hari Raya. Selain itu, keduanya memang menanti kehadiran buah hatiku. Selama satu tahun ini, mereka hanya bisa melihat dari layar ponsel saja.
Dan, ternyata, obat itu tak harus berupa pil atau kapsul. Kehadiran cucu kedelapannya ini mampu menjadi penyemangat sendiri. Sejak kedatangan cucunya, Bapak bisa makan enak dan juga tidur dengan pulas di malam hari. Padahal, menurut cerita Mamah, hal tersebut tidak seperti biasanya.

Beberapa kali terlontar ucapan kalau beliau merasa terhibur dan kagum dengan kecerdasan buah hatiku. Bagiku, itu bukan hanya sebatas pujian, tapi ada pesan tersirat. Aku sebagai ibunya harus bisa menjaga amanah yang luar biasa ini.
Di satu sisi, aku bahagia bisa melihat keceriaan di wajah Mamah dan Bapak ketika mereka bisa bermain dengan buah hatiku. Di sisi lain, ada ruang pikir tersendiri melihat kedekatan yang sudah terjalin selama seminggu. Dan, kami semua harus bisa menerima kenyataan yang ada, waktuku di Bandung tidak lama. Rasanya tidak tega ketika Mamah dan Bapak memastikan kapan kami akan kembali ke Jember. Aku paham mereka bukan sekadar bertanya, tapi ada keinginan tersirat agar kami bisa lebih lama di Bandung.

Seminggu berada di Bandung sebenarnya tidak cukup bagiku untuk melepas rindu. Mengobati rasa kangen akan kedua orangtua, keluarga besar dan juga atmosfer kota kembang yang selalu menebar kehangatan dalam dekapan cuaca dingin. Rasanya baru saja menapakkan kaki di tanah priangan dan sekarang harus segera kembali ke tanah rantau.
Tapi, kembali lagi, aku harus bersyukur, perjumpaan yang singkat ini bisa memberi warna tersendiri, baik itu bagiku, kedua orangtuaku dan juga keluarga besar. Bagi kedua orangtuaku, kehadiran si kecil Azka bisa memberikan keceriaan dan kebahagian bagi mereka. Dan, bagiku, semangat untuk terus menemani tumbuh kembang buah hati semakin bertambah dengan pesan yang kedua orangtuaku titipkan. Sebuah amanah cinta dari seorang kakek yang menginginkan cucunya menjadi seorang hafidz.

Di lebaran kali ini, aku hanya hitungan hari saja berjumpa dengan kedua orangtua, keempat kakakku dan juga keluarga besar. Namun, setidaknya ada suntikan semangat dan obat rindu dari mereka. Dan, momen inilah yang tidak akan pernah aku lupakan. Karena itulah, bagiku, lebaran bukan hanya sekadar pulang atau sebuah perayaan semata, tapi ada penawar rindu yang tak bisa aku dapatkan dimanapun.

Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway 1 Tahun Dunia Gairah (www.pritahw.com) . 


1 komentar:

  1. Ini mb Intan yg di Bumi Kaliwates ya mbak? Wah, bs inbox aku nomor WA nya lagi ya mbak, utk diundang di grup Blogger Jbr :) Btw, lebaran selalu menyisakan hikmah yg berbeda ya. Makasi udh ikutan GA ku mb, gudlak^^

    BalasHapus