Rabu, 03 Januari 2018

Semua Karena Mamah



Mamah, begitulah aku memanggilnya. Sosok yang memiliki arti penting dalam hidupku. Pribadi yang memiliki hati seluas samudera. Tak pernah banyak bicara, namun perilakunya sangat memberi teladan bagi anak-anaknya. Tak pernah aku mendengar keluh kesah meski kadang cerita hidupnya tak seindah yang diharapkan.

Bagiku, terlahir dari rahimnya adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Dibesarkan dalam buaian dan perhatian penuh cinta merupakan kisah terindah dalam hidupku. Menjadi bagian dari cerita hidupnya membuatku belajar banyak tentang apa itu rasa syukur, cinta tulus dan kesederhanaan.

Sebagai anak bungsu, memang sudah bukan sebuah keanehan jika aku sangat dekat dengan Mamah. Apalagi penyakit yang aku idap sejak kecil membuatku mendapat perhatian ekstra dari kedua orangtuaku, terutama mamah. Karena penyakitku ini juga, aku menjadi lebih sering berada di rumah. Bahkan dari satu bulan saja, aku bisa izin tidak masuk sekolah selama seminggu bahkan lebih.

Awalnya aku merasa kehilangan semangat dan tidak berani punya cita-cita. Pikirku, jangankan untuk meraih impian yang tinggi, aku bahkan akan ketinggalan pelajaran jauh dibanding teman-temanku. Tidak hanya itu, dokter pun mengatakan kalau aku tidak bisasembuh total dari sakitku. Dan, pernyataan itu membuatku tumbuh menjad pribadi yang pendiam, takut untuk bermimpi dan tidak berani mencoba.

Tapi, aku bersyukur karena memiliki seorang ibu yang luar biasa. Mamah tidak pernah lelah memberikan semangat agar aku bisa yakin akan kesembuhanku. Mamah juga tidak pernah merasa bosan untuk menemaniku belajar ketika aku harus izin dari sekolah. Mamah mengatakan kalau aku bisa lebih baik dari teman-temanku dan aku juga bisa meraih apa yang aku inginkan.

Apa yang Mamah katakan itu benar-benar terjadi. Aku berangsur-angsur membaik dan lupa dengan rasa sakitku. Aku juga bisa mendapatkan peringkat bagus di sekolah. Tidak hanya itu, aku juga selalu mewakili sekolah untuk mengikuti lomba mengarang dan membaca cepat.

Ketika aku mulai tumbuh dewasa pun, impian demi impian bisa aku raih. Amanah-amanah pekerjaan yang sesuai dengan hobi pun terus berdatangan. Bahkan aku sampai kebingungan mencari waktu lagi untuk memenuhi permintaan. Aku juga bisa mewujudkan impian untuk berbagi inspirasi lewat tulisan. Sebuah perwujudan mimpi yang dulu aku pikir tak mungkin aku capai.

Kalau ditanya siapa yang paling berjasa atas semua ini? Jawabannya, Mamah. Beliaulah yang telah membangunkan tidur panjangku. Beliaulah dokter sebenarnya yang tak pernah lelah merawatku ketika aku harus terbaring lemah. Beliaulah motivator luar biasa yang selalu memberikan suntikan semangat dan virus positif untuk yakin menjemput setiap impian.


Bagiku, mamahlah yang paling berjasa dalam hidupku. Dengan doa, motivasi dan juga ketelatetan Mamah mengurusiku, aku bisa meraih apa yang aku impikan. Apa yang awalnya aku pikir tidak mungkin, akhirnya bisa aku dapatkan. Ya, semua ini karena mamahku yang hebat dan luar biasa.  


Saliha Blog Competition

Tidak ada komentar:

Posting Komentar