Jumat, 30 November 2018

Apa Barang Koleksi Pribadi Itu Abadi?

21.50 0 Comments



Barang koleksi? Kadang suka bingung kalau ditanya apa barang koleksi pribadi saya. Saya tuh bukan tipe orang yang kerajinan ngumpulin sesuatu. Dulu waktu masih pakai putih merah dan putih biru, suka banget ngumpulin aksesoris rambut. Tapi itu pun nggak bertahan lama, karena tiap ada yang minta langsung dikasih atau biasanya berdalih pinjam namun nggak pernah kembali.

Koleksi benda lain? Hmmm… Memang saya tuh nggak ada bakat suka shopping atau pun sekadar window shopping merhatiin barang-barang yang lucu atau lagi ngetrend. Kalau pun saya harus ke tempat perbelanjaan, ya ada yang dibutuhkan, setelah itu pulang. Saya juga nggak bisa investasiin waktu buat menjaga atau merawat benda, seandainya saya mengoleksi barang.


Sekarang pun setelah menikah, ternyata saya dan suami punya kebiasaan yang sama, paling nggak suka numpuk barang. Apalagi ada dua krucil yang membutuhkan space bermain yang lebih luas. Kita tuh lebih nyaman kalau rumah itu nggak sumpek dengan barang-barang.

Jangankan barang-barang unik atau lucu, mau itu pakaian, sepatu atau tas, kalau dirasa sudah penuh di lemari, ya lebih baik diberikan ke orang lain. Kadang saya juga berpikir, kok saya nggak seperti kebanyakan emak-emak lain yang suka mengoleksi tas, sepatu, scarf, atau peralatan makan dari plastik yang bermerek terkenal itu? Ah, tapi sudahlah. Setiap orang kan punya jalan hidup masing-masing. #Apasih J

Terus, apa saya nih tipe orang yang flat tanpa kesukaan dan hobi apapun? Ehm… Nggak segitunya juga kali.  Tapi, masalahnya bagi saya, barang yang pantas dikoleksi itu harus abadi. Pertanyaannya, emangnya ada ya? Bukankah yang namanya barang, pasti ada batas waktu? Pastilah suatu saat akan mengalami kerusakan dimakan waktu.

Ehmm… seiring berjalannya waktu, saya pun menemukan apa yang seharusnya saya koleksi. Benda yang tidak hanya membuat saya senang, tapi juga akan membuat saya lebih berkembang. Benda ini pun akan bisa saya wariskan kepada anak cucu. Mungkin bukan fisiknya, tapi makna yang tersimpan dalam benda tersebut.

Buku. Ya, barang satu ini merupakan benda wajib ada di rumah, sejak saya kecil. Pendidikan keluarga pun membuat saya terbiasa bercengkerama dengan buku. Rasanya ada yang kurang kalau sehari tidak menyapanya.



Ya, kalau kebiasaan membeli buku sih sudah terpatri sejak dulu. Sejak saya sudah bisa menjemput rezeki dengan kaki sendiri, saya selalu investasikan sebagian uang untuk beli 1 sampai 2 buku setiap bulannya. Membeli buku menjadi hal yang wajib, apalagi kalau ada penulis favorit mengeluarkan karya baru.

Dan, ternyata setelah menikah kebiasaan itu masih bisa tetap terjaga. Saya bersyukur karena punya suami yang memiliki kebiasaan yang sama. Lucunya lagi, kita baru ngeh kalau banyak koleksi buku yang sama. Bahkan belum lama ini, kami sortir ternyata hampir 1 kardus buku dengan judul yang sama.



Nah, jadi kalau ditanya, apa saya punya barang koleksi? Ya, bagi saya buku-buku itu koleksi pribadi saya. Apa itu bisa dibilang koleksi yang abadi? Mungkin ya. Abadi di sini bukan fisiknya, tapi ilmu dan pengetahuan yang sudah saya dapatkan dari buku bisa terus membersamai kita, bahkan bisa kita tularkan kepada anak cucu. Artinya, akan ada efek positif yang panjang ketika saya memutuskan untuk mengoleksi buku, dan tentu saja membaca dan memahaminya. Karena bagi saya, mengoleksi buku sama dengan menginvestasikan dan mempersiapkan masa depan.


Kamis, 29 November 2018

5 Buku Keren Versi Intan Daswan

21.00 0 Comments



“A good book is a good friend.”
Pernah mendengar statement itu? Sepertinya ungkapan tersebut benar pake banget? Ya, bagi saya buku itu sahabat paling baik dan juga paling jujur. Ia bisa mengubah pola pikir dan hidup saya tanpa saya merasa digurui.

Bagi saya, membaca buku itu sebuah candu. Sepertinya ada sesuatu yang kurang ketika tidak membaca buku. Membaca buku juga bisa menjai terapi. Dan, bagi seseorang yang hobi menulis, membaca itu sebuah keharusan. Karena buku itu bagaikan multivitamin yang bisa membuat tulisan kita jauh lebih berbobot.

Diantara banyak buku yang saya baca, ada 5 buku yang membuat mata lahir dan batin saya terbuka lebar. Lima buku yang benar-benar inspiratif dan sarat ilmu. Apa saja sih bukunya? Ini dia kelima buku yang super keren versi Intan Daswan:

1.        Ubah Lelah Jadi Lillah



Buku yang ditulis Dwi Suwiknyo ini membuat kita sebagai pembaca seperti terbangunkan dari tidur lama. Kita diingatkan kembali tentang tujuan hidup yang hakiki.

Penulis dengan caranya menyampaikan sesuatu yang berat menjadi lebih mudah dicerna oleh pembaca. Pembaca dibawa untuk memahami bagaimana seharusnya kita berperilaku sebagai seorang hamba. Sebenarnya ada banyak ayat yang disampaikan dalam buku ini, tapi dengan penyajian dan penyampaian yang dikemas berbeda, menjadikan buku tetap terasa ringan untuk dibaca.

Buku ini memiliki 491 halaman dan diterbitkan oleh Penerbit Genta Hidayah. Lay out bukunya asyik dan dengan warna yang tidak monoton. Oya, buku ini juga termasuk Best Seller Book, lho.

2.        Quantum Ikhlas



Siapa yang tidak tahu buku fenomenal ini. Erbe Sentanu, sang penulis yang berhasil memaparkan dengan sangat jelas tentang teknologi aktivasi kekuatan hati. Kita akan belajar tentang the power of feeling.

Buku setebal 236 ini berisis tentang bagimana mengukur dan mengelola potensi jiwa secara digital untuk mencapai kesuksesan dunia akhirat. Buku keluaran Elex Media Kompetindo ini memang pilihan yang tepat bagi siapapun yang ingin melejitkan potensi diri. Ini juga termasuk buku best seller, keren kan?

3.        Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk



Sejak baca judulnya di medsos, saya sudah penasaran ingin menikmati buku ini. Dan, ketika membuka halaman demi halaman, ternyata tulisannya nendang abis. Menohok dan bikin diri ini bermuhasabah.

Ahmad Rifa’i Rif’an sangat cerdas meramu judul dan isi buku ini. Judulnya bikin menggelitik dan membuat siapapun ingin membacanya. Buku keluaran Penerbit Quanta ini memilki 358 halaman. Tapi, dijamin kita sebagi pembaca tidak akan merasa bosan membacanya karena ukuran huruf juga lebih besar dan warna yang tidak seperti biasanya. Satu lagi, gaya bahasa penulisnya luar biasa, keren pokoknya.

4.        I Am Sarahza



Ah, ini novel juara deh. Hanum Rais berhasil meramu kisah hidupnya dengan sangat apik. Ia mampu membuat pembaca ikut ke dalam cerita yang tertuang dalam novel ini. Perjuangannya mendapatkan seorang anak memberikan banyak pelajaran berharga bagi pembaca.

Novel 368 halaman ini membuat perasaan pembaca campur aduk. Meskipun tangis lebih banyak menyapa dengan membaca novel ini. Kita juga secara tidak langsung belajar bagaimana proses panjang mendapatkan anak bagi pasangan yang diberikan cobaan kesulitan mendapatkan keturunan. Inti dari buku ini ialah belajar ikhlas dan mengembalikan semua urusan kepada Allah.

Novel yang diterbitkan oleh Penerbit Republika ini memiliki 368 halaman. Untuk ukuran novel, ketebalannya cukup, tidak terlalu tebal. Oya, bagi orang-orang yang ngga suka dan nggak bisa baca novel, saya yakin novel ini pasti akan membuat siapapun bisa menikmatinya. Gaya bahasa seorang Hanum Rais memang tidak dapat diragukan lagi dalam mengolah kata dan bahasa.

5.        Journey to Andalusia



Buku keren satu ini asyik sekali dibaca. Kita jadi tahu dan bahkan merasakan seakan-akan ikut bertualang di Negari penuh kisah ini.

Penulisnya, Marfuah Panji Astuti berhasil memang sangat apik menyuguhkan pengalaman pribadinya berkeliling di Eropa. Tidak hanya itu, kita belajar banyak tentang jejak sejarah Islam di bumi Eropa.

Bukunya juga tidak terlalu tebal hanya 190 halaman. Diterbitkan oleh BIP Kelompok Gramedia. Journey to Andalusia memang bukan buku pertama yang membahas tentang jejak sejarah Islam di Eropa. Tapi dengan penyajian yang cerdas, esensi yang akan disampaikan masih benar-benar terasa.

Itulah 5 buku yang wajib dibaca, menurut saya lho. Tapi, saya jamin deh, akan ada banyak perubahan positif yang bisa kita dapatkan setelah membaca kelima buku tersebut. Yakin banget tidak akan sampai nyesel baca kelima buku itu. So, nunggu apa lagi? Baca deh kelima buku keren itu, ok!

Rabu, 28 November 2018

5 Blog favorit Versi Intan Daswan

19.58 4 Comments



Who is my favourite blogger? Hmmm… Ada banyak blogger inspiratif yang sudah memberikan inspirasi dalam hidup saya. Tapi dari sekian banyak blogger keren, ada 5 blogger yang bikin saya iri positif. Pengen tahu siapa aja blogger inspiratif versi Intan Daswan? Taraaa… Ini dia kelima blogger itu:
1.        www.adaresensi.com
Kalau tulisan suhu sih percaya abis. Entah kenapa saya tuh suka banget sama gaya tulisannya Mbak Eno. Bukan hanya di blog, tapi saya punya beberapa bukunya juga, termasuk buku buat anak saya.

Oya, alasan lain saya sering berkunjung ke blognya Mbak Eno ini karena selalu update info lomba juga. Eh, tapi akhir-akhir ini nggak ada ya? (Mungkin lagi banyak job kali ya? Hehehe… ). Jujur saja, sebagai blogger newbie, saya sangat terbantu dengan adanya info lomba yang Mbak Eno share di blognya.

2.        www.diahdidi.com
Wah, ini sih blog yang bantu banget buat mamah muda seperti saya (Don’t ask my age, ok! Heheh…). Banyak banget inspirasi masakan yang bisa saya coba. Cara share tulisannya juga asyik. Dan, yang terpenting resep-resep yang dibagikan itu nggak terlalu sulit untuk dicoba.

3.        www.risalahhusna.com
Ah, tulisan ibu muda yang tetap aktif meskipun sekarang lagi hamil lagi ini, memang keren abis. Tulisannya renyah, enak dibaca. Selain itu, banyak ilmu dan pengetahuan baru yang didapat kalau baca tulisan Mbak cantik ini.

4.        www.idatahmidah.com
Saya tuh nggak hanya suka dengan tulisan dari ibu luar biasa ini. Tapi, saya juga belajar bagaimana semangatnya untuk menjalani passion menulisnya. Meksipun beliau punya 5 putra-putri (kata info dari bio blognya hehe… ), tapi konsistensi menulisnya patut diacungi jempol. Pokoknya, baik blog atau orangnya benar-benar inspiratif.

5.        www.reyneraea.com
Sebenarnya saya baru mengenal blog ini. Tapi, ketika mengunjungi blognya, asyik juga isinya dan gaya bahasanya. Oya, yang paling saya suka sih ketika Mbak Rey (eh, benar nggak sih panggilannya? #SokTahuBangetGue hehehe…) membagikan postingan tentang cara menaikkan DA PA versi beliau. Thanks a lot, Mbak. Saya berusaha untuk ikutin tipsnya lho hehehe…

Itu dia kelima blogger ketje yang udah berhasil membuat saya terbangun dan semangat untuk terus ngeblog. Kalau ketemu mereka (sebagian udah pernah sih, tapi bukan acara blogger hehe…), rasanya pengen ucapin makasih dan minta nularin ilmunya.  Ah, semoga saya bisa belajar banyak dari mereka.  

Selasa, 27 November 2018

5 Barang Wajib Ada Di Tas

21.40 2 Comments



Apa aja sih yang ada di dalam tas seorang Intan Daswan? Kosmetik? Gadget? Atau mungkin ada benda lain?

Hmmm… pas zaman masih single available, 5 benda yang wajib bin kudu saya bawa itu:
1.        Notebook
2.        Buku Kecil plus pulpen
3.        HP
4.        Buku Bacaan plus Quran
5.        Dompet

Sebenarnya tidak hanya lima benda itu sih. Saya tuh orangnya well-prepared. Banyak yang bilang kalau tas saya itu nggak beda jauh dengan kantong ajaib Doraemon. Mulai dari buku sampai tissue ada di tas saya. Tapi, jangan cari kosmetik di tas saya ya hehe… (cewek macam apa aku ini?).

Itu kalau dulu sebelum menikah. Nah, kalau setelah menikah, gimana? Nggak jauh beda atau beda banget?

Hmmm… Kalau boleh jujur, beda banget. Sekarang saya nggak pake tas ransel atau tas cewek banget. Saat ini, tas yang paling nyaman dan sesuai kebutuhan itu, tas bayi hehehe…

Ya, karena jarak anak pertama dan kedua tidak terlalu jauh, jadi tas yang paling bersahabat ya tas bayi. Terus, isinya?

Kalau ditanya apa sih 5 benda wajib yang harus ada di tas? Ya, seperti kebanyakan emak-emak. Kelima benda itu:
1.        Diaper
Ini benda yang sangat penting kalau bepergian. Alamat nggak tenang kalau sampai diaper ketinggalan. Kan besi beli? Ya, kalau pas dekat minimarket dan kedua anaknya bisa diajak kompromi, kalau lagi nggak sabaran? Bisa jadi bad mood tuh sepanjang perjalanan.

2.        Tissue basah dan kering
Ini juga penting. Selain buat persiapan kalau anak kedua saya BAB atau ganti diaper. Tissue juga menjadi wajib ketika anak pertama habis makan atau ngemil.

Sebenarnya bukan hanya buat anaknya saja. Suami saya itu orangnya kan auto bersih, jadi pasti sebelum berangkat kemanapun selalu tanya, “Neng, bawa tissue, kan?”. Jadi, bagi saya membawa tissue basah dan kering itu sebuah keharusan.

3.        Selimut Bayi
Ini benda yang sangat penting saat anak kedua saya sudah menginjak usia 3 bulan. Berat badannya yang semakin bertambah, membuat emaknya nggak kuat gendong lama-lama. Selimut bayi ini bisa dual fungsi. Kalau pas lagi di perjalanan bisa jadi selimut, dan pas di tempat yang kita tuju bisa dijadikan alas dia buat tidur.

4.        Dompet
Ini sih penting juga. Kalau ada pemeriksaan KTP, kan berabe ntar kena razia. Tapi, kalau boleh jujur, setelah menikah saya kadang nggak pernah terlalu mikirin dompet. Apalagi saya kalau kelar selalu bareng suami, dan pastinya semua kebutuhan juga sudah ditanggung suami. Jadi, paling bawa tuh buat jaga-jaga dan plus bawa kartu-kartu yang penting aja.
  
5.        HP
Kayaknya sebagai bagian dari kaum yang hidup di era digital, benda yang satu ini menjadi barang yang paling wajib dibawa. Kalau saya pribadi sering merasa ada yang hilang ketika nggak bawa HP. Sebenarnya bukan karena saya diperbudah sama HP. Mungkin lebih tepatnya benda ini memang useful banget di zaman sekarang. Katakanlah kita bisa melakukan semua hal, hanya dengan menggerakkan jari di atas HP. Dari mulai naik kendaraan sampai bisaya makan pun semua tinggal geser dan klik di HP.

Apalagi bagi saya yang punya passion di dunia menulis, HP itu seperti jiwa kedua. Saya bisa mengetikkan inspirasi yang tiba-tiba menyapa sebelum saya tuangkan atau racik kembali di laptop. Selain itu, fasilitas kamera dan video pun menjadi sangat penting untuk mengabadikan momen sebagai penunjang tulisan saya

Itulah 5 benda yang semenjak jadi emak-emak, wajib dibawa. Perbedaannya sangat jelas kan saat masih single dan setelah jadi emak-emak? Tas bayi jauh lebih penting dan berguna daripada tas wanita yang branded. Saat ini yang terpenting nyaman saat bepergian. Nyaman untuk dua anak hebat dan juga buat saya pribadi. 

Senin, 26 November 2018

5 Tempat Makan Favorit Versi Intan Daswan

21.57 0 Comments


“Wah, kok antri banget. Kita harus nyoba nih.”
“Neng, tadi Mas diajak makan di tempat baru. Nanti pokoknya kita harus coba sama-sama.”

Setelah menikah saya tertular suami menjadi aktivis kuliner hehehe… Tapi, lebih tepatnya sih kita emang punya hobi yang sama. Godaan untuk mencoba kuliner baru itu memang susah dihilangkan. Antrian panjang sebuah tempat jualan makanan menjadi syarat untuk mencobanya. Tidak perlu yang mewah dan mahal, cukup satu syaratnya, ramai pengunjung.

Bagi saya yang punya lidah sunda banget tuh nggak mudah lho mencoba kuliner khas tanah jawa. Bahkan pertama kali diajak suami pulang kampung, saya merasa tersiksa ketika harus mampir di tempat makan. Apapun makanannya, minumnya pasti teh manis. Alhasil, si setengah perjalanan, perut mulai tidak bisa bersahabat. Sejak kejadian itu, saya selalu memilih memesan air mineral.

Tapi, itu dulu, sekarang sih lidah saya sudah sangat bersahabat dengan makanan dan minuman khas tanah Jawa. Mungkin karena suami getol banget mengajak ke tempat-tempat makan yang khas Jawa Timuran. Maklum suami saya kan aktivitis kuliner dari sejak zaman kuliah dulu hehehe…

Nah, sejak menjejakkan kaki di Bumi Pendhalungan ini, saya memiliki beberapa tempat makan favorit. Sebenarnya sih lebih ke makanannya yang juara dan nggak bisa terlupakan. Pengen tahu apa aja sih 5 tempat makanan favorit versi Intan Daswan? Let’s check it out!

1.        Soto Lamongan Rambipuji
Ini makanan yang pertama kali bisa bersahabat di lidah saya. Ada beberapa varian soto di tempat ini. Tapi, saya dan suami selalu memilih soto daging.

Soto Lamongan Rambipuji, khususnya soto daging bakalan membuat lidah dan perut berebut untuk mencicipinya. Bagi pecinta makanan berkuah, kayaknya harus bin wajib coba soto ini. Kuahnya yang panas dicampur nasi dan ditaburi serbuk koya yang khas. Oya, ditambah sambal yang banyak dan perasan jeruk nipis, wah rasanya bikin lidah bergoyang deh.

Harganya? Tenang kalau masalah harga sih sangat bersahabat. Porsinya pun sangat pas, nggak terlalu banyak dan juga sedikit.

Tempatnya dimana? Soto Lamongan ini ada di daerah Rambipuji. Tepatnya di Jalan Dharmawangsa, Krajan Lor, Rambigundam, Rambipuji, Jember. Oya, Soto Lamongan Rambipuji pun sekarang buka cabang di Jalan Trunojoyo, pas depan Golden Market, Jember.

2.        Pecel Pincuk Garahan
Ini dia juaranya pecel. Pertama kali nyoba langsung jatuh cinta dan pengen menikmatinya lagi. Campuran sayuran dan bumbu kacang yang pas membuat rasanya endes surendes.

Kita juga bisa menambahkan lauk pauk sesuai keinginan kita, ada dendeng, telur, ayam dan yang lainnya. Oya, ditambah dengan peyek tambah nikmat pokoknya.

Untuk harganya pun sangat pas di kantong lho. Dan, yang paling bikin betah tuh tempat makannya. Meskipun ada di pinggir jalan, tapi udaranya cukup dingin karena di sepanjang jalan tersebut ada hutan pinus.

Oya, namanya juga Pecel Pincuk Garahan, jadi tempatnya ya di sepanjang jalan Garahan, Silo. Tepatnya jalur menuju Banyuwangi. Pokoknya kita bakalan menemukan penjual pencel pincuk di sepanjang jalur tersebut.

3.        Bakso Kabut Bu Juhairiyah
Sebagai pecinta bakso, menurut saya ini bakso juara banget deh. Dagingnya berasa banget, baksonya lembut dan kuahnya bikin ngiler deh. Apalagi kalau kita kasih sambal yang banyak, ah nikmatnya nggak bisa dijelaskan sama kata-kata deh.

Harga satu porsinya pun masih masuk akal, kok. Terus ada banyak pilihan baksonya juga lho. Ada bakso kabut, bakso tulangan, bakso sumsum, bakso kerikil dan bakso beranak. Ada juga pilihan bakso malang.

Tempatnya memang agak jauh dari kota, tapi lumayan antri nih tempat makan. Pokoknya jangan datang pas jam makan siang, bisa-bisa perut udah nggak bisa diajak kompromi gara-gara ngantri lama. Alamat lengkapnya ada di Jalan Rasamala II, Darungan, Kemuning Lor, Arjasa, Jember.

4.        Gado-gado Pak Sugiono
Untuk lidah sunda mungkin terbiasa dengan yang namanya kupat tahu. Nah, menurut saya, gado-gado ini tampilannya tidak beda jauh dengan itu. Meskipun untuk gado-gado lebih banyak isiannya.

Sebenarnya saya sudah mencoba beberapa gado-gado di Jember ini, tapi yang pas di lidah ya cuman gado-gado Pak Sugiono ini. Bumbu kacangnya nggak bikin eneg. Pokoknya enak pake banget deh.

Harganya sangat harga mahasiswa sekali lho. Apalagi dengan porsi yang lumayan banyak, ah bikin perut kosong langsung terisi penuh deh. Nyesel deh kalau sampai nggak nyobain gado-gado Pak Sugiono.

Pengen tahu alamatnya? Ada di Jalan Manggis No, 18 Krajan, Jember Lor, Patrang.



5.        Cilok Sanjaya Pasar Pelita
Nah, ini sih makanan wajib dibeli saya dan suami kalau pas weekend. Rasanya ada yang kurang kalau nggak makan Cilok Sanjaya Pasar Pelita. Pokoknya kalau pas ke pasar, tujuan utama pasti nyari penjual cilok ini.

Ya, cilok ini nggak dijual di tempat khusus, penjualnya hanya menggunakan sepeda motor dan mangkal di dekat Masjid Pasar Pelita. Bapak penjualnya agak gemuk. Biasanya ditemani sama istrinya juga.

Oya, kalau mau beli cilok di sini harus kuat mental. Bapak penjualnya bakalan nyuruh kita untuk membumbui sendiri cilok pesanan kita, apalagi kalau antrian mulai panjang. Tapi, bapak penjualnya baik kok, kalau kita minta ditambahai ceker atau gajih (lemak sapi) pasti dikasih.

Harganya ya standard harga cilok, dari mulai 500 rupiah sampai 5.000. Oya, jangan berpikir ini cilok-cilok murahan biasa lho. Ini tuh cilok rasa baksa. Pokoknya kalau sudah nyobain sekali, pasti ketagihan.

Itu dia 5 tempat makan plus makanan favorit di Jember versi Intan Daswan. Kalau teman-teman berkunjung ke Jember, cobain deh, pasti nggak bakalan nyesel. Ayo eksplor kuliner Jember yang bakalan bikin ketagihan.


Minggu, 25 November 2018

5 Fakta Tentang Saya

21.06 6 Comments



Seberapa kenal kalian dengan saya sih? Mungkin ada sudah sangat mengenal saya, tapi ada juga yang hanya sepintas menilai saya. Ada yang menilai A dan ada yang menilai B. Itu sih terserah kalian mau menilai dari sudut mana. That’s your business.

Tapi, ada 5 fakta tentang saya yang mungkin belum pada tahu nih. Mau tahu nggak? Ya, mumpung saya belum jadi orang terkenal, saya bagi nih di sini. (Emang penting ya, hahaha…). Ya, siapa tahu ada yang penasaran, nanti kalau kalian jadi kepikiran kan saya nggak enak, apalagi kalau sampai stalking akun gossip hehe… (#Apasih). Apa aja sih 5 fakta tentang Intan Daswan? Taraaa… Ini dia:

1.        Introvert namun terkadang belajar menjadi ekstrovert
Saya itu sebenarnya sangat-sangat introvert. Saya memang tipe orang yang lebih suka dengan kondisi yang tidak terlalu ramai.  Saya nggak suka terlalu banyak bicara kalau memang itu tidak perlu untuk dibicarakan.

Tapi, satu hal yang perlu digarisbawahi meskipun saya introvert, saya belajar untuk bisa berkomunikasi dengan semua umur karena memang dulu tuntutan profesi juga. Saya harus berhadapan dengan anak-anak, remaja bahkan orang yang usianya jauh lebih tua daripada saya setiap harinya. Saya juga harus mendatangi beberapa rumah, tentunya memiliki karakter dan kebiasan yang berbeda. Dan, tidak jarang saya pun harus berhubungan dengan orang-orang dengan berbudaya barat.

Tapi, saya jadi belajar satu hal. Se-introvert-introvertnya orang, pasti dia juga akan bisa jadi ekstrovert. Terkadang kondisi bisa membuat kita bisa bersikap beda. Bukan menjadi bunglon atau kamuflase, tapi sebuah keharusan dalam bersosialisasi dan tuntutan profesi. Menurut saya sih itu sah-sah saja, kalau niatnya untuk kebaikan.

Disitulah saya belajar untuk lebih pandai menempatkan diri agar bisa diterima dengan baik oleh mereka. Seringkali saya harus bisa menanggapi orang-orang yang kemampuan mengobrolnya di luar batas normal, tapi tidak jarang juga saya harus memancing orang-orang yang jauh lebih introvert dibanding saya.

2.        Sesuai SOP
Kata-kata ini sering terucap dari mulut suami saya. Katanya saya itu SOP banget. Bangun di jam yang sama, terus setelah itu mengerjakan aktivitas satu persatu sampai tuntas. Saya selalu berusaha untuk menyelesaikan semuanya tepat waktu.

Kembali lagi, kebiasaan ini sudah tertanam sejak masih kecil ditambah lagi menjadi sebuah keharusan ketika saya menekuni profesi. Kalau saja saya tidak mematuhi jadwal yang saya buat, maka semuanya akan berantakan. Ketika saya telat datang ke satu tempat, maka itu akan berpengaruh ke tempat lain pula. Dari situlah saya berusaha untuk tidak bermain-main dengan waktu, bahkan waktu makan dan lama di perjalanan sudah saya hitung.

Dan, yang lucunya, itu terbawa sampai sekarang. Di awal menikah suami sampai geleng-geleng kepala melihat cara saya mengatur waktu setiap hari. Cara saya memperlakukan anak-anak pun terpengaruh dengan kebiasaan saya ini. Jam 5 pagi, anak-anak sudah saya mandikan dan berpakaian rapih. Di sore hari, 5 atau 10 menit sebelum adzan ashar, mereka berdua sudah ganteng, jadi pas ayahnya pulang kerja sudah terlihat rapih.

Apa saya lelah? That’s my habit. Bukan sebuah paksaan atau merasa tertekan. Bahkan ketika semuanya tidak teratur, saya malah jadi bad mood. Meskipun masukan dari suami sih, belajar agak sedikit toleran dengan waktu. Tapi, sejujurnya itu bukan hal yag mudah hehehe…

3.        Tidak terlalu suka shopping dan nge-mall
Kalau dikasih pilihan, mau ke mall atau jalan-jalan cari daerah baru? Saya pasti akan memilih yang kedua. Mencari tempat baru, suasana yang tenang, udara yang sejuk, jauh lebih saya sukai daripada harus keliling-keliling di mall.

Saya akan jauh lebih mendapatkan inspirasi untuk menulis ketika saya mendatangi daerah atau tempat wisata baru. Kalau pun saya harus ke mall, yang dicari pasti toko buku hehehe…

4.        Lebih baik disuruh berbicara di depan forum (berbagi hal positif), ketimbang nimbrung ngobrol nggak jelas
Yap, itulah saya. Bahkan banyak orang yang sangat kaget ketika baru melihat saya berbicara di depan. Terkadang waktu yang diberikan berasa kurang. Tapi, ketika saya diajak ngobrol ngalor ngidul, ah jangan tanya, seringkali saya speechless dan bingung mau cerita apa. Dan, inilah yang menjadikan saya sering dicap jutek, nggak asyik dan pendiam.

Saya sadari, saya memang terkenal dengan pribadi yang pendiam nggak banyak omong. Kalau dulu, jatah 20.000 kata per hari sudah tersalurkan lewat menulis dan menjalani profesi. Coba aja bayangin saya harus ngajar dari mulai jam 5 shubuh sampai pukul 8 atau 9 malam. Dan, sekarang setelah menikah, jatah katanya sudah habis dipakai nulis dan ngajari 2 anak hebat. Sepertinya waktu untuk ngobrol syantik nggak jelas, juga nggak ada.

5.        Nggak bisa jauh dari mamah, tapi sekarang merasakan harus jauh dari mamah
Saya tuh sebenarnya anak mamah banget. Dari kecil sampai sebelum menikah paling nggak bisa jauh dari mamah. Bahkan kalau sakit, dengan usapan tangan mamah, entah kenapa besoknya bisa langsung pulih lagi. Saya paling nggak bisa melihat mamah sedih.

Tapi, kita tidak pernah tahu susunan puzzle kehidupan ini seperti apa. Meskipun saya ini deket banget dan nggak bisa jauh dari mamah, tapi ternyata potongan puzzle kehidupan saya harus ada di kota lain, berjauhan dengan mamah. This is life. Bukan untuk dikeluhkan, tapi harus dijalani, nikmati dan disyukuri. Jadi, meskipun saat ini saya berjauhan dengan mamah, tapi gelombang cinta saya tidak pernah terputus untuk mamah.

Itulah 5 fakta tentang diri saja. Itu bukan mitos lho. Dan, itu menurut saya sendiri. Mungkin penilain orang lain berbeda-beda tentang saya. Tapi, yang pastinya apapun penilain itu, saya jadikan cerminan diri untuk menjadi lebih baik lagi.