Minggu, 17 Maret 2019

Ibu, Bukan Sekadar Panggilan Terindah




Ibu, panggilan terindah dari mulut kecil buah hatiku. Pertama kali mendengar anak pertamaku memanggilku Ibu, membuatku merasa menjadi wanita paling bahagia. Ya, meskipun sebelumnya beberapa anak didikku memanggil dengan sebutan itu. Tapi, saat satu kata itu terucap dari malaikat kecilku, ada bahagia yang tak bisa diungkap hanya lewat kata.

Ibu. Mengapa aku lebih suka dipanggil ‘Ibu’? Entah kenapa, saat dua garis merah terlihat jelas, aku memiliki impian kelak jika buah cinta ini terlahir, aku ingin dipanggil ibu. Alasannya kenapa? Tak ada alasannya, hanya saja hati ini memiliki ingin seperti itu.



Tak sekadar panggilan yang menjadi sebab bahagia. Tapi, menjalankan peran seorang ibu pun jauh lebih membahagiakan. Meskipun aku sendiri tidak menafikan masih sering keliru menafsir inginnya. Tidak jarang sulit rasanya menaruh emosi dan menggantikannya dengan kuota sabar yang unlimited.

Life is a process. Bukan sebuah pembelaan diri. Tapi, inilah realita. Selama 3,5 tahun memerankan sosok ibu dalam episode kehidupan ini, aku semakin yakin kalau menjadi ibu memang sebuah proses belajar. Kita boleh saja pernah belajar ilmu parenting dengan para pakar, tapi kita akan tahu ada saat dimana betapa tidak mudahnya menerapkan sederet teori yang kita pelajari tersebut.



Namun, kalau ditanya apa aku bahagia jadi seorang ibu? Sangat. Ya, aku sangat bahagia. Bahagia yang tak terkira. Bahagia yang tak bisa diungkap dengan kata. Bahagia yang tak cukup dilukis diatas kanvas. Bahagia yang hanya dipahami oleh hati dan dirasa oleh perasaan. Bahagia yang tak akan bisa tergantikan dengan apapun.

Meskipun perlu aku akui, terkadang ada tergelitik rasa kangen dengan segala aktifitas menjemput asa. Namun, seringkali pikir ini tersadar, kalau asa tertinggi seorang wanita adalah bisa menjaga amanah luar biasa dari Allah SWT. Status karier tak akan bisa menggantikan senyuman tulus, pelukan hangat dan kecupan sayang si kecil setiap saat.




Memang terkadang ego menelisik memaksa masuk ke dalam pikir. Ia tak suka jika kita tersadar akan kodrat yang seharusnya. Tapi, sejujurnya, aku bersyukur ada sosok yang selalu mengingatkan akan fitrah seorang wanita. Membersamai buah hati dengan penuh sentuhan dan cinta, jauh lebih penting dari apapun juga. Itulah pesan yang selalu diingatkan imamku.



Close my ears! Yap, itu pula yang sering aku lakukan ketika pertanyaan, “Kenapa nggak kerja?”, “Sayang dong ilmunya kalau nggak digunain.” Stop! Don’t judge me by saying that! I know what I do. Orang boleh berkata apa, tapi akulah peran utama dari kisah hidupku.

Bagiku, saat ini, menyandang predikat seorang ibu merupakan amanah sekaligus proses belajar tanpa henti. Kedua buah cinta yang diititpkan Allah adalah guru terhebat untukku. Merekalah guru kehidupan yang mengajarkan aku tentang kesabaran, keteladanan, dan banyak hal mengenai makna kehidupan yang sebenarnya.

Seringkali aku tersadarkan dengan segala sikap dan ucapnya. Pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar dari mulut kecilnya sering menyadarkanku untuk belajar lebih banyak lagi. Membersamainya itu bukanlah hal yang mudah. Aku harus terus upgrade ilmu dan kedekatan dengan Allah agar bisa menyeimbangkan dengan kesholehan dan kecerdasannya.



Ibu, satu kata, sebuah panggilan, tapi berjuta makna dan pesan yang aku dapat. Bahkan untuk menuliskan ini semua pun, aku masih memiliki ragu dan takut. Ragu karena memang aku tak pantas berbagi tentang ini semua. Takut, apa yang aku tuliskan ini hanyalah sebatas rangkain kata tak bernapas.

Namun, satu hal yang membuat jemariku tergerak, terapi. Ya, aku sadar aku masih belum bisa menjadi ibu yang baik. Tapi, dengan cara menuangkan segala apa yang aku rasa lewat kata, bisa menjadi terapi bagi diri sendiri. Tulisan ini pun bisa menjadi pengingat bagiku untuk terus mematut diri agar bisa menjadi ibu yang sholehah dan pantas diteladani.

Kembali lagi, menjadi ibu adalah sebuah proses belajar yang luar biasa bagiku. Jadi, segala cara aku lakukan untuk terus memperbaiki diri, termasuk dengan menuliskan ini. Karena aku ingin menorehkan kenangan indah dalam kisah hidup anak-anakku.



Menjadi ibu adalah salah satu impian yang bisa terwujud. Karena itulah, rasanya aku tak pantas mengingkari nikmat yang luar biasa ini. Semoga dengan panggilan dan predikat yang melekat ini menjadi jalanku untuk bisa merasakan kenikmatan surga-Nya kelak. Aamiin…


5 komentar:

  1. Menjadi seorang ibu memang anugerah luar biasa y mba, semoga kita bisa menjalani amanah ini dg sebaik2nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Ya, Mbak. Kita sama-sama belajar menjadi ibu hebat bagi anak-anak :)

      Hapus
  2. Ibu... Aku jadi ingat beberapa orang yang juga suka tanya "Kok manggilnya Bunda? Kok nggak Mama?"
    Tapi, nggak ada yang tanya "kenapa manggilnya Ayah, bukan papa?"

    Aku selalu bingung kalau ada yang tanya ke aku tentang apa alasan memanggil ibuku dengan panggilan "Bunda". Ibundaku juga nggak tahu kenapa beliau suka dipanggil Bunda.

    Ah, jadi seorang ibu memang berjuta rasanya ya Kak.

    Sama kayak Bundaku suka cerita-cerita masa mudanya. Bagaimana pertama kalinya Bunda dipanggil Bunda oleh anaknya.

    Bahkan banyak sekali duka sukanya.

    Hal inilah yang selalu bikin aku termehek-mehek dan pengen menikah, juga jadi ibu. Maaf Kak jadi baper.

    Salam kenal ya Kak.
    Aku kenal Kakak dari 1m1c.

    Saya tunggu blog walking ke blog-ku ya Kak.

    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, pasti seru juga cerita bundanya ya? Salam hormat ya buat bundanya :) Oya, salam kenal juga. Nanti saya BW balik ya...:)

      Hapus
  3. Anakku panggil aku 'mama', Mbak... Dan karena panggilan itu keluar dari bibir si kecil, kedengarannya juga indah banget, he he.

    Kalau aku baru-baru ini resign dari kerjaan kantoran, Mbak. Pas resign juga banyak yang menyayangkan, tapi kita yang tahu sendiri pilihan yang paling baik buat diri sendiri dan keluarga.

    Semoga kita selalu berusaha lebih baik jadi ibu bagi anak-anak kita ya, Mbak. Salam kenal.

    Vita
    akupunmenulis.wordpress.com

    BalasHapus