Sabtu, 20 April 2019

Berbagi, Tak Akan Membuat Rezeki Kita Terbagi

01.36 0 Comments



“Ibu, Kakak mau sedekah.”

Itulah kalimat yang selalu diucapkan anak pertama saya ketika melihat uang. Tidak jarang ia sedang anteng memasukkan uang belanja yang sengaja saya simpan di rak ke dalam kaleng sedekah shubuh. Atau, dengan tanpa beban, ia masukkan uang pemberian dari siapapun yang ia terima.

Ya, di rumah kami memang sengaja disediakan kaleng sedekah yang biasa kami isi di waktu shubuh. Biasanya setiap sebulan sekali, kami berikan kepada badan amil zakat.

Mendonasikan sebagian rezeki kepada amil ini sudah menjadi kebiasaan sejak awal menikah. Dulu sebelum kami pindah ke kota Jember, kami mempercayakan kepada Dompet Dhuafa.  

Apa yang kami lakukan mungkin tidak seberapa. Apa yang kami sedekahkan juga masih jauh dikatakan banyakbanya. Tapi, semua ini atas dasar tanda syukur dan sebuah pembiasaan. Ya, itulah alasan mengapa saya dan suami melakukan hal ini. Setelah kami menikah, kami baru tahu ternyata salah satu jalan Allah membukakan pintu jodoh adalah sedekah. Ada hal sama yang kami lakukan sebelum kami menikah. Meskipun kami sebelumnya belum pernah saling bertemu. Bahkan kami ngobrol berdua pun ada saat setelah akad.

Tapi, ternyata cara kami untuk minta disegerakan bertemu dengan jodoh hampir sama. Sedekah. Ya, kami sama-sama merayu Allah agar dipertemukan dengan orang yang tepat. Alhamdulillah wa syukurilah… Allah pertemukan kami berdua di saat yang tepat.


Karena asalan itulah, maka sejak awal menikah, kami sepakat untuk merawat kebiasaan sedekah ini. Diawali dari kami menyedekahkan sebagian mas kawin. Bukan karena tidak menghormati pemberian suami, namun saya pribadi memang sudah berniat untuk menitipkan ikatan cinta ini kepada Sang Khalik. Saya ingin lewat doa-doa anak yatim, pernikahan kami senantiasa dilindungi dan diberkahi oleh Allah SWT.

Sharing is caring. Sharing is loving. Rezeki itu seperti air, ketika kita mau mengalirkan air itu, maka manfaatnya akan jauh lebih banyak. Tapi sebaliknya, ketika kita hanya mengendapkannya, maka akan banyak penyakit yang datang. Yap, itulah yang selalu tertanam dalam benak saya dan suami. Ketika kita memberi, maka secara otomatis kita pun akan menerima. Tak perlu menunggu waktu lama, pasti balasannya akan segera kita rasakan.

Saya berbicara tidak sedang mengkhayal ataupun menceramahi siapapun. Tapi, saya sedang berbagi apa yang saya dan suami saya rasakan. Keajaiban atau efek positif dari memberi itu sangat luar biasa.

Sebenarnya kalau dituliskan, banyak sekali yang sudah kami rasakan dari efek berbagi. Tapi, izinkan saya untuk berbagi kisah yang menurut saya benar-benar di luar nalar manusia. Namun, satu hal yang saya tanamkan dalam hati, tulisan ini bukan untuk kecongkakan kami berdua. Saya dan suami hanya ingin berbagi kisah dan semoga bisa menjadi jalan kebaikan bagi semuanya.

  • Disegerakan diberi momongan

Tidak pernah terbayangkan saya dan suami langsung diberi amanah buah hati. Sebuah pernikahan tanpa saling mengenal sebelumnya tentu bukan hal yang mudah untuk saling melebur. Tapi, dengan izin Allah, tanpa harus menunggu lama, Allah menitip janin dalam rahim saya.

  • Ketika Nyawa Dipertaruhkan

Masih berhubungan dengan buah hati. Saat usia kandungan masih 8 bulan, saya mengalami pecah ketuban. Dokter sudah berusaha memberikan suntikan penguat paru janin agar bertahan sampai usia yang pas untuk dilahirkan. Selain itu, ketika di USG, berat badan bayi pun masih belum cukup. Namun, Allah berkehendak lain, 3 jam setelah disuntik, saya mengalami kontraksi yang luar biasa tapi belum ada pembukaan satu pun. Dan, tepat pada pukul 21.55, saya langsung mengalami pembukaan sepuluh dan bayi pun lahir. Alhamdulillah… Ternyata prediksi dokter semuanya meleset. Awalnya saya diperkirakan tidak selamat karena biasanya dengan terjadinya pembukaan sepuluh langsung, maka si ibu akan mengalami pendarahan hebat. Tapi, Alhamdulillah, saya tidak mengalaminya.

Yang kedua, anak yang terlahir di usia kandungan 8 bulan, ia dikatakan premature dengan berat badan rendah dan biasanya harus masuk incubator. Saya kembali bersyukur, ia terlahir dengan kondisi normal dan sehat. Bahkan kami bisa pulang ke rumah keesokan harinya.

  • Nyawa Ketiga

Tepat seminggu setelah lahir, anak pertama saya divonis kadar bilirubinnya tinggi. Pertanyaan dokter saat itu, apa mau dirawat di Rumah Sakit (disinar) atau mau diberikan treatment di rumah saja. Saya dan suami memilih opsi kedua. Kami kembali merayu Allah, agar diberikan yang terbaik. Alhamdulillah, dua minggu kemudian, buah hati kami dinyatakan sehat.

  • Nyawa Keempat

Inilah ujian yang luar biasa berta bagi saya dan suami. Ketika kesehatan buah hati kami kembali diuji. Ia divonis aspirasi ASI. Saat itu, usianya baru 1 bulan. Rasanya tak tega melihat ia masuk ruang NICU dan kami hanya diberi kesempatan mengunjunginya 2 kali sehari. Keyakinan dan kesabaran kami kembali diuji. Saya dan suami tak pernah lelah merayu Allah setiap saat. Kembali lagi, Allah begitu baik kepada kami, buah hati kami hanya 5 hari dirawat. Itu semua bahkan diluar prediksi dokter dan perawat. Proses penyembuhan sangat signifikan dan membuat semua dokter dan perawat kagum dan merasa aneh. Tidah hanya itu, tiga hari setelah keluar dari Rumah Sakit, ia kami bawa perjalanan jauh Cimahi – Lumajang – Jember menggunakan kereta api dan dilanjutkan dengan mobil, karena memang kami harus pindah ke kota tersebut. Alhamdulillah ia tetap sehat.

Itu hanyalah sedikit kejadian dari banyak kejadian yang kami alami. Terkadang efek bersedekah membuat kami sendiri tidak percaya. Apa yang awalnya kami nilai tidak mungkin, ternyata bisa kami dapatkan dengan mudah.

Nggak perlu takut miskin atau hidup kekurangan dengan kita berbagi. Tapi, yakinlah akan janji Allah. Kami berdua merasakan rezeki itu seperti diantar, baik itu rezeki materi maupun rezeki berupa kesehatan dan lain-lain.

Saya dan suami selalu mengatakan ketika kita bersedekah, itu sama saja dengan kita berasuransi kepada Allah. Nggak perlu hitung-hitungan, karena pasti Allah pun akan membalasnya, bahkan tanpa kita minta. Kalkulator Allah jauh lebih paham akan kebutuhan makhluk-nya.


Intinya, yang jauh lebih penting itu apa yang kita berikan itu harus benar-benar diikhlaskan. Kita hanya tinggal berdoa dan menjaga ucap serta perilaku setelah melakukan sedekah, setelah itu biarkan semesta mendukung melangitkan apa ingin kita. Saya dan suami percaya, dengan berbagi, rezeki kita tak akan terbagi. 


"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa."

Senin, 15 April 2019

Bukti Nyata Rasa Cinta Alfamart Terhadap Perempuan dan Lingkungan

22.23 2 Comments



Alfamart, salah satu perusahaan ritel yang sudah sangat familiar di telinga kita.  Sebagai toko swalayan yang memiliki banyak cabang di Indonesia, Alfamart selalu ikut andil dalam upaya pemberdayaan perempuan dan UMKM. Alfamart berusaha menjadi partner bagi pengembangan usaha dan pemberdayaan perempuan.



Sebagai contoh, Alfamart rutin menggelar pelatihan pemberdayaan khususnya perempuan. Peserta yang memang semuanya perempuan mendapat ilmu baking. Tentu saja ilmu ini sangat berguna, tidak hanya untuk dicoba di rumah, namun bisa juga menjadi ide usaha baru.




Selain itu, peserta pun diajak untuk mengenal bagaimana usaha mereka bisa menjalin kerjasama dengan Alfamart. Store Sales Point Alfamart, Bapak Taufik memaparkan dengan jelas tentang peluang produk kita bisa dipasarkan di Alfamart. Dijelaskan mulai dari produk yang seperti apa dan bagaimana caranya agar bisa menjual produk di Alfamart.

Mungkin timbul pertanyaan, sulit nggak sih menjual produk kita di Alfamart? Sama sekali tidak kalau memang memenuhi syarat. Ya, tentu saja produk yang akan dijual di Alfamart harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya:
  • Kesesuaian segmen Alfamart
  • Ketersediaan tempat (space terbatas)
  • Potensi permintaan pasar
  • Tren penjualan barang atau kategory barang tersebut
  • Keterkaitan kategori barang (diusahakan tidak duplikasi)
  • Dukungan atas ketersediaan barang


Nah, kalau sudah sesuai, maka Alfamart akan menerima produk UMKM tersebut. Muncul pertanyaan, bagaimana sih proses pengajuan produk kita? Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk mengajukan produk baru, yaitu:





Selain itu, ada beberapa hal yang harus kita jelaskan dan dibawa ketika bertemu buyer. Apa saja?
  • Sample produk
  • Daftar harga
  • Produk knowledge
  • Kondisi yang diberikan oleh supplier
  • Status Supplier (PKP/NPKP)
  • Dukungan promosi lainnya (missal: iklan TV/radio, promosi di toko Alfamart, dll)


Di Jember, kita memiliki beberapa produk UMKM aktif, diantaranya:













Dalam acara yang digelar kemarin pun, Alfamart pun mengkampanyekan pengurangan penggunaan kantong plastik. Plastik memang sangat praktis, tapi efek negatif yang kita peroleh jauh lebih besar dari kepraktisannya. Sifatnya yang sulit terurai bahkan hingga ribuan tahun, bisa mencemari lingkungan.




Seperti yang kita dengar, ada banyak fakta mengerikan yang disebabkan penggunaan kantong plastik, diantaranya:
  • 9,8 miliar sampah plastik pertahun
  • 1 orang menggunakan lebih dari 700 lembar kantong plastic pertahun
  • Indonesia menjadi juara 2 penyumbang limbah plastik ke laut terbesar (187,2 juta ton)


Mengerikan. Ya, dengan 3 fakta itu saja, seharusnya sudah membuat kita sadar. Tapi, memang semuanya pilihan, apa kita mau menutup telinga dan mata? Atau, kita mau melakukan sesuatu yang bisa membuat bumi ini kembal tersenyum?

Apa yang harus kita lakukan?
  • Reuse è Gunakan kembali tas belanja yang masih bisa digunakan
  • Recycle è Pilah-pilih dan daur ulang plastik bekas
  • Reduce, Refuse è Kurangi penggunaan kantong plastik, bahkan tolak selagi bisa
  • Rethink è Sebelum memakai kantong plastik, pikirkan kembali! Apakah kita benar-benar membutuhkan?



  


Alfamart pun tidak ingin hanya berdiam diri saja. Alfamart berusaha untuk ikut andil dalam menjaga lingkungan. Dengan mengeluarkan kebijakan kantong plastik berbayar kepada konsumen, ini merupakan bukti nyata rasa cinta Alfamart untuk menjaga lingkungan. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? 

Minggu, 14 April 2019

Backpackeran Bareng Balita dan Baduta (Part 1)

21.15 0 Comments



Backpackeran? Siapa takut. Itu yang terlintas ketika paksu menawarkan untuk mencoba backpackeran. Ada dua pilihan, Batu – Jogjakarta atau Jakarta – Bandung. Ah, malaikat juga tahu saya bakalan pilih mana hehehe… Secara sudah hampir setahun nggak pulang kampung, pastilah saya pilih Jakarta – Bandung.

Seminggu sebelum berangkat, kami berdua mulai mempersiapkan semuanya. Tapi, jujur saja, persiapan itu lebih ke obrolan, karena kita berdua mah gitu orangnya. Seminggu sebelumnya itu kita lebih ke searching tiket sih. Ya, nyari-nyari tiket murah, banding-bandingin antara pesawat atau kereta. Maklum kita berdua lihat dari berbagai sisi juga.

Setelah diskusi, kami pun memutuskan untuk berangkat menggunakan kereta api dan pulangnya menggunakan pesawat. Sebenarnya ada plus minus sih menggunakan kereta api, apa aja? Nanti deh kita berdua bakalan bahas satu persatu ya…

The D-Day is coming. Sabtu, 22 Desember pukul 8.30, kami berempat berangkat menuju stasiun Jember. Rencananya sih mau berangkat pukul 8.00, tapi maklum kita harus menyesuaikan dengan psikologis dua krucil yang tidak bisa dipaksa dan diburu-buru. Untunglah, kami bisa tiba di stasiun 15 menit sebelum kereta api datang.



09.00, kereta api mulai melaju menuju Surabaya. Perjalanan 4 jam di kereta. It’s the first time untuk anak kedua kami. Sempat khawatir dia bakalan rewel di kereta, tapi Alhamdulillah dia malah menikmati dan tersenyum terus karena banyak yang godain hehehe… (hadeuhhh…nih anak memang suka tebar pesona…). Kalau kakaknya sih sudah teruji dibawa jalan jauh, di usia 1 bulan saja sudah naik kereta, dan di usia tepat 2 tahun, semua moda transportasi sudah ia coba. Pokoknya dia mah traveller sejati.

  
Ok, kembali ke cerita travelling kami. Perjalanan menuju Surabaya tidak menemukan kendala apapun. Dua anak hebat masih bisa kendalikan. Tepat pukul 13.30 kami sampai di Stasiun Gubeng.

Nah, di sini nih yang bikin kami harus muter otak. Kami mulai atur waktu dengan kondisi stasiun dan juga anak-anak. Karena mushola berada di dalam, jadi kami putuskan untuk makan terlebih dahulu. Setelah makan, kami langsung masuk kembali ke stasiun dan bergantian ke mushola. Karena anak-anak tidak terbiasa panas, jadi dengan gerak cepat, kakaknya dimandikan ayahnya dan adiknya saya seka.

Menurut kami, ini penting banget, menjaga kenyamanan anak-anak. Karena kalau sampai mereka kepanasan dan nggak nyaman, otomatis bawaannya rewel. Jadi, kita harus ngalah riweuh sedikit yang penting nggak bikin mereka bad mood.

Oya, seandainya di Stasiun Gubeng itu seperti di Bandara, ada ruang lakatasi dan juga ada kamar mandinya, jadi kita bisa jauh lebih nyaman melakukan perjalanan. Dua fasilitas ini seperti sederhana, tapi bagi para traveller penting banget lho. Bahkan kemarin itu, saya menyeka anak saya yang masih bayi di mushola. Meskipun saya sadar itu kurang sopan, tapi tidak ada lagi tempat yang lebih nyaman untuk bayi. Dan, cara saya ini ternyata diikuti dua orang ibu yang sama-sama kebingungan untuk mengganti popok anaknya.

Satu lagi yang seharusnya menjadi perhatian pihak Stasiun Gubeng, mushola. Kalau boleh nih saya kasih saran, siapa tahu ada yang baca dari pihak terkait, agar musholanya bisa lebih nyaman. Saya tidak menuntut untuk diperbesar, tapi mungkin lebih terawat lagi.

Ok, kembali ke cerita saya ya… Tepat pukul 3 sore, kami berempat check in. Dan, tidak berapa lama, kereta pun tiba. Taraaa… Wah, ternyata keretanya nyaman banget. Tempat duduknya enak, nggak sumpek, dan AC-nya nggak abal-abal. Dan, keuntungan kami saat itu, perjalanan dari Surabaya hingga Jawa Tengah, penumpang masih sepi, jadi leluasa deh bisa tidur-tiduran.



Sebenarnya jujur saja, saya dan suami agak sedikit khawatir untuk perjalanan panjang dari Surabaya ke Jakarta. Kami takut kakaknya bakalan cranky dan adiknya tidak terbiasa tidur di kereta. Tapi, Alhamdulillah… perjalanan pun bisa terlewati dengan menyenangkan. Si kakak dan adiknya bisa tidur pulas. Kakaknya bangun pas di daerah Jawa Tengah karena ada penumpang yang mau duduk di sebelahnya. Sempat bad mood sih, tapi bisa teralihkan dengan disuapin makan dan akhirnya tidur lagi sampai kereta mau berhenti di Stasiun Pasar Senen.

bersambung ke postingan berikutnya ya... :)


Jumat, 05 April 2019

Harga Gledek, Anugerah Bagi Traveller Berdigit Pendek

20.53 0 Comments

“Backpackeran lagi, yuk!” ajak suami.

Ah, kalau mendengar ajakan itu, rasanya sulit untuk menolak. Sebagai guru private 24 jam dari 2 bocah, jalan-jalan itu salah cara pembelajaran bagi anak-anak. #NyariAlasan hehehe… Tapi, selain itu, sebagai aktivis kuliner, jalan-jalan itu sebagai salah satu cara menampung inspirasi dari berbagai rasa makanan baru. Oya, satu lagi nih alasan yang paling sesuai dan lubuk hati yang paling dalam, bagi emak-emak yang dinas di rumah dari mulai matahari terbit sampai terbenam, jalan-jalan itu sebuah kenikmatan dan hadiah yang luar biasa.

Eh, tapi serius nih… Kenapa sih aku dan suami senang banget jalan-jalan. Padahal kami tuh rumah aja masih ngontrak, mobil belum punya, tabungan juga nggak banyak-banyak. Tapi, kok kami nekat banget ya, buat jalan-jalan. Dari mana uangnya? Sayang kan uangnya kalau dipakai jalan-jalan, mending ditabung?

Ah, meskipun tabungan kami masih berdigit pendek, tapi pemikiran kami nggak sependek itu. Nabung ya nabung. Punya rumah? Ya, harus atuh. Ini juga lagi berusaha. Tapi, hidup itu harus dinikmati. Dan, yang terpenting kita harus bisa meninggalkan kenangan indah untuk orang-orang terdekat kita. Selagi masih ada promo, jalan-jalan masih bisa disiasati kok. #PemburuPromo #TravellerModalNekat

Tapi, aku dan suami memang mencari sebuah esensi dari aktivitas jalan-jalan yang kami lakukan. Esensi. Aihhh… Sok gaya ya, ngomongnya, esensi. Temannya es tong-tong? Hehehe… Sekali lagi, ini serius lho. Aku dan suami senang banget keliling, ya mulai dari sekitaran kota Jember sampai backpackeran ke Jakarta dan Bandung dengan bawa batita dan baduta, itu punya alasan dan tujuan. Ini salah satu cara kami merawat kelekatan satu sama lain. Karena kami yakin dengan melakukan perjalanan, kami akan jauh lebih memahami. Bukankah berumah tangga juga sebuah perjalanan cinta tanpa jeda?

Aiihh… bahasanya udah mulai bikin baper nih… Ok, ok… kembali ke soal perjalanan sebenarnya ya… J Sebagai pendatang di kota tembakau ini, keliling ke pelosok Jember memang menjadi sesuatu yang baru dan mengasyikkan bagi si aku ini. Pulang-pulang bisa jadi bahan tulisan tuh. Apalagi dengan menghadapi orang-orang keturunan Madura yang masih kental dengan bahasanya, roaming tingkat internasional deh. Senyuman menjadi bahasa universal dan bisa diterima oleh siapapun. Oya, yang bikin ketagihan juga mencoba berbagai macam kuliner baru khas bumi pendhalungan ini yang belum pernah aku coba.

Nah, ceritanya akhir tahun 2018 kemarin kami menjajal backpackeran dengan membawa duo krucil. Setelah melakukan backpackeran perdana membawa dua bocah yang aktifnya nggak ketulungan, kami mulai kecanduan. Ya, kami di tahun ini pun kami berencana ingin mengajak mereka meng-explore kota Malang dan Batu. Kenapa dua kota itu?

Hmmm… Kembali ke alasan pertama, karena emaknya memiliki jiwa guru private yang tinggi, jadi pengen banget ngajarin kedua krucil untuk tawa satwa secara langsung. Secara kan otak mereka masih bersih jadi mau menginstall program apapun, dengan mudah bisa langsung masuk dengan cepat. Nah, karena jiwa bertanya yang luar biasa, dua kota itu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang satwa yang selama ini sering diajukan kepada emaknya ini.

Kenapa nggak ke Bandung dan Jakarta. Oh, itu sih pasti setiap tahun kita harus ke sana. Tapi, kalau dua kota itu harus punya waktu yang lumayan luang. Soalnya kan sekalian pulang kampung. Tapi, kita memang sudah merencakan untuk backpackeran lagi ke ibu kota dan kota kembang. Masa sebagai warga Indonesia nggak nyobain MRT, sama sekalian juga pengen tahu Taman Dilan hehehe…

Nah, kalau yang lagi direncanakan dalam waktu dekat sih, ya kota Batu dan Malang. Soalnya aku dan suami sudah kepalang janji juga sama anak pertama kami. Jadi ya, mau nggak mau ya harus tetap jadi backpackeran ke dua kota tersebut, meskipun masih melihat waktu dan menghitung budget juga.



Karena alasan itulah, terutama alasan yang kedua sih, aku ikutan kompetisi ini. Siapa tahu dapat rezeki lewat tiket.com. Seandainya aku mendapatkan Harga Gledek, ya pingin banget mewujudkan rencana yang sempat tertunda.

Karena jujur aja nih ya, se-backpacker-backpackeran, kalau bawa dua batita dan baduta mah ya kudu aja nyiapin dana berlebih. Namanya anak, kan suka unpredictable. Kalau kita bisa menahan diri untuk nggak makan atau jajan di kereta, misalnya. Nah, anak-anak, bisa nangis kejer bin cranky kalau sampai ada keinginanya yang nggak bisa didapatkan.

Sebenarnya kalau anak-anakku masih bisa dikondisikan sih. Tapi, itung-itungan kemarin aja pas backpackeran ke Jakarta dan Bandung, selalu ada biaya tak terduga. Misalnya nih, sudah direncakan makan di tempat A biar sesuai dengan rencana budget yang dikelauarkan. Eh, tapi tiba-tiba ayam crispy dengan merek terkenal di depan mata bocah. Ya, sudahlah ganti rencana deh. Bukan karena nangis juga sih, tapi karena itu makanan favoritnya, dia langsung melipir aja masuk.

Oya, kalau seandainya menang nih. Pede amat ya si aku ini hehehe… Ya, kan punya impian yang positif itu harus lho. Ya, ini sih seandainya, ini bakalan jadi hadiah ultah diriku juga. Jadi, itung-itung membahagiakan emak-emak yang sehari-hari bertugas di rumah ini.

Nah, jadi jelas kan, alasannya ada tiga, kenapa emak-emak ini ngebet banget pingin menangin Harga Gledek. Kalau kata peribahasa sih, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Niat awalnya pingin nyenengin anak, tapi sekalian juga emaknya senang karena refreshing plus punya bahan buat dituangin di blog. Dan, yang terpenting bisa merawat cinta bareng pasangan dan anak-anak juga. Cakep kan?