Jumat, 05 April 2019

Harga Gledek, Anugerah Bagi Traveller Berdigit Pendek


“Backpackeran lagi, yuk!” ajak suami.

Ah, kalau mendengar ajakan itu, rasanya sulit untuk menolak. Sebagai guru private 24 jam dari 2 bocah, jalan-jalan itu salah cara pembelajaran bagi anak-anak. #NyariAlasan hehehe… Tapi, selain itu, sebagai aktivis kuliner, jalan-jalan itu sebagai salah satu cara menampung inspirasi dari berbagai rasa makanan baru. Oya, satu lagi nih alasan yang paling sesuai dan lubuk hati yang paling dalam, bagi emak-emak yang dinas di rumah dari mulai matahari terbit sampai terbenam, jalan-jalan itu sebuah kenikmatan dan hadiah yang luar biasa.

Eh, tapi serius nih… Kenapa sih aku dan suami senang banget jalan-jalan. Padahal kami tuh rumah aja masih ngontrak, mobil belum punya, tabungan juga nggak banyak-banyak. Tapi, kok kami nekat banget ya, buat jalan-jalan. Dari mana uangnya? Sayang kan uangnya kalau dipakai jalan-jalan, mending ditabung?

Ah, meskipun tabungan kami masih berdigit pendek, tapi pemikiran kami nggak sependek itu. Nabung ya nabung. Punya rumah? Ya, harus atuh. Ini juga lagi berusaha. Tapi, hidup itu harus dinikmati. Dan, yang terpenting kita harus bisa meninggalkan kenangan indah untuk orang-orang terdekat kita. Selagi masih ada promo, jalan-jalan masih bisa disiasati kok. #PemburuPromo #TravellerModalNekat

Tapi, aku dan suami memang mencari sebuah esensi dari aktivitas jalan-jalan yang kami lakukan. Esensi. Aihhh… Sok gaya ya, ngomongnya, esensi. Temannya es tong-tong? Hehehe… Sekali lagi, ini serius lho. Aku dan suami senang banget keliling, ya mulai dari sekitaran kota Jember sampai backpackeran ke Jakarta dan Bandung dengan bawa batita dan baduta, itu punya alasan dan tujuan. Ini salah satu cara kami merawat kelekatan satu sama lain. Karena kami yakin dengan melakukan perjalanan, kami akan jauh lebih memahami. Bukankah berumah tangga juga sebuah perjalanan cinta tanpa jeda?

Aiihh… bahasanya udah mulai bikin baper nih… Ok, ok… kembali ke soal perjalanan sebenarnya ya… J Sebagai pendatang di kota tembakau ini, keliling ke pelosok Jember memang menjadi sesuatu yang baru dan mengasyikkan bagi si aku ini. Pulang-pulang bisa jadi bahan tulisan tuh. Apalagi dengan menghadapi orang-orang keturunan Madura yang masih kental dengan bahasanya, roaming tingkat internasional deh. Senyuman menjadi bahasa universal dan bisa diterima oleh siapapun. Oya, yang bikin ketagihan juga mencoba berbagai macam kuliner baru khas bumi pendhalungan ini yang belum pernah aku coba.

Nah, ceritanya akhir tahun 2018 kemarin kami menjajal backpackeran dengan membawa duo krucil. Setelah melakukan backpackeran perdana membawa dua bocah yang aktifnya nggak ketulungan, kami mulai kecanduan. Ya, kami di tahun ini pun kami berencana ingin mengajak mereka meng-explore kota Malang dan Batu. Kenapa dua kota itu?

Hmmm… Kembali ke alasan pertama, karena emaknya memiliki jiwa guru private yang tinggi, jadi pengen banget ngajarin kedua krucil untuk tawa satwa secara langsung. Secara kan otak mereka masih bersih jadi mau menginstall program apapun, dengan mudah bisa langsung masuk dengan cepat. Nah, karena jiwa bertanya yang luar biasa, dua kota itu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang satwa yang selama ini sering diajukan kepada emaknya ini.

Kenapa nggak ke Bandung dan Jakarta. Oh, itu sih pasti setiap tahun kita harus ke sana. Tapi, kalau dua kota itu harus punya waktu yang lumayan luang. Soalnya kan sekalian pulang kampung. Tapi, kita memang sudah merencakan untuk backpackeran lagi ke ibu kota dan kota kembang. Masa sebagai warga Indonesia nggak nyobain MRT, sama sekalian juga pengen tahu Taman Dilan hehehe…

Nah, kalau yang lagi direncanakan dalam waktu dekat sih, ya kota Batu dan Malang. Soalnya aku dan suami sudah kepalang janji juga sama anak pertama kami. Jadi ya, mau nggak mau ya harus tetap jadi backpackeran ke dua kota tersebut, meskipun masih melihat waktu dan menghitung budget juga.



Karena alasan itulah, terutama alasan yang kedua sih, aku ikutan kompetisi ini. Siapa tahu dapat rezeki lewat tiket.com. Seandainya aku mendapatkan Harga Gledek, ya pingin banget mewujudkan rencana yang sempat tertunda.

Karena jujur aja nih ya, se-backpacker-backpackeran, kalau bawa dua batita dan baduta mah ya kudu aja nyiapin dana berlebih. Namanya anak, kan suka unpredictable. Kalau kita bisa menahan diri untuk nggak makan atau jajan di kereta, misalnya. Nah, anak-anak, bisa nangis kejer bin cranky kalau sampai ada keinginanya yang nggak bisa didapatkan.

Sebenarnya kalau anak-anakku masih bisa dikondisikan sih. Tapi, itung-itungan kemarin aja pas backpackeran ke Jakarta dan Bandung, selalu ada biaya tak terduga. Misalnya nih, sudah direncakan makan di tempat A biar sesuai dengan rencana budget yang dikelauarkan. Eh, tapi tiba-tiba ayam crispy dengan merek terkenal di depan mata bocah. Ya, sudahlah ganti rencana deh. Bukan karena nangis juga sih, tapi karena itu makanan favoritnya, dia langsung melipir aja masuk.

Oya, kalau seandainya menang nih. Pede amat ya si aku ini hehehe… Ya, kan punya impian yang positif itu harus lho. Ya, ini sih seandainya, ini bakalan jadi hadiah ultah diriku juga. Jadi, itung-itung membahagiakan emak-emak yang sehari-hari bertugas di rumah ini.

Nah, jadi jelas kan, alasannya ada tiga, kenapa emak-emak ini ngebet banget pingin menangin Harga Gledek. Kalau kata peribahasa sih, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Niat awalnya pingin nyenengin anak, tapi sekalian juga emaknya senang karena refreshing plus punya bahan buat dituangin di blog. Dan, yang terpenting bisa merawat cinta bareng pasangan dan anak-anak juga. Cakep kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar