Rabu, 17 Juni 2020

Let's Read, And We Can See The World




“A house without books is like a room without windows.” (Horace Mann)

Membaca, sebuah aktivitas yang paling menyenangkan di keluarga kecil kami. Bersyukur sekali ketika saya dipertemukan dengan pasangan hidup yang memiliki hobi sama, membaca. Itu pula salah satu alasan mengapa kami langsung klik meskipun tak pernah saling mengenal sebelumnya.

Kami berdua sama-sama yakin dengan memiliki pasangan yang hobi membaca, akan jauh lebih enak untuk berdiskusi. Selain itu, kami juga sangat yakin, kebiasaan baik ini akan menurun kepada keturunan kami.



Sejak hamil, saya sudah membiasakan membacakan buku untuk buah hati. Bahkan ketika hamil anak pertama, saya ngidam ke pameran buku di Jakarta. Saat itu saya masih hamil muda. Tapi, karena keukeuh, akhirnya saya berangkat dari Bandung ke Jakarta naik bus. Saking pengennya ke pameran buku, saya dan suami berada di pameran dari pagi hingga pameran mau ditutup pada malam hari. Oya, bersyukur kandungan saya tidak apa-apa, karena seharian itu saya tidak terlalu bersemangat makan, hanya karena pengen puas-puasin keliling ke semua stand plus mengikuti bedah bukunya Dr. Muahammad Syafii Antonio.

Ketika anak pertama lahir, saya mulai mengajaknya membaca buku. Saya tidak berpikir sudah berapa buku yang ia sobek atau kena tumpahan makanan dan minuman. Selain membacakan buku, saya dan suami pun memiliki jadwal khusus untuk mengajaknya ke toko buku atau perpustakaan.



Tidak jauh berbeda dengan kehamilan anak pertama. Pada saat hamil tua anak kedua pun, saya memaksakan diri menghadiri kajian yang disampaikan Ustadz Salim A Fillah. Alasannya, karena saya kagum dengan tulisan-tulisannya. Padahal saat itu, saya sudah masuk masuk HPL dan dalam keadaan puasa pula. Tapi, saya berdoa agar Si Adek lahirnya kalau udah ikut kajian aja. Dan, seminggu setelah menghadiri kajian tersebut, saya melahirkan anak kedua dengan selamat.

Kebiasaan membaca pun menurun kepada anak kedua kami. Meskipun saat ini usianya baru 2 tahun, tapi minat bacanya luar biasa. Setidaknya 3 sampai 5 buku, saya harus membacakan buku untuknya setiap hari.




“Possible thing is usual. Usual thing is forced or love.”

Saya dan suami meyakini ini. Semua hal itu akan kembali pada satu kata, “kebiasaan”. Seseorang akan bisa melakukan sesuatu ketika dibiasakan. Dan kebiasaan itu bisa dipaksa atau karena memang suka.

Saya dan suami bisa saja memaksa anak-anak untuk membaca. Tapi, sesuatu yang dipaksa, apalagi bagi anak-anak, akan berdampak kurang baik. Kami ingin menanamkan kebiasaan membaca dengan penuh cinta. Maka kuncinya ada pada “keteladanan”.




“Action speaks louder than speak.”

Anak-anak kami melihat kami sering membaca. Akhirnya, tanpa disadari, mereka akan mengikuti kebiasaan ayah ibunya. Kami tidak pernah menyuruh apalagi memaksa, malah sebaliknya. Mereka akan memaksa kami untuk membacakan buku.

Sebagai ibu, saya sadari memiliki tugas yang jauh lebih berat. Bukankah ibu itu madrasah pertama bagi anak-anaknya? Oleh karena itu, saya ingin menanamkan kebiasaan baik tanpa membuat mereka terpaksa melakukannya.




Buku Itu Investasi

“Kok beli buku terus?”
“Kok harga bukunya mahal?”
“Kasihan masih anak-anak, masa udah dikasih buku.”

Pernyataan-pernyataan di atas sudah sering kami dengar. Kami tidak bisa memaksakan orang lain untuk sepemahaman. Tapi, kami pun tidak ingin luluh hanya karena omongan mereka.

Bagi kami, buku itu investasi. Ketika kami harus mengeluarkan sekian rupiah untuk membeli buku, kami yakin itu akan sebanding dengan ilmu dan pemahaman yang kami dapatkan. Bahkan saya dan suami akan berpikir berkali-kali untuk membeli barang lain daripada untuk membeli buku.



Menumbuhkan minat baca pada anak seperti halnya kita sedang menabur benih baik. Bahkan hasilnya bisa langsung terlihat. Sebagai contoh, ketika saya dan suami ingin menerapkan toilet training pada anak pertama kami, maka kami bacakan buku yang berhubungan dengan hal tersebut.

Contoh lain, ketika saya dinyatakan positif hamil anak kedua. Maka saya bacakan buku tentang sayang adik untuk anak pertama saya. Dan, anak pertama saya bisa menerima kehadiran adiknya. Bahkan hingga saat ini, ia begitu sayang dengan adiknya.



Efek positif lainnya dari membacakan buku bagi anak-anak sejak dini, kebiasaan-kebiasaan baik bisa dengan mudah diterapkan. Misalnya saja saya bisa dengan mudah mengajarkan kebiasaan baca doa, menggosok gigi, mandi, tidur sendiri dan masih banyak lagi, hanya dengan membacakan buku kepada anak-anak sedini mungkin.

Membaca menjadi candu bagi kami sekeluarga. Rasanya ada sesuatu yang hilang ketika kami tidak membaca. Menumbuhkan kebiasaan memang tidak mudah, tapi menghilangkan kebiasaan juga bukan hal yang gampang. Keduanya butuh niat dan usaha.


Aplikasi Let’s Read




Saat ini menumbuhkan minat baca pada anak tidaklah susah. Banyak media yang bisa digunakan untuk menumbuhkan kebiasan baik ini. Apalagi di era teknologi dan zamannya para generasi Alpha. Kita harus semakin cerdas mencari cara agar si kecil memiliki minat baca.

Untuk itulah, kehadiran Let’s Read merupakan solusi bagi para orang tua dari Generasi Alpha. Let’s Read merupakan perpustakaan digital buku cerita anak persembahan komunitas literasi dan The Asia Foundation.

Let’s Read digagas oleh Books for Asia, yakni program literasi yang telah berlangsung sejak 1954. Program tersebut menerima U.S. Library of Congress Literacy Awards atas inovasi dalam promosi literasi pada Desember 2017.

Adapun misi dari Let’s Read diantaranya:
Membudayakan kegemaran membaca pada anak sejak dini melalui:
  1. Digitalisasi cerita bergambar
  2. Pengembangan cerita rakyat yang kaya kearifan local, dan
  3. Penerjemahan buku cerita anak berrkualitas terbitan dalam dan luar negeri ke dalam bahasa nasional dan ibu.


Kita bisa mendapatkan banyak ratusan cerita bergambar di aplikasi Let’s Read. Pokoknya momen membaca bagi anak-anak akan jauh lebih menyenangkan dengan aplikasi Let’s Read. Jadi, mulai sekarang langsung deh unduh aplikasi Let’s Read yang bisa membuat anak-anak semakin jatuh cinta untuk membaca buku. Untuk informasi lebih jelas, langsung aja lihat di media sosial Facebook dan Instagram Let’s Read Indonesia.


Let’s Read, And You’ll Find Something Different!


Bagi saya dan suami, membaca buku bukan hanya sekadar mengeja kata dan mencerna kalimat. Tapi, dengan membaca kami akan terus belajar menjadi orang tua yang hebat bagi anak-anak kami.

Menanamkan minat baca pada anak pun bukan sekadar membuat mereka bisa dan suka membaca. Tapi, kita sedang menabur dan memupuk mental pembelajar. Dengan membaca mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih cerdas hati, cerdas pikir, dan cerdas perilaku. Mereka tidak akan seperti katak dalam tempurung. Namun, mereka akan menjadi seperti burung yang terbang bebas melihat dunia luas. Let’s read, and we can see the world!

23 komentar:

  1. Hebat ikh mba dah bacain buku buat anaknya sejak hamil. Aku mah sejak anak aku masih bayi hihihi. Allahadulillah usia 7 bulan dia udah tertarik banget ama buku. Seneng banget aku karena memang salaah satu mimpi aku anak aku mencintai ilmu adan ilmu itu salah satunya ada di bacaan. Sekarang selain baca lewat buku bisa juga lewat aplikasi baca let's read ini ya mba. Jadi penasaran aku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, memang aku udah niat gitu kalau punya anak pengen dia tuh suka buku. Alhamdulillah sekarang anak-anakku suka banget. Apalagi sekarang ada aplikasi let's read.

      Hapus
  2. generasi emas ini kalau dari kecil sudah demen baca, semoga dengan aplikasi jadi makin hobi baca si dede

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Ini semua hanya ikhtiar dalam mencerdeskan generasi, Mbak.

      Hapus
  3. Buku adalah sebuah investasi. itu benar sekali mbak. Sayang nggak banyak orang yang menyadari itu. Semoga semakin kesini Indonesia bisa semakin tinggi angka minat terhadap membaca bukunya.

    BalasHapus
  4. Membantu banget ada aplikasi let's read. Anakku jadi seneng banget dibacain cerita dari let's read. Dia minta diceritain lagi. Memang membaca perlu dikenalkan sejak dini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, betul. Membaca jadi lebih seru dan menyenangkan.

      Hapus
  5. Duo AuRa, kedua anakku suka sekali aplikasi let's read inni mbak. Karena memang bagus dan keren banget. Btw trik kita sama, kami juga kasih nasehat lewat cerita. Jadi pilih buku sesuai dengan yang ingin disampaikan ternyata emang lebih mudah diterima sang anak ya mbak.

    BalasHapus
  6. Benar mbak, kecintaan pada buku bisa dipupuk semenjak dini. Agar kelak anak punya minat baca yg tinggi

    BalasHapus
  7. Sekarang sudah ada aplikasi Let's Read jadi semakin cinta deh minat baca anak dan bagi orang tua lebih mudah ya untuk mengajarkan anaknya

    BalasHapus
  8. Senang banget dengan quote nya mbak, memang rumah tanpa buku itu agak hambar. Sampai saya mendirikan perpustakaan pribadi di rumah mbak. Btw saya juga pakai aplikasi lets read ini untuk anak-anak mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rumah tanpa buku tuh sumpek, nggak ada 'udara ilmu' yang masuk :)

      Hapus
  9. Alhamdulillah, asyik ya aplikasi ini membuat kita punya buku bacaan melimpah untuk anak

    BalasHapus
  10. Ustadz Salim A Fillah juga favoritku karena tulisannya bagus bagus, btw saya juga sudah pakai aplikasi Lets Read memang banyak fitur bermanfaat

    BalasHapus
  11. Alhamdulillah ya mba punya suami yang hobi membaca juga, kalau suami saya tidak suka membaca dan jadi tantangan luar biasa bagi saya untuk menumbuhkan minat baca pada abak-anak

    BalasHapus
  12. setuju banget, mbak, buku memang sebaik-baiknya jendela dunia dan sahabat untuk manusia. kalaupun tidak ada buku fisik, buku elektronik pun sangat mungkin untuk dibaca :D

    BalasHapus
  13. mantap, mbak. memang perlu konsistensi banget ya buat mengenalkan anak ke dunia buku dan mencintainya. saya sendiri masih berjuang nih mengajak anak suka membaca soalnya anaknya sudah keduluan kenal gadget

    BalasHapus
  14. Wah menarik sekali judul artikelnya ini Let’s read, and we can see the world! Aplikasinya juga sepertinya oke banget nih. Saya mau coba unduh juga ah manfaatkan untuk menumbuhkan minat baca pada anak saya :)

    BalasHapus