Follow Us @soratemplates

Thursday, August 25, 2016

Menyapa Kota Karnaval

August 25, 2016 1 Comments
 
Sumber: www.jemberfashioncarnaval.com
Datanglah ke kota ini pada bulan Agustus, maka kita akan disuguhi dengan sajian karnaval yang unik dan menarik. Ya, Jember, selain dikenal dengan sebutan kota tembakau karena sebagai penghasil komoditas tembakau terbesar di Indonesia, juga dikenal dengan sebutan Kota Karnaval.
Mungki timbul pertanyaan, mengapa disebut sebagai kota karnaval? Karena di kota ini selalu diadakan Fashion Carnaval yang dikenal dengan Jember Fashion Carnaval (JFC) setiap tahunnya. JVC merupakan Fashion Carnaval terunik keempat dunia setelah Rio De Jenairo. Untuk tahun ini, Jember Fashion Carnaval (JFC) akan diselenggarakan mulai tanggal 24 – 28 Agustus. Tema yang diusung kali ini ialah Revival.
Kita akan disuguhi dengan pawai ribuan peserta dengan berbagai kostum yang uni. Arak-arakan akan berlangsung di sepanjang 3,6 Km yang dimulai dari alun-alun Jember. Berbagai awak media, baik dalam maupun luar, akan ikut serta mengabadikan momen yang luar biasa ini.
Jember Fashion Carnaval (JFC) menjadi icon bagi kota yang mendapat julukan kota tembakau ini. Di bulan ini, ribuan mata tertuju pada kota ini. Rasanya sangat rugi jika kita tidak bisa menyaksikan langsung keramaian JFC.
Tidak sulit untuk bisa menginjakkan kaki dan menikmati keindahan Kota Jember, sekaligus menyakiskan event yang bertaraf internasional ini. Kota Jember memiliki bandar udara yang dilalui oleh 2 maskapai penerbangan, Garuda Indonesia dan Susi Air. Garuda Indonesia melayani rute Jember – Surabaya dengan frekuensi penerbangan 10 kali dalam seminggu. Sedangkan Susi Air melayani rute Jember – Sumenep dengan frekuensi 1 kali dalam seminggu.
Untuk akses di kota Jembernya sendiri tidaklah sulit. Angkutan Kota (Lyn) senantiasa beroperasi setiap hari dari pagi hingga malam. Tidak hanya itu, fasilitas taksi pun tersedia di kota ini.
Jika kita mengunjungi kota ini, jangan lupa juga untuk mencoba makanan khas Jember, yaitu berbagai olahan tapi. Kita bisa mencoba suwar-suwir, prol tape, pia tape, brownies tape, dan dodol tape. Selain itu, ada satu makanan khas Jember lainnya, yaitu kedelai edamame.

Rasanya tidak rugi, jika kiat mengagendakan akhir pekan di minggu keempat bulan Agustus ini, untuk berkunjung ke Jember. Apalagi dengan adanya Airpaz, travelling menjadi lebih mudah. Kita tidak perlu lagi pusing-pusing mikirin bagaimana caranya membeli tiket pesawat. Airpaz hadir memberikan kemudahan. So, keep this chance, guys! Kota Karanaval menunggu kedatangan teman-teman semua. 
Sumber: www.ragamtempatwisata.com

Tuesday, August 16, 2016

Penghargaan, Tanda Cinta Tanpa Cela

August 16, 2016 0 Comments

Penghargaan bukan hanya sekedar kata atau kalimat. Tapi, ada sesuatu yang memiliki kekuatan untuk merubah ke arah yang lebih baik. Jangan pernah abaikan sebuah penghargaan karena akan ada satu keajaiban yang terjadi.
Penghargaan tak melulu harus berupa gantungan medali, tingginya piala atau limpahan hadiah. Penghargaan bisa saja hanya sebuah ucapan atau jabatan tangan dan mungkin sekedar rangkulan dan tepukan di bahu. Tapi, efek dari penghargaan itulah yang akan menjadikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.
Bagiku, penghargaan itu bagaikan suntikan semangat. Sebuah penghargaan yang aku dapatkan bisa menjadikan aku merasa ada dan diakui. Sejak kecil aku memang dibiasakan untuk selalu memberikan penghargaan sekecil apapun kepada orang lain. Dan begitu pun sebaliknya, aku pun merasakan kedua orangtuaku selalu memberikan penghargaan, meskipun apa yang aku lakukan hal yang tidak begitu besar. Dan, ketika aku selalu diberikan penghargaan, maka aku pun belajar untuk menghargai apa yang telah orang lain lakukan. Aku diajarkan arti sebuah usaha dan kerja keras.
 Habits itu ternyata terbawa sampai aku dewasa. Ketika aku sudah menjadi seorang guru, aku terapkan itu pada caraku mengajar. Aku selalu memberikan penghargaan kepada anak didikku. Usaha yang telah mereka lakukan untuk menjadi lebih baik, selalu aku berikan reward. Dan, itu sangat memberikan pengaruh yang luar biasa pada proses belajar mengajar.
Tidak hanya itu, sekarang, saat aku sudah diamanahi seorang malaikat kecil yang lucu, aku terapkan kebiasaan baik itu. Ketika si kecil sudah bisa melakukan sesuatu yang baik, aku puji dan juga berikan ciuman dan pelukan hangat. Selain itu, terkadang aku pun memberikan MPASI yang dengan menu khusus dan juga hadiah kecil lainnya sebagai reward.
Meskipun usianya baru 11 bulan, tapi aku ingin sejak dini ia sudah mengenal bagiamana menghargai orang lain. Untuk itulah aku didik ia dengan penuh penghargaan. Karena aku yakin, ketika ia dibesarkan dengan penuh penghargaan, maka ia pun kelak akan dengan mudah menghargai orang lain.
Aku dan suami sudah sepakat, kami ingin belajar untuk senantiasa bersikap memanusiakan manusia. Kami tidak pernah berpikir, kalau usia anak kami masih sangat kecil dan belum mengerti. Kami yakin, meskipun ia usianya belum genap 1 tahun, ia sudah merasakan bagaimana kami memperlakukannya. Ia sudah bisa melihat dan menyimpan memori ilmu menghargai, hanya saja ia belum bisa berbicara apa yang ia rasakan.
Sejatinya ketika kita memberikan penghargaan kepada orang lain, kita sedang mendapatkan penghargaan untuk diri kita. Kita sedang menyimpan deposit kebahagiaan dalam hati dan jiwa kita. Selain itu, kita juga sedang mengisi tanki cinta dalam hidup kita.
Aku yakin, sebuah penghargaan, sekecil apapun itu bisa mengubah hitam menjadi putih, bisa mengganti tangis menjadi tawa dan melebur sedih menjadi bahagia. Penghargaan itu memberi amunisi cinta untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Bagiku, penghargaan itu merupakan tanda cinta tanpa cela.  
Seperti halnya juga Sodexo, sesuai dengan tagline-nya “Quality of Life Services”, senantiasa memberikan penghargaan yang luar biasa kepada klien, baik itu perusahaan, penjual atau kita sebagai konsumen. Dengan misi globalnya selalu memberikan senyuman kepada semua orang, Sodexo memberikan pelayanan yang inovatif sebagai bukti penghargaan pada semua pihak. Bukti dari penghargaan yang luar biasa pada pelanggannya, Sodexo memberkan fasilitas voucher belanja sodexo yang terhubung dengan merchant sodexo yang jumlahnya tidak sedikit.


Friday, August 5, 2016

Semua Karena ASI

August 05, 2016 2 Comments

Menjadi ibu dari satu anak tentunya mengalami banyak cerita seru dalam mengurus si kecil. Kehadiran si kecil di tahun pertama pernikahanku membuat semua rasa bercampur menjadi satu. Tidak hanya itu, kelahiran si kecil yang masih berusia 8 bulan di kandungan pun menjadi kisah tersendiri yang sulit terlupakan.
Ya, ketika usia kehamilanku menginjak 8 bulan, aku mengalami pecah ketuban selama 2 hari. Awalnya, Dokter memberiku suntikan penguat paru-paru agar bayi bisa bertahan sampai 9 bulan dalam kandungan. Tapi, karena kondisi psikologisku sangat tertekan, bayi dalam kandungan beberapa kali tidak terdengar detak jantungnya, namun aku belum mengalami pembukaan sama sekali. Dan saat itu, aku mengalami sakit luar biasa di bagian perut. 
Tepat 2 jam setelah kejadian itu, aku langsung mengalami pembukaan sepuluh. Tiga orang dokter dan empat bidan langsung menanganiku saat itu juga. Ada banyak perkiraan para dokter. Mulai dari aku hanya bisa melahirkan dengan jalan operasi caesar. Selain itu, ada dua kemungkinan, ibu dan anak tidak akan selamat atau salah satu dari kami yang bisa bertahan. Tidak hanya itu, prediksi lainnya pun, kalaupun si bayi lahir, ia akan terlahir prematur dan perlu diinkubator. Aku dan suami hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Allah Swt.

Tapi, syukur alhamdulillah, tepat tanggal 7 September 2015 pukul 21.55 terdengar tangis nyaring malaikat kecilku. Ia lahir dengan selamat dan normal. Semua perkiraan dokter sama sekali tidak terbukti. Aku dan suami menangis bahagia penuh syukur.
Namun, ujian cinta tidak berakhir sampai disitu. Tepat ketika ia berusia 3 hari, kadar bilirubin berada dalam batas yang tidak seharusnya. Kami diberikan pilihan oleh dokter, apa mau diberikan tindakan dengan disinar atau diberikan terapi ASI dan berjemur. Akhirnya, aku dan suami memilih untuk mengambil pilihan kedua.
Sejak saat itu, aku dan suami mulai mengajak bicara si kecil. Setiap kali kami bisikkan agar si kecil mau menyusui setiap 1 jam sekali. Bahkan seringkali aku menyusui saat sedang mengajar les. Itu semua kami lakukan agar kadar bilirubinnya bisa normal.
Setelah 2 minggu, kami pun mengecek kembali kondisi si kecil. Alhamdulillah, kadar bilirubinnya sudah normal. Aku dan suami pun bisa bernapas lega. Sejak saat itu, aku pun benar-benar menjaga makanan agar ASI-ku bisa berlimpah, dan si kecil bisa mendapatkan ASI yang berkualitas.
Dari hari ke hari, pertumbuhan si kecil sangat luar biasa. Mulai dari fisik yang sehat. Di usianya yang mau menginjak 11 bulan, berat badannya mencapai 10,9 kg. Padahal berat badan lahirnya hanya 2,5 kg. Selain itu juga, kecerdasan si kecil pun sering kali membuat kami takjub. Ia sudah bisa mengingat beberapa kata dalam bahasa Inggris. Ketika aku menyebutkan nama benda dalam Bahasa Inggris, matanya langsung mencari benda yang aku sebutkan itu.

Hal lain yang patut kamu syukuri juga ialah setiap kali kami ajak untuk travelling, baik jarak dekat maupun jauh, ia sama sekali tidak pernah rewel. Malah sebaliknya, ia sangat menikmatinya. Terakhir, kami mengajaknya mudik dari Jember ke Bandung, alhamdulillah ia sehat dan tetap ceria di sepanjang perjalanan hingga sampai ke tempat tujuan dan kembali ke rumah.

Dengan hasil yang luar biasa itu, aku dan suami sepakat untuk tetap memberikan ASI tanpa bantuan susu formula hingga usianya genap 2 tahun. Apalagi aku bukanlah seorang ibu bekerja, jadi aku bisa lebih fokus untuk mencurahkan rasa cinta lewat aktivitas menyusui. Aku pun bersyukur, karena suamiku sangat memberikan perhatian penuh, sehingga aku merasa nyaman dan tenang saat memberikan ASI kepada si kecil. 
Bagiku, ASI adalah hadiah terindah untuk si kecil. Aku berharap semoga setiap tetesan ASI yang diminum menjadi syariat ia tumbuh menjadi anak yang sholeh, sehat, cerdas dan senantiasa menjadi penyejuk hati perekat cinta. Inilah caraku untuk bersyukur karena Allah Swt sudah memilihku untuk dititipi amanah terindah. 


Oya, di akhir tulisanku ini, aku ingin mengajak semua sahabat wanita yang memiliki bayi, jangan takut untuk menyusi. Di Pekan ASI Dunia yang jatuh pada tanggal 1 - 7 Agustus, kita sama-sama mengingatkan untuk kembali melihat fitrah kita sebagai seorang ibu. ASI bukan hanya sekedar tetesan air susu, tapi ada pesan cinta yang akan kita berikan untuk si kecil. Aktivitas menyusui bukan hanya pemenuhan kewajiban semata, tapi merupakan tanda cinta seorang ibu kepada anaknya. 

Friday, July 29, 2016

Ini Bandung, Nak!

July 29, 2016 0 Comments

Banyak hal yang berbeda di lebaran tahun ini. Aku merasa Hari Raya Idul Fitri kali ini memberi makna yang begitu dalam. Setelah 8 bulan lebih tidak menyapa kampung halaman, hari raya ialah waktu yang paling dinanti. Ada rasa yang memaksa, ada rindu yang harus terobati.
Perjalanan mudik kali ini memang penuh tantangan. Suami yang sedang riweuh dengan kerjaan di kantor membuat aku khawatir rencana mudik akan tertunda. Apalagi 2 minggu sebelum keberangkatan, suami memberi tahu kalau akan ada pelatihan setelah hari raya. Itu artinya, suami tidak bisa mengambil cuti setelah cuti bersama. Tapi, syukurlah, karena izin yang diajukan oleh suami sudah dari 3 bulan sebelumnya, jadi pihak pimpinan pun tetap memberikan izin.
Tantangan mudik tidak berhenti sampai di situ. Tepat seminggu sebelum keberangkatan menuju Bandung, mulai muncul pemberitaan tentang himbauan kepada PNS untuk tidak mengambil cuti setelah hari raya. Aku dan suami menghela napas panjang. Pikiran dan perasaan pun bercampur tidak menentu. Andaikan suami tidak diizinkan untuk mengambil cuti, banyak hal yang harus kami pikrikan ulang. Mulai dari tiket kepulangan yang sudah kami pesan 3 bulan sebelumnya, sampai menjaga perasaan kedua orangtua yang tentunya waktu bertemu dengan cucunya sangat singkat.
Tapi, semuanya kami serahkan kepada Allah Swt. Aku dan suami berdoa yang terbaik untuk semuanya. Alhamdulillah, ternyata suami masih tetap diizinkan untuk mengambil cuti tambahan. Aku dan suami bersyukur karena setidaknya waktu pertemuan dengan keluarga di Bandung tidak terlalu singkat.
Tidak hanya tantangan yang membuat mudik kali ini terasa berbeda. Perjalanan mudik kali pertama bagi si kecil pun, menjadi perhatian besar kami. Semua persiapan sudah kami lakukan dari jauh hari. Kami tidak menapik adanya kekhawatiran dengan perjalanan yang tidak bisa dibilang dekat. Selain itu, bagi si kecil, inilah pertama kalinya melakukan perjalanan menggunakan pesawat di saat usia masih 10 bulan kurang.

Namun, ternyata semua ketakutan itu sama sekali tidak terjadi. Si kecil sangat menikmati perjalanan dari Jember ke Surabaya pukul 10 malam, dan harus ditempuh dalam waktu 5 jam. Tidak hanya sampai disitu, kami pun harus bersabar menunggu di bandara sekitar 3 jam, hingga akhirnya melanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju Bandung. Tapi, syukurlah, dimanapun berada, si kecil asyik lirik kanan kiri dan menyapa setiap orang didekatnya. #MemangAnakRamah J
Kedatangan si kecil di tengah keluarga besar di Bandung memang sudah sangat dinanti-nanti. Senyuman, tatapan mata tajam dan juga celotehannya membuat Mamah dan Bapak tersenyum lebar. Si kecil mampu menjadi ‘obat’ bagi mereka. Kehadirannya memberi warna yang berbeda.
Merayakan hari raya bersama orangtua dan keluarga besar merupakan momen yang tidak bisa tergantikan. Saat kebersamaan, melihat senyum bahagia kedua orangtua dan juga keriuhan keluarga besar menjadikan semuanya akan menjadi kenangan di kemudian hari. Apalagi bagiku yang sudah lama tidak berkunjung ke tanah kelahiran, momen lebaran kali ini menjadi penawar rindu.

Menjejakkan kaki kembali di bumi parahyangan kali ini pun, tidak akan kami sia-siakan begitu juga. Selain memang ingin silaturrahim dan merayakan Idul Fitri, aku dan suami juga ingin memperkenalkan si kecil Azka dengan tanah kelahirannya. Waktu 2 minggu, kami manfaatkan untuk melihat kota Bandung dengan segala keindahannya. Kami pun mengajak serta keluarga besar untuk menemani si kecil Azka untuk mengenal kota kembang yang terus berkembang.


Meskipun memang terlalu singkat waktunya untuk berkumpul dengan keluarga besar di Bandung. Rasanya berat ketika harus menggantikan keceriaan di wajah Mamah dan Bapak dengan tangis perpisahan. Tapi, aku bersyukur karena setidaknya ada kesan manis yang tertinggal, ada rasa yang terobati. Lebaran yang sekaligus reuni plus silaturrahim ini, akan menjadi cerita sendiri. Dan, satu hal lagi, aku dan suami pun merasa senang karena sudah memperkenalkan si kecil akan kota kelahirannya. Ada banyak kisah yang akan menjadi kenangan tersendiri baginya. 


The upcoming event of Diary Hijaber "Hari Hijaber Nasional" on August 7th - 8th, 2016 at Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta. Don't miss it!!!

Tuesday, May 31, 2016

Bahagia di Rumah

May 31, 2016 0 Comments

Menjadi wanita memang sejatinya berfitrah untuk menjadi istri dan ibu. Seorang istri memiliki hak dan kewajiban menjadi partner bagi suami. Sedangkan seorang ibu, sudah menjadi tugasnya menjadi baby sitter bagi amanah yang dititipkan oleh Sang Penggenggam Jiwa.
Aku, yang dulu sebelum menikah sangat workaholic, kini harus mengerem sekuat tenaga kebiasaanku itu. Memang tidak ada tuntutan apapun dari suami. Namun, aku sudah bertekad, jika pilihan terbaik dari hasil keputusan bersama, aku harus fokus untuk mengatur keseharian di rumah tangga, maka akan aku jalani dengan senang hati.
Selain karena hasil keputusan aku dan suami, aku juga memang memiliki impian terbesar dalam hidupku. Ya, impian terbesar, yang bahkan muncul jauh sebelum aku menikah. Aku ingin menjadi bagian dari tumbuh kembang anak-anakku. Aku sangat tidak rela jika anak-anakku lebih dekat dengan pengasuh atau orang lain. Aku berpikir karena aku telah dipercaya untuk mengandung dan melahirkan, maka aku pun tidak akan menyia-nyiakan hadiah terindah ini.

Melihat senyuman manis, mendengar ocehan yang menggemaskan dan juga tingkah yang lucu, merupakan suntikan vitamin kebahagiaan setiap hari. Memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan si kecil yang begitu pesat, membuatku tak berhenti bersyukur. Aku akan sangat menyesal jika aku melewatkan momen-momen berharga yang tidak akan bisa terulang ini.

Sekarang, aku sedang menjalani episode menjadi seorang istri dan ibu dari satu putra. Prioritasku ialah menjadi bagian cerita indah dalam lembaran-lembaran kisah kehidupan suami dan anakku. Aku tidak ingin terlewatkan satu bagian dari penggalan cerita itu.
Bagiku, berdiam di rumah itu bukan berarti tidak bisa mengekspresikan diri. Di tengah waktuku yang tersita bahagia dengan menjalani keseharian menjadi ibu rumah tangga, aku masih bisa memiliki waktu untuk menulis sebagai hobiku. Ya, aku masih bisa merasakan me time dengan menulis dan membaca.
Awalnya aku berpikir untuk meninggalkan sama sekali hobiku ini. Tapi, atas masukan dan juga izin dari suami, aku akhirnya memutuskan untuk tetap menjalani kebiasaan yang sudah aku lakukan sejak kecil. Aku dan suami sepakat untuk mengenalkan si kecil dengan habits menulis dan membaca. Menurut kami, tidak ada salahnya ketika aku melibatkan si kecil ketika membaca dan menulis.
Ada kebahagiaan tersendiri ketika aku bisa menyelesaikan sebuah tulisan dengan ditemani si kecil. Terkadang lucu, saat tangan kiri menggendong dan tangan kanan mengetik dengan fokus yang terkadang harus terpotong tiap 10 menit. Tidak hanya itu, jika si kecil sedang tidak ingin diduakan perhatiaanya, maka aku harus menunggu hingga ia tertidur pulas. Tapi, saat-saat seperti itulah yang menjadi penggalan kisah yang menjadikan cerita semakin berwarna.

Berada di rumah juga, bukanlah menjadi halangan untuk terus berkarya. Memang benar, sebagai seorang istri dan ibu, aku harus fokus kepada keluarga. Tapi, aku yakin apa yang aku lakukan ini tidak bertentangan dengan kewajibanku sebagai seorang istri dan ibu.
Bagiku, bahagia itu sederhana. Saat aku bisa menemani si kecil belajar banyak tentang apapun dan aku juga bisa menjadi guru pertama baginya. Karena menurutku, sejatinya tempat yang paling berharga bagi seorang ibu dan istri ialah rumah. Dari rumahlah, akan muncul generasi-generasi yang dicetak oleh kehalusan dan kasih sayang kita sebagai seorang ibu.
Betapa bahagianya, ketika anak-anak kita dewasa, mereka tumbuh menjadi orang-orang yang penuh dengan cinta. Itu semua karena kita tak pernah lelah menambah deposit cinta dan perhatian kepada mereka. Seperti halnya Tabloid Nova, yang hingga perayaan novaversary, tidak pernah berhenti memberikan inspirasi dan motivasi kepada semua wanita.
              

Friday, May 6, 2016

Mamah

May 06, 2016 0 Comments

Mah, sudah hampir 6 bulan Neng nggak bertemu Mamah. Bukan waktu yang sebentar tentunya. Jauh dari sosok yang sebelumnya begitu dekat. Sosok yang selalu menginspirasi dan memberikan banyak teladan.
Mah, Neng selalu membayangkan, andaikan waktu bisa dilipat dan semua harap menjadi kenyataan. Neng rindu bisa melihat Mamah setiap hari. Neng kangen merasakan kebersamaan kita. Neng merasa sangat menyesal karena dulu Neng belum bisa memuliakan dan membahagiakan Mamah.
Mah, nggak terasa ya, Mamah sudah berusia 61 tahun tepat tanggal 5 kemarin. Ah, usia yang sudah tidak muda lagi. Tapi, di usia Mamah yang sudah sepuh, Neng masih belum bisa menjadi perantara kebahagiaan Mamah. Neng masih belum bisa membuat Mamah tersenyum. Malah sebaliknya, dari dulu hingga sekarang Neng selalu menyusahkan Mamah.
Mah, Neng belum bisa menjadi istri dan ibu sehebat Mamah. Mamah selalu bisa menyembunyikan tangis dalam senyuman dan semangat hidup yang tak pernah redup. Mamah selalu mendahulukan kebahagiaan orang lain. Bahkan seringkali Mamah mengorbankan dirinya hanya untuk orang lain. Tidak ada sisi egois sedikit pun dalam diri Mamah. Ah, Neng harus banyak belajar dari Mamah.
Mah, maafkan Neng belum bisa membuat bangga Mamah. Neng hanya bisa mendoakan Mamah. Neng selalu berdoa yang terbaik buat Mamah. Neng selalu berharap Allah Swt masih memberikan kesempatan kepada Neng untuk bisa memuliakan dan membahagiakan Mamah. Terus sehat dan bahagia selalu, Mah. Neng rindu memeluk dan melihat senyum Mamah J .




Monday, May 2, 2016

Terasa Berbeda

May 02, 2016 10 Comments

20 April, tanggal yang tidak akan aku lupakan. Mungkin sebagian orang hanya melihat dari 2 angka yang digabungkan menjadi satu. Tapi, bagiku tanggal ini ialah tanda saat seorang insan yang kini jatah usianya sudah semakin berkurang. Ya, di tanggal inilah aku dilahirkan.
Sebenarnya hanya satu kali aku merasakan perayaan ulang tahun dari orang tuaku, dan itupun ketika aku masih kecil. Selebihnya aku sering menerima suprise dan hadiah yang tak terkira dari murid-muridku. Namun, 2 tahun terakhir, ada sedikit yang berbeda.
Ya, tahun kemarin, di saat usia pernikahan baru menginjak 4 bulan, suamiku sengaja meluangkan waktu seharian untuk menemaniku berkeliling di kota kelahiranku yang penuh cinta, Bandung. Menelusuri indahnya Bandung masa kini dan mencoba beberapa kuliner kota kembang ini. Sebenarnya itu juga sekalian memperkenalkan Bandung kepada suami yang bukan urang sunda ini. Sekalian jadi tour guide ceritanya J.
Dan, tahun ini, ada atmosfer yang berbeda di momen bertambahnya angka usiaku. Kehadiran si kecil yang semakin lucu dan banyak tingkahnya itu, membuat aku bersyukur berkali-kali. Bagiku, keberadaan suami dan kehadiran si kecil ialah kado terindah dari yang Maha Kuasa. Karena memang menjalani kehidupan yang hampir sempurna ini, membuatku tak bisa lari dari kata bersyukur.
Di ulang tahun kali ini, sebenarnya aku tidak berharap banyak mendapatkan surprise atau hadiah apapun. Aku paham betul, kondisi suami yang sangat sibuk akhir-akhir ini, menjadi alasan paling mendasar. Dengan bisa berkumpul dengan keluarga kecil pun dan juga mendengar keluarga di Bandung sehat, itu jauh membuatku bahagia.
Tapi, ternyata ada sebuah kejutan yang telah disiapkan oleh suamiku. Kejutan di siang bolong. Aku menyebutnya seperti itu. Kejutan yang berhasil membuat air mata ini membasahi pipi.
Ketika aku sedang berada di kamar mandi, suamiku yang seharusya sedang berada di kantor, ternyata pulang. Aku merasa ada yang berbeda dengan sikap suamiku. Tidak biasanya ia menutup pintu kamar rapat-rapat. Dan sangat kebetulan juga, si kecil sedang digendong ibu mertuaku di luar rumah.
Taraaa... Speechless... Ya, aku tak kuasa melihatnya. Sebuah kue ulang tahun bertuliskan nama penaku ada di atas tempat tidur. (Aku tahu kenapa suamiku tidak menuliskan nama asliku, pasti takut nggak muat di kuenya ya hehe...) Aku merasa terharu karena di tengah kesibukan pekerjaan yang tak mengenal kompromi itu, suamiku masih menyempatkan memesan kue sepulang kerja malam sebelumnya. Dan yang paling amazing, kue yang diberikan suamiku itu sama persis dengan kue yang sebulan lalu sempat aku inginkan. Tapi, aku memang tidak pernah mengatakannya kepada suami. Ternyata pesannya langsung terkirim tanpa lewat kata hehe....
Sebenarnya bukan kali ini aku mendapat surprise atau hadiah dari suamiku. Tapi, jujur, bentuk perhatiannya kali ini sangat mengobati rasa rindu pada keluarga besar di rumah. Dan, satu hal lagi, suamiku sudah seringkali memberikan kejutan di momen-momen istimewa. Tapi, aku tidak pernah bisa menebak apa yang akan ia lakukan. Ya, termasuk di ulang tahunku kali ini.
Oya, di ulang tahunku ini juga suamiku berhasil membuatku menangis dan mengeluarkan air mata di depan ibu mertuaku. Hmm... itu adalah aib bagi seorang golongan darah A kalau sampai ketahuan menangis di depan umum. Biasanya kan menutupi tangisan dengan fake smile-nya. Eh...#Abaikan J
Tapi, rasa senangku jauh lebih besar sih dibanding kekesalan dikerjain di depan mertua. Nah, sekarang giliran si aku ini buat merengek minta foto bareng meskipun suamiku hanya menggunakan kaos oblong. Padahal suamiku itu orangnya perfeksionis dan paling nggak pede kalau difoto nggak dalam keadaan rapih. Ya, tapi kan kalau buat istri apapun akan dilakukan. (Demi terciptanya ketenteraman, foto tidak akan di share hehe...)
Bagiku, ulang tahun kali ini terasa sangat berbeda. Beda semuanya pokoknya. It’s the unforgettable birthday for me. Oya, satu hal yang wajib aku tuliskan, seperti apapun perayaan ulang tahunku, yang terpenting aku bisa semakin baik di sisa usiaku ini.





Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke lima Warung Blogger.