Follow Us @soratemplates

Sunday, March 26, 2017

Tanda Cinta untuk Suamiku

March 26, 2017 0 Comments
Sumber: www.elevenia.co.id

Dulu, antara aku dan dirinya tak saling mengenal. Ia yang berasal dari tanah Jawa dan aku USA alias Urang Sunda Asli. Entah keyakinan darimana, ia datang mengetuk pintu rumah meminta izin kepada bapakku untuk mengenalku.
Bagaikan kisah dalam cerpen atau novel. Hanya karena aku suka menulis dan ia telah membaca tulisan-tulisanku, ia dengan yakin berniat meminangku. Tak perlu menunggu waktu lama, dengan keyakinan yang datan begitu saja, aku menerimanya. Tak pernah sekalipun kami bertemu berdua dan mengobrol, apalagi jalan bareng. Kami memiliki cara sendiri untuk saling mengenal.
Meski hanya berjarak 2 minggu dari pertemuan dengan kedua orangtuaku, kami pun bertunangan. Tidak lama dari itu, hanya berselang 3 bulan, janji suci pun melangit disaksikan oleh wali dan para saksi. Sebuah janji yang kami jaga agar tak akan pernah ada celah untuk mengingkarinya.
Kini, perjalanan pernikahanku sudah hampir 3 tahun. Meski kami tak saling mengenal sebelumnya. Tapi, cinta memang tak pernah mengenal durasi dan kondisi. Bahkan, saat ini, kelekatan dan kenyamanan antara kami berdua begitu kuat. Caranya memperlakukanku, benar-benar membuatku bersyukur telah menjadi bagian hidupnya.  
Sejak awal menikah, ia tidak pernah absen memberikan kejutan di momen-momen spesial. Mulai dari awal aku dinyatakan hamil, ulang tahun, hingga setiap kali aku memenangkan lomba menulis. Selalu saja ada hadiah yang memang sedang aku impikan. Bahkan, aku seringkali tak sadar, ia sedang mencari tahu apa keinginanku. Dan, ia selalu berhasil membuat air mataku tak terbendung sebagai tanda bahagia.
Berbeda dengan diriku. Aku selalu saja gagal untuk memberikannya sesuatu yang sedang ia inginkan. Bukan karena aku tak sayang dan perhatian kepada suami, namun selalu saja ada halangan untuk memberikan tanda cinta kepadanya. Di hari ulang tahun yang berbarengan dengan lulus sidang, aku baru saja melahirkan anak pertama. Awalnya aku sudah merencanakan memberikan kejutan kecil. Tapi, semuanya batal karena aku baru pulang dari Rumah Sakit.
Di hari wisudanya pun, aku belum ditadirkan memiliki rezeki untuk membelikannya hadiah. Aku kadang merasa sedih ketika tidak bisa mengungkapkan rasa cinta kepadanya. Meskipun suamiku bilang, aku sudah memberikan hadiah di momen-momen istimewanya. Tapi, tetap saja, aku merasa impianku untuk memberikannya hadiah belum terwujud.
Akhir-akhir ini, suamiku sering sekali mengatakan ingin memiliki sepeda. Niatnya begitu kuat ingin menggunakan sepeda ke kantor, karena ia tak memiliki waktu untuk berolahraga dengan kesibukan kantor yang tak ada hentinya. Bahkan waktu weekend pun kadang harus digunakan untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Jadi, untuk mencari waktu berolahraga sangat sulit sekali.
Sejak awal tahun 2017, ia sudah mengatakan ingin sekali membeli sepeda. Aku sebenarnya langsung mengizinkan tanpa banyak alasan. Namun, suamiku tak juga membelinya. Aku tahu, ia harus menyimpan dulu keinginannya membeli sepeda, karena harus mendahulukan kepentinganku dan juga si kecil.
Aku merasa kasihan kepada suami karena ia harus memendam keinginannya demi anak dan isterinya. Padahal, aku tahu, ia bisa saja langsung mewujudkan impiannya itu. Tapi, selalu ia prioritaskan aku dan si kecil.
Sebagai rasa sayang, aku ingin sekali mewujudkan impiannya memiliki sepeda. Tidak hanya itu, hadiah sepeda ingin aku berikan sebagai ucapan terima kasih atas segala perhatian dan rasa sayangnya kepadaku dan si kecil. Selama ini, ia selalu mengorbankan dan mengenyampingkan kesenangan dirinya sendiri. Karena alasan itulah, aku ingin sekali memberikannya kejutan kecil ini.

Monday, March 20, 2017

POND’S AGE MIRACLE BARU, Rasakan Keajaiban di Wajahmu!

March 20, 2017 2 Comments

“Berapa tahun usiamu sekarang?”
“Kok kamu terlihat lebih tua.”
“Wajahmu kok kusam?”

Sederet pertanyaan dan pernyataan yang bikin beban pikiran bagi para wanita. Perlu diakui, kebanyakan wanita tidak ingin dikatakan tua. Meskipun mungkin dari usianya sudah bisa disebut seperti itu. Tapi, mereka lebih nyaman dikatakan sudah dewasa, matang atau memasuki usia cantik.
Semua wanita pastilah ingin selalu terlihat cantik, awet muda dan menarik. Banyak cara yang dilakukan agar semua itu bisa terwujud. Mulai dari perawatan secara alami hingga metode tercanggih sekalipun akan dilakukan untuk mendapatkannya. Namun, tak jarang sebagian wanita tidak melihat dari sisi kesehatan. Operasi sana-sini atau memilih produk kecantikan abal-abal, dan hasilnya malah menjadikan wajah kita rusak.
Tapi, saat ini, ada jawaban dari kekhawatiran para wanita. The Pond’s Institute baru-baru ini menemukan beberapa fakta mengenai faktor penuaan sebagai berikut:
-       Paparan sinar matahari dapat membuat munculnya kerutan dan kekusaman hingga 20% lebih cepat.
-       Paparan polusi yang tinggi dapat mengurangi elastisitas kulit hingga 2%.
-       Kurang tidur dapat membuat wajah terlihat 2.5 tahun lebih tua (waktu tidur cukup untuk orang dewasa 7-9 jam/hari)
-       Setelah umut 20 tahun, regenerasi kulit dapat melambat hingga 50%
-       Setelah umut 30 tahun, elastisitas kulit berkurang hingga 35% setiap tahunnya.

Dari fakta-fakta tersebut, Pond’s berusaha untuk memberikan solusi terbaik bagi kekhawatiran para kaum hawa tersebut. Pond’s Institute mengeluarkan prosuk baru, POND’S AGE MIRACLE BARU. Dengan 2 jenis krim, yaitu: Day Cream dan Night Cream mampu menyamarkan kerutan lebih cepat dan tampak muda bercahaya.
Pond’s Age Miracle Day Cream dan Night Cream mengandung Retinol-C Complex. Retinol merupakan kandungan emas untuk produk anti-aging. Bahan aktif Retinol-C Complex dan teknologi Time Release dipatenkan hanya untuk Pond’s dan tidak dimiliki oleh produk anti-aging lainnya.  
Dengan kelebihan tersebut, Pond’s Age Miracle Baru layak untuk dipilih. Pemakaian yang teratur akan memberikan hasil yang luar biasa. Memiliki wajah yang tampak lebih muda, bercahaya dan tentunya lebih sehat bukan lagi sekadar impian. Semuanya menjadi nyata dengan kehadiran POND’S AGE MIRACLE BARU. 

Monday, March 13, 2017

Hadiah Terindah

March 13, 2017 0 Comments

Dua garis merah. Sebuah tanda yang merubah segalanya. Semua rasa tercampur menjadi satu. Senyuman seakan tak mau beranjak dari wajah. Layaknya anak kecil yang diberi hadiah, aku dan suami sangat luar biasa bahagia.
Sejak aku dinyatakan positif hamil oleh Bidan, suami dan orang-orang di sekitarku tak henti-hentinya mengingatkanku untuk menjaga kesehatan. Aku pun terus belajar untuk lebih care terhadap tubuh. Kebiasaan tidur larut malam pun, aku tinggalkan. Termasuk dalam hal makan pun, kalau sebelum menikah dan hamil, aku lebih sering menunda makan, kini aku harus berpikir kesehatan janin dalam rahimku.
Hamil, bagiku, adalah sebuah momen yang tidak bisa terlupakan. Meskipun aku belum melihat fisiknya, tapi aku sudah menghadirkan sosok itu dalam setiap aktivitasku. Aku dan suami hampir setiap hari mengajak ngobrol jabang bayi. Mengusap perut dan mengajak bercerita merupakan dua kebiasaan baru sejak aku hamil.
Meskipun awalnya kandunganku dinyatakan lemah, tapi aku yakin dedek bayi dalam rahimku akan tumbuh dengan sehat. Aku selalu menyempatkan diri untuk berolahraga ringan dan juga senam hamil. Tidak hanya itu, asupan makanan dan minuman pun menjadi hal yang selalu aku perhatikan.
Dari awal kehamilan, suamiku selalu membelikanku susu hamil. Tapi seiring berjalannya waktu, kami terus mencari tahu tentang yang kelebihan dan kekurangannya. Dan, akhirnya aku memutuskan untuk menggantinya dengan mengonsumsi madu dan kurma. Selain itu, sayuran dan buah-buahan menjadi makanan wajib setiap hari.
Aku sangat menikmati masa kehamilan ini. Tidak ada masalah yang berarti dengan janin dan juga diriku sendiri. Hanya saja, berat badanku memang harus sedikit ditambag, begitu saran dari Bidan. Tapi, selebihnya, kami berdua dalam kondisi sehat.
Ketika usia kandungan menginjak 5 bulan, aku melakukan USG 4 Dimensi. Ah, momen yang sangat menyenangkan saat melihat malaikat kecil kami sudah mulai berbentuk sempurna. Rasanya sudah tidak sabar ingin memeluk tubuh mungil itu.
Perkembangan jabang bayi pun terus kami pantau melalui USG setiap bulannya. Setiap bulan ada saja yang membuat kami tersenyum, mulai dari melihat pipinya yang tembem, belahan di dagunya dan alat kelamin yang sudah sangat jelas terlihat. Sampai saat ini, foto-foto USG masih tersimpan rapih dalam file khusus si kecil.
Layaknya sebuah cerita, selalu ada sisi yang kurang menyenangkan. Entah itu sebagai bumbu agar kisah menjadi lebih menarik, atau ada pesan dari langit yang akan menjadi pelajaran bagi banyak orang. Tepat di usia kandungan 8 bulan, aku mengalami masalah dengan kandunganku.
Ya, saat itu, tepatnya hari Minggu pagi, ada cairan yang keluar. Aku tidak pernah berpikir kalau itu adalah cairan ketuban. Bahkan aku tidak menceritakannya kepada suami. Tapi, sampai siang hari, cairan tersebut terus saja keluar. Akhirnya, aku ceritakan kepada suami. Aku benar-benar cemas. Timbul kekhawatiran akan kondisi dedek bayi. Namun, kami sepakat untuk tidak memberitahukan kepada siapapun, termasuk orangtua.
Hingga sore hari, cairan itu terus keluar. Kami pun memutuskan untuk memeriksakannya kepada Bidan. Tapi, karena saat itu hanya ada asistennya, aku tidak banyak konsultasi tentang kondisiku. Aku pun diminta untuk melihat perkembangan hingga besok pagi untuk memastikan apakah yang keluar itu benar-benar cairan ketuban atau bukan.
Keesokan paginya aku periksakan kembali ke Bidan, dan ternyata cairan itu benar-benar ketuban. Tapi yang menjadi masalah, aku belum mengalami pembukaan sama sekali. Karena peralatan di klinik bidan tersebut tidak lengkap, maka aku dirujuk ke Dokter Kandungan. Siang itu juga, aku langsung diantar suami menuju tempat praktek dokter tersebut.
Aku mendaftar pukul 1 siang, dan mendapat giliran masuk ruangan pemeriksaan pukul 5 sore. Ketika melihat gambar di layar, aku tidak bisa menyembunyikan rasa kekhawatiran. Air ketuban dalam rahim sama sekali sudah habis. Dokter mencoba menenangkan dan mengatakan janin dalam keadaan baik. Tapi, tetap saja, logikanya darimana janin mendapat asupan makanan kalau air ketuban sudah habis merembes keluar.
Dokter memberikan solusi dengan memberikan suntikan penguat paru janin, agar ia bisa bertahan hingga usia 9 bulan. Aku dan suami langsung menyetujuinya. Sore itu, obat penguat paru langsung disuntikan ke tubuhku. Selain itu, aku pun harus opname selama 2 hari di klinik tersebut.
 Sejak sore, alat pendeteksi detak jantung bayi dan juga tingkat stress ibu dipasang di tubuhku. Grafiknya membuat perawat yang menjagaku terus menasehati agar aku tetap tenang. Hal itu ia lakukan, karena beberapa kali, detak jantung bayi berhenti. Suamiku pun terus mendampingiku untuk terus berdoa.
Setelah berada pada garis normal, akhirnya aku dipindahkan dari ruangan tindakan ke ruang inap. Meskipun aku masih tertidur lemas dengan selang infus di tangan, tapi masih bisa bercengkerama dengan kakak pertamaku yang datang menjenguk. Tapi, entah kenapa tiba-tiba saja perutku terasa begitu sakit ketika suamiku berusaha menyuapi makan malam.
Karena rasa sakit yang sudah tidak tertahankan lagi, akhirnya suami memanggil perawat yang sedang berjaga. Perawat tersebut langsung terlihat panik dan memanggil beberapa orang temannya. Aku hanya mendengat teriakan mereka, kalau aku sudah mengalami pembukaan 10. Aku pun langsung dibopong menuju ruang tindakan. Tiga orang dokter dan empat orang bidan berada di ruangan tersebut.
Aku tak henti-hentinya menjerit kesakitan. Rasanya inilah akhir dari hidupku. Saat itu, aku hanya bisa memasrahkan semuanya kepada Allah Swt. Dan, sebuah keajaiban aku alami, suara tangis bayi mungil memecah keheningan ruang tindakan. Aku melihat air mata suami memaksa keluar dari pelupuk matanya. Bayi kami lahir dalam keadaan normal dan sehat.

Satu hal lagi yang membuatku tak henti bersyukur, awalnya para dokter menyebutkan kalau bayi kami akan lahir prematur dan itu artinya harus masuk ruang inkubator terlebih dahulu. Tapi, alhamdulillah, bayi kami lahir dengan berat badan normal, dan seluruh anggota tubuh pun berfungsi layaknya bayi yang lahir di usia 9 bulan. Aku pun bisa langsung melakukan inisiasi dini. Memeluk malaikat kecilku untuk pertama kalinya merupakan kebahagiaan yang tak bisa dibandingkan dengan apapun.

Apa yang aku alami merupakan sebuah pelajaran hidup yang luar biasa bagiku dan suami. Dari proses kehamilan yang tak diduga, hingga proses kelahiran yang memiliki cerita tak biasa. Bagi kami, kehadiran si kecil memberikan kisah yang sulit untuk terlupakan. Karena alasan itulah, aku benar-benar bertekad untuk menjaga dan menemani tumbuh kembang si kecil. 

Thursday, February 23, 2017

Cara Cerdas Memindahkan Risiko

February 23, 2017 0 Comments
Sumber: www.sy4m.com

Menjadi tua itu pasti. Ketika kita diberikan waktu lebih panjang untuk hidup di dunia ini, maka kita akan merasakan masa tua. Masa dimana kekuatan fisik menurun dan produktifitas pun akan berkurang.
Masa tua, untuk sebagian orang menjadi momok yang menakutkan. Ada ketakutan untuk menjalani saat dimana kita tidak bisa lagi beraktifitas seperti ketika masih muda. Tidak hanya itu, masalah kesehatan pun seringkali menghantui masa-masa tua.
Bagi kita yang masih muda mungkin belum merasakan hal tersebut. Kita masih bisa melakukan apapun yang kita ingin lakukan. Kita juga bisa menikmati hidup dengan cara yang kita mau. Tidak ada penghalang untuk mengejar cita-cita menggapai pemenuhan kesenangan dan ketenangan lahir bathin.
Tapi, itu semua tidak akan abadi. Ada saat dimana tubuh ini mulai terasa lelah ketika beraktifitas meskipun tidak seberapa berat. Ada waktu dimana kegiatan hanya terfokus pada sekitar rumah. Bahkan tidak jarang, kita hanyabisa terbaring lemas karena masalah penyakit di masa tua.
Tentunya kita tidak ingin melalui masa tua denga hal yang tidak menyenangkan. Kita tidak ingin kehilangan momen indah untuk menikmati masa tua bersama keluarga. Kita juga tidak ingin melewati waktu tanpa bermain dengan cucu.
Tapi, kembali lagi, semuanya kembali kepada lifestyle ketika kita masih muda. Apa yang menjadi habits ketika masa muda akan berdampak pada masa tua kita. Ketika kita tidak pernah menjaga kesehatan, hidup semau gue, pikiran negatif menjadi santapan setiap hari, dan seabreg kebiasaan jelek, maka efeknya akan kita rasakan ketika usia sudah semakin senja.
Terkadang kita memang sering menyepelekan lifestyle yang baik. Merasa tubuh masih kuat dan tidak memiliki penyakit, kita pun melupakan olahraga, cek kesehatan dan juga menjaga pola makan serta pola pikir. Alhasil, kita tidak bisa menikmati masa tua.
Untuk itu, ada baiknya kita berkaca pada apa yang terjadi pada orang-orang sekitar kita. Mengambil pelajaran akan jauh lebih berharga daripada menyesali di kemudian hari. Ada banyak cara untuk menikmati sisa hidup yang diberikan oleh Yang Maha Pencipta.
Kita bisa mulai dari sekarang untuk bisa menikmati hari tua. Mulailah dengan membiasakan diri berolahraga, mengatur pola makan dan istirahat. Dan, tentu saja yang tidak kalah penting ialah menjaga pikiran agar tetap positif. Karena kita semua sadar, semua penyakit bersumber dari pikiran. Ketika kita bisa mengontrol pikiran, maka kita pun bisa mengontol tubuh ini untuk tetap baik.
Memang tidak mudah untuk menjad pikiran untuk tetap positif. Dengan kondisi yang terkadang tidak bersahabat, tidak terasa kita akhirnya terbawa untuk berpikiran negatif. Masalah yang bertumpuk, mulai dari masalah ekonomi hingga kesehatan, terkadang menjadikan kondisi tubuh semakin terpuruk.
Karena alasan itulah, sudah saatnya kita berpikir cerdas untuk memindahkan sebagian risiko hidup. BPJS Ketenagakerjaan merupakan solusi cerdas untuk memindahkan  risiko kita di hari tua. Dengan adanya jaminan hari tua dan jaminan pensiun menjadikan kita bisa lebih tenang dalam menjalani masa tua. Artinya, pikiran kita tidak terlalu terbebani dengan permasalahan yang sebenarnya bisa diatasi sebelumnya.

Untuk itulah, mempersiapkan segala hal yang untuk masa tua sejak dini merupakan cara terbaik. Dan, tentu saja keberadaan BPJS Ketenagakerjaan sangat membantu kita dalam mempersiapkan semua itu. Sekali lagi, menjadi tua itu pasti, tapi menjadi tua yang bahagia dan mandiri itu pilihan. 

Sunday, February 12, 2017

Smart City, Smart People, and Smart Civilization

February 12, 2017 0 Comments
Sumber: www.financialtribune.com 

Membangun sebuah kota sejatinya ialah membangun sebuah peradaban. Memang tidaklah mudah untuk mengatur banyak kepala dengan beragam karakter dan juga latar belakang. Tak jarang niat baik tidak bisa diterima hanya karena sebuah kebiasaan yang sudah terpatri. Perubahan ke arah yang lebih maju terkadang dipahami sebagai ketidaknyamanan yang tidak boleh terjadi.
Kalau boleh kita mengambil benang merah, semuanya ada pada satu kata, mental. Ya, ketika orang-orang sudah memiliki mental pemenang, maka perubahan positif yang terjadi akan ditanggai dengan semangat positif. Tapi, ketika mentalnya ialah mental pecundang, maka sebuah perubahan akan membuatnya merasa tidak nyaman dan terusik.
Begitu pun yang terjadi di beberapa kota di Indonesia. Bukan lagi sebuah rahasia ketika pemimpinnya sudah sangat luar biasa, tapi kota itu seakan jalan di tempat. Dan, kalau kita perhatikan masalahnya ialah ada pada para staf atau anak buahnya sendiri. Mereka merasa sudah enak karena berada di zona nyaman. Ketika sang pemimpin mengeluarkan sebuah kebijakan atau peraturan baru untuk merubah daerahnya agar lebih maju, mereka enggan untuk mengikuti pola kerja pemimpinnya.
Lucu memang kalau kita perhatikan. Tidak jarang banyak orang yang berkoar-koar ingin negeri ini maju, tapi melakukan perubahan dalam lingkup yang lebih kecil saja, ogah-ogahan. Tidak sedikit kepala daerah hanya sibuk memperkaya diri sendiri, bahkan terjerat kasus yang tidak seharusnya. Perubahan yang digaung-gaungkan hanyalah sebuah angan-angan yang sulit diraih.
Tapi, tentu saja kita tidak harus berkecil hati. Diantara kasus-kasus daerah yang bermasalah, masih ada beberapa kepala daerah yang cerdas dalam memimpin. Mereka tak pernah lelah dalam memikirkan cara terbaik untuk membangun daerahnya. Ketika cara konvensional tidak bisa merubah secara signifikan, maka harus ada cara cerdas untuk mengatasinya.
Berhadapan dengan orang memang tidak semudah ketika berhadapan dengan benda. Karena alasan itulah, ketika seorang kepala daerah memiliki keinginan untuk dapat mengatur daerahnya dengan baik, maka ia harus masuk ke berbagai karakter dan juga kebiasaan yang sudah terbentuk pada kepemimpinan sebelumnya.
Sistem. Ya, kuncinya ada di situ. Ketika kita membuat sebuah sistem yang saling berintegrasi dengan memaksimalkan perkembangan teknologi informasi, maka orang-orang pun mau tidak akan mengikuti sistem itu dengan sendirinya. Dan, itulah kunci dari smart city.
Di era digital sekarang ini, orang-orang sudah mencari sesuatu yang lebih praktis, begitu pun dalam hal pelayanan publik. Kita semua harus menyadari kalau saat ini, hampir semua orang sudah gadget minded. Tidak hanya itu para generasi millenial yang jumlahnya luar biasa banyak harus menjadi perhatian lebih. Jangan sampai warga akan berpikiran apatis dengan cara kerja para punggawa pemerintahan.
Kita bisa mengambil contoh Kota Bandung. Dengan kecerdasan wali kotanya, kota ini bisa merubah paradigma masyarakat kepada pegawai pemerintahan. Warga semakin mudah untuk berkomunikasi dengan pemimpin. Dan, begitu pun kepala daerah bisa dengan mudah mengontrol kinerja bawahannya, serta perkembangan yang terjadi di masyarakat dengan memanfaatkan sistem IT yang saling berintegrasi.

Intinya, semua kota bisa menjadi smart city, asalkan ada kemauan keras dari kepala daerahnya untuk memimpin dengan cerdas. Semua hal harus sudah bisa diakses dengan cara online. Teknologi informasi benar-benar dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dengan cara seperti itu, Smart City Indonesia bukan lagi hanya impian belaka. Kota yang cerdas dengan penduduk yang cerdas, dan akhirnya akan tercipta peradaban yang cerdas pula. Smart City, Smart People, and Smart Civilization.

Wednesday, February 8, 2017

Jejak Sejarah yang Terlupakan (Review Buku)

February 08, 2017 0 Comments

Judul                          : Journey to Andalusia: Jelajah Tiga Daulah
Penulis                       : Marfuah Panji Astuti
Penerbit                     : BIP Kelompok Gramedia
Tebal Halaman          : 190 Halaman
Tahun Terbit              : 2017
ISBN                         : 978-602-394-391-3

Andalusia, negeri sejuta cahaya, tempat segala hal hebat berawal. Islam pernah hadir dan menyinari negeri ini dengan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan selama 800 tahun. 2/3 lebih sejarah Islam ada di sana.
Sebuah catatan perjalanan untuk menapaki sejarah Islam yang kini terlupakan. Penulis begitu detail menceritakan dari mulai Maroko hingga ke Andulusia. Penulis ingin menapaktilasi jejak perjuangan Musa bin Nushair dan panglimanya Thariq ibn Ziyad saat menaklukkan semenanjung Iberia.
Andalusia adalah sejarah yang terampas. Tidak banyak yang tahu tentang peran penting Islam dalam memajukan peradaban saat itu. Mungkin sebagian orang ketika mendengar Eropa, pastilah yang terbersit ialah segala kemegahan, kehebatan pengetahuan dan juga kemajuan teknologi.  
Berbicara tentang sejarah Islam di Eropa, kita tidak bisa melupakan kota sejuta cahaya, Cordoba. Cordoba adalah sebuah nama, namun bagi bangsa Eropa, Cordoba bagaikan alunan nada-nada indah. Dari sinilah kebangkitan peradaban bermula. Dari rahim Cordoba lahir para pemikir yang belum tertandingi hingga kini, sebut saja Ibn Rusyd atau di Barat dikenal sebagai Aviroes. (hal.105-106)
Mengunjungi Cordoba, tak lengkap rasanya jika tidak menjejaki mezquita. Mezquita yang awalnya adalah bangunan sebuah masjid. Masjid ini dibagun oleh Abdurrahman Ad Dakhil (786 M). Sejarah mencatat, masjid ini merupakan mesjid terbesar, tercanggih, dengan ornamen bercita rasa seni tinggi yang nyaris tanpa cela di zamannya. Panjang mesjid ini 180depa, terdapat 14 lengkungan yang disangga 1.000 pilar. Penerangannya terdiri dari 13 lentera, yang setiap lentera memuat 1.000 lampu. Di mesjid ini pula tersimpan mushaf Ustman bin Affan yang ditulis dengan tangannya sendiri. (Hal. 115)
Sama halnya dalam buku lain yang menceritakan tentang perjalanan Islam di Eropa, dalam buku inipun, penulis mengisahkan perasaan sedihnya ketika melihat mezquito saat ini. Tempat yang sudah beralih fungsi menjadi sebuah gereja ini memang membuat kaum muslim yang berkunjung merasa terluka hatinya. Meskipun kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa kejayaan Islam di sana, tapi rasanya tidak tega menyaksikan masjid Cordoba yang megah itu berubah menjadi sebuah gereja.
Islam yang pernah menerangi Andalusia lebih dari 800 tahun seakan tak berbekas. Kini jumlah penduduk Muslim di Spanyol dan Portugal tercatat hanya seratus ribu, lebih sedikit dari jumlah Muslim di kota Dallas, Amerika yang tidak pernah dikuasai daulah Islam. (Hal.145)
Membaca buku ini benar-benar mengajak kita berpikir. Islam pernah berjaya di bumi Eropa. Meskipun sejarah seakan-akan membuatnya pudar. Tentu saja hal itu tidak boleh dibiarkan begitu saja, semangat kejayaan itu harus terus digaungkan.
Journey to Andalusia memang bukan buku pertama yang membahas tentang jejak sejarah Islam di Eropa. Tapi, tetap saja, esensi dari sejarah yang terlupakan itu begitu terasa. Pembaca seakan-akan benar-benar menginjakkan kaki di bumi Andalusia. Kita sebagai pembaca digiring untuk merasakan apa yang penulis rasakan, mulai dari rasa ingin tahu penulis, senang ketika pertama kali melihat tempat-tempat bersejarah, kesal ketika tour guide bercerita tidak sesuai dengan sejarah yang sebenarnya dan sedih ketika menyaksikan masjid yang berubah menjadi gereja.
Ada yang menarik dari buku ini di bagian awal bila dibandingkan dengan buku lain yang menceritakan jejak sejarah Islam di Eropa. Di lembaran awal, penulis menuturkan alasan mengapa begitu tertarik dengan Andulusia. Hal yang mungkin bisa menjadi pelajaran penting bagi pembaca, efek sebuah dongeng di masa kecil dari orang tua, ternyata menjadi terpatri dalam alam bawah sadar, dan menjadikan penulis memiliki impian untuk mengunjungi negeri-negeri yang diceritakan tersebut. 

Monday, January 30, 2017

Solusi Cerdas Bagi Masyarakat Millenial

January 30, 2017 0 Comments
Sumber: www.play.google.com 


“Change means that was before wasn’t perfect. People want to be better.” (Esther Dyson)

Bagaimanapun juga, perubahan pastilah terjadi. Dan, mau tidak mau, suka tidak suka di dunia ini, tentulah akan ada perubahan. Jadi, rasanya tidak mungkin kalau kita hanya berdiam di satu titik yang sama, meski sekalipun itu sebuah zona nyaman bagi kita.
BTN memahami apa yang sedang terjadi saat ini. Zaman yang semakin canggih dengan masyarakat yang sudah gadget-minded. Kebanyakan orang saat ini sudah berpikir bagaimana bisa mendapatkan sesuatu dengan lebih praktis dan cepat. Keberadaan teknologi informasi membuat pola pikir kita pun berubah. Semua hal harus bisa diselesaikan dengan sentuhan ujung jari kita.
Karena alasan itulah, di tahun 2017 ini, BTN akan meningkatkan sinergi, daya saing dan nilai tambah melalui transformasi bisnis digital banking. BTN tidak ingin tergerus oleh perubahan yang semakin digital. BTN berusaha sekuat tenaga untuk selaras dengan perubahan dan bersahabat dengan masyarakat millenial.
Keberadaan Digital Banking bisa menjadi jawaban dari kebutuhan masyarakat millenial tersebut. Jangankan untuk urusan perbankan, saat ini, untuk urusan pesan memesan makanan saja sudah beralih ke sistem digital. Oleh karena itu, sebuah sikap yang tepat ketika BTN memprioritaskan transormasi Digital Banking di tahun ini.
Sumber: www.sindotrijaya,com
Digital banking sebenarnya hampir sama dengan sistem e-banking, hanya saja Digital Banking memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh e-banking. Dengan adanya sistem Digital Banking, nasabah dapat mengakses seluruh layanan perbankan melalui kumpulan e-banking di satu tempat (digital branch) dan/atau melalui satu jenis e-banking pada perangkat milik bank atau nasabah (omni-channel). Hal tersebut sesuai dengan apa yang telah dilansir dalam situs www.ojk.go.id.
Apa yang dilakukan BTN merupakan pilihan cerdas yang bisa memudahkan nasabah. Namun, pada sistem Digital Banking ini, BTN harus benar-benar memperhatikan sistem teknologinya. Ya, karena Digital Banking sangat berhubungan erat dengan perangkat teknologi.
Sumber: www.ekassir.com
Dalam hal ini, OJK pun mengingatkan dalam website resminya www.ojk.go.id, penyediaan Digital Branch atau Digital Banking hendaknya memperhatikan prinsip prudential banking, prinsip-prinsip pengamanan informasi integrasi sistem TI, cost effectieness, perlindungan nasabah yang memadai serta searah dengan strategi bisnis Bank.

Bagi kita, nasabah, tentunya berharap sistem Digital Banking dari BTN ini bisa memudahkan untuk melakukan layanan perbankan. Apalagi, transformasi Digital Banking BTN ini dilakukan untuk mendukung program sejuta rumah. Semoga saja, program ini benar-benar akan memfasilitasi kita sebagai masyarakat millenial.