Selasa, 11 Maret 2014

Menuntun dan Dituntun


Pernahkah kita melihat dua orang yang sedang berjalan?
Ketika dua orang berjalan saling berpegangan tangan melangkah, tentunya akan terasa lebih nyaman dan indah. Perjalanan akan lebih menyenangkan. Meskipun berpegangan tangan, tapi mereka berjalan berdampingan, beriringan. Tidak ada yang saling mendahului.
Tapi, bagaimana jika salah satu dari orang itu (maaf) tidak melihat? Masihkah mereka bisa berjalan berdampingan? Tentunya harus ada seorang yang jalan agak di depan dari yang satunya lagi. Kenapa? Karena ia harus menjadi penunjuk arah bagi orang yang ada di sampingnya yang tidak bisa melihat.
Itulah juga kehiduan. Ketika kita menuntun orang yang memiliki ilmu, tentunya berbeda dengan orang yang tidak tahu sama sekali bagaimana cara melangkah dan kemana akan melangkah. Ketika yang menuntun itu terlalu cepat karena merasa tahu ada sesuatu yang indah di depan sana, tapi yang dituntun tidak dapat melihat itu, maka perjalanan akan terhambat, bahkan terhenti. Dan tujuan yang ingin diraih pun hanya bisa dibanggakan sebagai khayalan belaka.
Jadi sebenarnya, bukan masalah siapa yang akan menuntun dan dituntun. Tapi, pantaskan diri kita untuk menjadi salah satu dari itu. Jika kita terlahir untuk menuntun, cobalah untuk menuntun dengan penuh cinta. Dan ketika kita berada di posisi yang harus dituntun, bangunlah kepercayaan kepada diri kita dan orang yang menuntun kita.
Melangkah bersama bukan berarti harus dengan kaki yang sama, tapi menggunakan kaki yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar