Senin, 11 Agustus 2014

Pesan dari Suhu


Bukan sebuah kebetulan ketika aku datang, dan sebagian kursi sudah terisi. Hanya ada kursi di ujung dengan dua orang wanita yang sedang duduk.
“Sini aja duduknya,” ujarnya ramah.
Aku terus memperhatikan wajahnya. Sepertinya pernah lihat, gumamku. Aha, aku baru ingat ternyata itu kan Mbak Windry. Wouw, bisa satu meja dengan Mbak Windry. Aku tersenyum senang. Tentunya ini kesempatan yang luar biasa bagiku. Aku jadi teringat alasan yang aku tuliskan mengapa aku layak mengikuti tantangan menulis ini.
Dari awal aku melihat Mbak Windry, orangnya sangat ramah. Tidak ada kesan kalau beliau menjaga jarak dengan siapapun. Oya, setelah menyapa dan mengobrol, aku pun memliki penilain lain tentang Mbak Windry, beliau itu sosok wanita cerdas (penilaianku nggak salah kan, Mbak? J).  

Ketika Mbak MC (Mbak Cyntia ya namanya? #lupa) memulai acara, sedikit pun tidak ada rasa tegang. Bukannya sombong lho, tapi memang karena MC nya buat kami semua enjoy. Ditambah lagi orang-orang yang datang, semuanya nggak pada jutek bin jaim.
Menulis flash fiction selama 30 menit itu pokoknya something banget deh. Apalagi kita harus menulis berdasarkan tiga kata yang langsung diberikan. Koin, Bandung, dan permisi. Ya, itulah tiga kata yang harus dikembangkan menjadi sebuah flash fiction. Hmm...Ok, the show begins. Setelah mendapatkan tiga kata kunci, yang ada dalam pikiranku itu ialah menulis tentang kehidupan anak jalanan kota Bandung.
Aku sangat menikmati menulis, apalagi menulis di samping penulis sehebat Mbak Windry. Sambil menulis (lebih tepatnya mengetik hehe...), aku melirik ke arah Mbak Windry, beliau begitu tenang sekali ketika menulis. Dan mungkin aku kecipratan energi itu J.
Akhirnya selesai juga aku menulis. Meskipun hasil akhirnya peserta harus mengakui kecepatan Mbak Windry dalam menulis. Ya, tapi wajar sih, kan beliau udah nerbitin banyak novel, udah kelas suhu hehe...
Setelah menulis, Mbak Jia Effendi menjelaskan sedikit tentang flash fiction. Wah, setelah praktek menulis, langsung dapat ilmu pula. Oya, kalau aku perhatian orang-orang Gagas itu bawaannya ceria-ceria gitu ya? (bener nggak? J).
Ok, kembali ke mejaku dan Mbak Windry. Pada sesi makan, aku bertanya banyak kepada Mbak Windry. Kapan lagi coba dapat ilmu langsung dari suhunya, gratisan lagi.
“Setiap penulis itu punya napas menulis masing-masing.”
“Jangan percaya kalau penulis nonfiksi nggak bisa menulis fiksi. Itu mitos.”
Itulah kalimat-kalimat yang aku ingat sampai sekarang. Aku selalu menganggap itu semua pesan dari suhu yang harus diingat. Dan tentu saja akan menjadi suntikan semangat yang luar biasa bagiku.
Terima kasih Mbak Windry, Mbak Jia, dan tentua saja Gagas Media yang sudah mengadakan acara ini. Sering-sering aja bikin acara kayak gini di Bandung. Dan semoga aku bisa menjadi bagian dari penulis Gagas Media J.  
The Kiosk-Bandung, 9 Agustus 2014
#TantanganMenulisWindry

Tidak ada komentar:

Posting Komentar