Jumat, 08 Mei 2015

Menjemput Impian dari Rumah

20.24 0 Comments
Sejak di bangku kuliah, aku selalu memimpikan ingin bekerja di rumah. Tidak pernah terbersit sedikit pun ingin menjadi pekerja kantoran yang pergi pagi pulang petang. Aku sama sekali tidak pernah tergoda dengan teman-temanku yang begitu menikmati pekerjaan mereka sebagai wanita karir. Saat itu, yang ada di benakku, alasan aku kuliah karena aku ingin membuka lapagan pekerjaan baru untuk orang lain. Aku ingin sekali menjadi seorang entrepreneur sejati.
Ya, sebuah impian yang mungkin menurun dari orangtuaku. Meskipun aku pun pernah merasakan bekerja di orang lain. Tapi, karena aku pernah merasakan bekerja dengan kejararan waktu yang membuatku lelah. Tidak hanya itu, kadang aku merasa kurang maksimal memanfaatkan seluruh kemampuanku.
Aku juga sering berpikir, suatu saat aku akan menikah dan memiliki keluarga. Aku ingin waktuku untuk keluarga lebih banyak daripada untuk kaririku. Karena sejatinya tugas wanita itu menjadi bidadari di rumah. Menjadi seseorang yang dirindukan oleh suami dan anak-anaknya. Menjadi tempat terindah bagi suami dan anak-anaknya untuk mencurahkan segala rasa. Itulah yang aku impikan selama ini.
Aku belajar dari pengalaman bertemu dengan berbagai karakter anak didik sewaktu mengajar, baik itu di formal maupun nonformal. Mendengar curhatan mereka tentang kerinduan mereka akan keberadaan sosok ibu di rumah. Sejak saat itu, aku bertekad, jika aku menikah, maka aku akan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang produktif. Aku akan tetap berkarya dari rumah.
Berbagai pengalaman dan pelajaran itu, aku jadikan bekal untuk menjemput impianku menjadi wanita rumahan yang berkarir. Sejak lulus kuliah, aku bertekad untuk melanjutkan lembaga bahasa milik ayah yang sempat terhenti beberapa tahun. Aku pikir, kini saatnya mewujudkan impian Ayah yang sempat tertunda.
Semuanya aku awali dari nol. Dengan berbekal modal seadanya, aku pun membuka kembali lembaga bahasa di tempat yang baru. Berawal dari kelas lesehan dan promosi seadanya. Saat itu, malah alat promosi yang aku pasang di pertigaan perumahan, hanya bertahan satu hal saja. Ada orang yang iseng merobek dan menjadikannya hancur tak berbentuk. Sedih, ingin menangis. Tapi, aku yakin aku memiliki alat promosi yang lebih ampuh.
Sejak saat itu, aku tidak terlalu mementingkan alat promosi yang berbentuk benda. Aku harus mencari sesuatu yang membuat orang tertarik dengan lembaga bahasaku. Aku pun mulai mencari formula khusus dalam mengajar. Aku berusaha untuk tampil beda ketika mengajarjan Bahasa Inggris. Dan ternyata, cara itu sangat ampuh untuk menarik siswa. Hanya dalam hitungan beberapa minggu, murid berdatangan.
Berawal dari mengajar sendiri, hingga aku membutuhkan beberapa orang asisten, termasuk kakak-kakakku. Aku bersyukur karena apa yang selama ini aku impikan terwujud. Aku bisa membantu orang, meskipun hanya baru segelintir orang.
“Seorang pelaut yang ulung itu tidak didapat dari laut yang tenang.”
Ya, itulah yang aku rasakan. Setelah beberapa tahun menjalani usaha ini, suatu saat semuanya berubah. Ada hal yang membuatku harus menutup lembaga bahasa tersebut. Tidak hanya itu, aku pun harus pindah ke daerah lain. Saat itu, aku terpuruk. Usaha yang sudah aku rintis dari nol, ternyata harus jatuh ke titik nol.
Tapi, hidup itu sebuah proses belajar. Kini, di tempat yang baru, aku berusaha untuk bangkit. Aku bersyukur aku masih memiliki keluarga yang selalu mendukung dan menyemangatiku setiap saat. Dan anugerah terindah lainnya, Allah mempertemukanku dengan seseorang yang memiliki visi dan misi yang sama. Seseorang yang sangat memahami akan cita-citaku. Ya, dialah suamiku.
Bukan sebuah kebetulan ketika suamiku selalu mengatakan kalau ia lebih senang kalau aku tetap di rumah, tapi juga tidak melupakan kelebihan yang ada pada diriku. Ia selalu mendukungku untuk terus mengembangkan sesuatu dalam diriku. Tidak hanya itu, sekarang ketika usahaku sedang diuji, ia terus menyemangatiku untuk bangkit. Bahkan ia membantu untuk memperbaiki semuanya. Aku yakin, aku bisa kembali menjemput setiap impian itu dari rumah bersama orang-orang tercinta.
Sumber: tamanbermaindropdeadfred.files.wordpress.com 


Buku ini memang wajib dimiliki, apalagi bagiku yang masih harus belajar banyak tentang bisnis di rumah. Buku ini akan menjadi sumber ilmu dan inspirasi untuk mengembangkan usaha di rumah. 

 Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis “Asyiknya Bekerja dari Rumah”  http://stilettobook.blogspot.com/2015/04/lomba-menulis-asyiknya-bekerja-dari.html 

Kamis, 07 Mei 2015

Learning English at Taman Bahasa

14.27 0 Comments

I never thought that I could meet the great people last week. Yap, it’s very interesting for me because I had a chance to talk to the them. I was very appreciate when someone who had come to my motivational class, asked me to come to Taman Bahasa.
I didn’t need much time to get the decision. I asked my husband to go to Taman Bahasa. We’re very interested in joining this program. We got many things. Yap, we got new friends, new knowledge and new atmosphere to improve our English ability.
I hope this program will be known by everyone. It’s the best way to improve our language ability without paying. Yea, it’s free, guys. Owh, I think it’s too stupid to leave this best chance.
I forget something, I hope one day, there will be the own Taman Bahasa. It means the comfortable place like the other parks in Bandung. I believe the mayor of Bandung will build it J.