Minggu, 25 Februari 2018

Jalani, Nikmati, Syukuri (Review Buku)


Judul Buku            : Jalani, Nikmati, Syukuri
Penulis                    : Dwi Swiknyo
Penerbit                 : Noktah
Tebal Halaman      : 260 Halaman
Tahun Cetak         : 2018
Cetakan                 : Pertama
Harga                     : Rp. 70.000,00

Apa artinya pekerjaan bergengsi, tapi bikin kita mudah stress?
Apa artinya status sosial yang tinggi kalau membuat jiwa kita kering?
Apa artinya kesuksesan kalau akhirnya membuat kita sakit-sakitan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sering mampir di pikiran kita. Bukan untuk bertanya tentang kondisi orang lain, tapi lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri. Mungkin terlihat sederhana, tapi pertanyaan tersebut memang sering mengusik kita.


Tidak sedikit orang yang merasa lelah dengan rutinitas yang ia lakukan. Merasa apa yang didapatkannya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Semangat hidup perlahan hilang. Kita hanya merasa hidup ini semakin tak berarah. Seringkali merasa kebahagiaan tak pernah menyapa hidupnya. Tidak hanya itu, terkadang kita menyalahkan Allah dengan segala apa yang terjadi atas diri kita.

Tetaplah berbahagia. Karena semakin besar rasa khawatir di dalam hati, semakin gelisah, semakin besar rasa takut atas segala urusan dunia, maka semakin tinggi pula tingkat kepasrahan kita kepada Allah. Rasa butuh kepada Allah pun semakin besar. Bahkan setingkat Rasul pun - yang sudah dijamin kemenangan pasukannya - masih terus berdoa, mendekatkan diri, dan memohon pertolongan Allah pada saat mau perang. (Hal. 15)

Lalu, apa yang salah dengan diri kita. Apakaha selama ini kita tidak pernah benar-benar mengenal siapa diri ini dan apa sebenarnya tujuan hidup kita?

Dalam buku ini dijelaskan tentang 4 janji Allah kepada kita, yaitu:
1.        “Jika kalian bersyukur, maka akan Aku tambahkan (nikmat-Ku) untuk kalian.” (Q.S. Ibrahim [14] : 7).
2.        “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepada kalian.” (Q.S. A-Baqarah [2] : 152).
3.        Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku kabulkan untuk kalian.” (Q.S. Al-Mu’min [40] : 60)
4.     “Tidaklah Allah mengazab mereka selama mereka memohon ampun (beristighfar kepada Allah).” (Q.S. Al-Anfaal [8] : 33)
(Hal. 23)

Kalau kita melihat dan memahami kembali tentang janji Allah tersebut, tentunya tidak ada lagi keraguan dalam menjalani kehidupan ini. Kita sudah yakin akan semua yang sudah Allah tentukan untuk kita. Tidak ada lagi perasaan mengeluh atau bahkan menyalahkan Allah.


Protes (Mengeluh) è Berprasangka Buruk kepada Allah èDurhaka
(Hal. 35)

Intinya memang ada pada bagaimana kita melihat dan menyikapi kehidupan ini. Ketika kita melihat dari sisi positif, dan menyikapinya dengan positif pula, maka kebahagiaan itu dekat. Memang tidak mudah dan semuanya membutuhkan proses. Proses belajar memahami tujuan hidup yang sesungguhnya.


Bersiaplah. Bertawakal sedari awal. Sebab selalu ada celah untuk kita kecewa. Sekali lagi, meskipun itu hak kita. Benar sekali bahawa rezeki itu tidak bakal tertukar, tetapi bukan itu masalahnya. Ini hanya masalah bagaimana cara kita mengelola rasa bahagia pada sesuatu yang belum (atau baru akan) kita nikmati. (Hal. 43)

Buku ini memang menyajikan beberapa permasalahan yang biasa kita rasakan sehari-hari. Selain itu, penulis juga memberikan tips dan solusi yang berdasarakan Al-Quran, hadits dan juga pengalaman yang ia alami sendiri. Ada 50 bahasan yang dikupas oleh penulis, diantaranya:
1.        Jangan Lupa Bahagia
2.        Yang Penting Yakin
3.        Belajar Menerima
4.        Belajar Melepaskan
5.        Kembali Belajar Melepaskan
6.        Belajar Bahagia
7.        Kejutan dari Allah
8.        Nilai Diri Kita
9.        Insenti dari Allah
10.    Kontes Kesengsaraan
11.    Upaya Memberi Nilai
12.    Kaya Belum Tentu Enak
13.    Hidup Modal Dendam
14.    7 Tanda Kebahagiaan
15.    Kesengsaraan Itu Hanya Ilusi
16.    Ajaibnya Tiga Kata
17.    Jangan Gampang Protes
18.    Tersakiti Saat Berbagi
19.    Selalu Ada Pilihan
20.    Diskusi, Bukan Debat
21.    Kebencian Itu Mematikan
22.    Ketika Semua Serba Salah
23.    Seni Memaklumi
24.    Rumus 9 Barangkali
25.    Ketemu Jalan Buntu
26.    Ketika Kita Difitnah
27.    Kesuksesan yang Tertukar?
28.    Kesuksesan Kita Berbeda
29.    Ketika Hidup Terasa Menjenuhkan
30.    Apa Kamu Mudah Stress?
31.    Jangan Terlalu Serius
32.    Tampil Lebih Kreatif
33.    Hiduplah Hari Ini
34.    Berdamai Dengan Diri Sendiri
35.    Berani Ambil Risiko
36.    Kemudahan Belum Tentu Baik
37.    Awas Budaya Instan
38.    Bukan untuk Dipamerkan
39.    Ternyata Aku Salah
40.    Tidak Perlu Minder
41.    Ketika Salah Jadi Sumber Tawa
42.    Jangan Gampang Baper
43.    Manjakan Diri Sendiri
44.    Haters Itu Anugerah
45.    Siapa Sebenarnya Teman Kita?
46.    Allah Selalu Punya Rahasia
47.    Apa yang Sebenarnya Kita Miliki?
48.    Mencoba Tetap Bertahan
49.    Bersyukur Saat Dipuji
50.    Allah Maha Baik

Bahasan-bahasan di atas disajikan dengan bahasa yang ringan dan renyah. Kita tidak merasa digurui, meskipun ada banyak pelajaran yang kita dapatkan. Gaya tutur penulis begitu apik, sehingga kita seakan-akan diajak ngobrol langsung.

Pembahasan setiap temanya pun tidak terlalu panjang sehingga tidak membuat orang bosan. Tidak hanya itu, adanya sisipan cerita, kisah nyata dan juga komik menjadikan kita begitu menikmati setiap babnya. Kita juga bisa membaca dari bagian mana saja yang kita inginkan, tidak perlu berurutan dari halaman pertama sampai terakhir, dan tentu saja kita akan tetap paham dan mendapatkan esensi dari buku ini.

Oya, kalau dilihat dari tampilannya pun, asyik banget nih buku. Dari mulai cover sampai lay out isinya, semuanya asyik dan keren banget. Apalagi ditambah kertas yang berwarna biru tidak membuat mata kita lelah dan bosan untuk terus menatapnya. Untuk ukuran, buku inipun pas banget, nggak terlalu besar ataupun kekecilan.

Terus, apa dong kekurangannya? Hmm... Sebenarnya hampir tidak ada kekurangan dari buku ini. Tapi, satu yang menjadi pertanyaan saya sebagai pembaca, kenapa di buku ini tidak ada daftar isi? Apa memang dibuat seperti itu? Tapi, sekali lagi, ini bukan menjadi kekurangan atau kesalahan.

Pokoknya buku Jalani, Nikmati, Syukuri ini wajib bin kudu dibaca deh sama kita. Percaya deh akan banyak ilmu dan ‘tamparan’ yang kita dapat setelah membaca buku ini. So, buku Jalani, Nikmati, Syukuri ini pas banget dibaca kita yang masih haus untuk memperbaiki diri. I do recommend this book! J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar