Kamis, 30 Agustus 2018

RESENSI NOVEL PERGI (TERE LIYE)

18.34 0 Comments




Judul                     : Pergi
Penulis                  : Tere Liye
Penerbit                : Republika Penerbit
Cetakan                : IV
Bulan/Tahun          : Juni / 2018
Tebal Halaman       : 455 halaman

Bujang yang memiliki nama asli Agam dan dikenal dengan sebutan Si Babi Hutan. Anak seorang tukang pukul dan dididik serta dibesarkan oleh Keluarga Tong. Meski ia terlahir dari rahim seorang ibu dari keluarga yang religius, tapi ia tumbuh dalam atmosfer yang kental dengan kekerasan. Namun, pesan dan didikan dari ibunya pun melekat kuat. Meski ia terkenal sebagai seorang tukang pukul yang tiada tanding, tapi ia tak pernah sedikit pun menyentuh minuman keras.

Bujang, yang saat ini menjadi seorang Tauke Besar dan memiliki kewenangan untuk menentukan mau dibawa kemana Keluarga Tong. Keluarga Tong adalah bagian dari keluarga penguasa shadow economy di Asia Pasifik. Shadow economy itu ekonomi yang berjalan di ruang hitam, seperti black market, underground economy. Tanpa diketahui oleh orang banyak ada delapan keluarga penguasa shadow economy. Kedelapan penguasa tersebut ialah Keluarga Tong, Keluarga Lin di Makau, El Pacho di Meksiko, satu di Miami Florida, satu di Tokyo, satu di Beijing, satu di Moskow, dan satu lagi kepala dari seluruh keluarga, Master Dragon di Hong Kong.  

Perjalanannya kali ini ke Meksiko karena alasan satu misi. Ia mendapat kabar dari Parwez. Parwez dalam susunan Keluarga Tong tepat berada di bawah Bujang sebagai Tauke Besar. Ya, hanya ada Parwez dan Togar yang bisa kapanpun untuk menghubungi Bujang. Parwez mengurusi bisnis legal, sedangkan Togar adalah kepala tukang pukul, mengurusi kekerasan – posisi yang dulu ditempati oleh Samad, bapaknya Bujang, kemudian digantikan Kopong, lantas digantikan oleh Basyir.

Parwez memberinya kabar bahwa salah satu riset teknologi yang didanai oleh Keluarga Tong telah dicuri oleh kelompok lain. Teknologi tersebut sangat penting karena bisa mendeteksi serangan siber. Bujang tidak rela prototype benda yang siap diuji coba itu jatuh kepada kelompok lain. Menurut intelejen Keluarga Tong, tekonologi tersebut dicuri oleh El Pacho, sindikat penyelundup narkoba terbesar di Amerika Selatan. Benda tersebut akan segera dibawa ke Los Angeles, Amerika Serikat, pusat kerajaan narkoba mereka. El Pacho membutuhkan teknologi itu untuk melindungi rekening uang haram mereka.

Bujang berangkat ditemani oleh Salonga yang merupakan ahli pistol terbaik se-Asia Pasifik, dan tentu saja bagian dari Keluarga Tong. Ada juga White beserta Si Kembar (Yuki dan Kiko) yang ikut serta dalam misi tersebut.

Setibanya di markas El Pacho, mereka langsung mendekat ke kontainer kereta api yang dikabarkan teknologi tersebut ada di dalamnya. Mereka harus berhadapan dengan sicario (tukang pukul bayaran) El Pacho. Tapi mereka berhasil mendekat ke arah kontainer. Namun, ketika mereka sudah dekat dengan kontainer tujuan, tiba-tiba ada sosok bertopeng yang menembaki sisa sicario.

Sosok itu mengenal Bujang, bahkan nama aslinya. Ia pun menantang Bujang untuk bertarung untuk memperebutkan teknologi tersebut. Tapi sayang, Bujang kalah dan tekonologi itu berhasil dibawa oleh sosok yang tidak ada satu orang pun dari mereka yang mengenalnya. Namun, ada satu kata yang menjadi kata kunci yang terdengar oleh Salonga, Hermanito.

Bujang terus mencari cara agar tekonologi tersebut bisa kembali ke tangan Keluarga Tong. Tidak hanya itu, ia pun penasaran siapa sosok yang tiba-tiba muncul dan mengenal dirinya itu. Ia mulai mencari tahu cerita masa lalu tentang dirinya.

Setelah pertemuannya dengan sosok bertopeng tersebut, Bujang mulai mencari tahu masa lalu tentang dirinya, bapak dan ibunya. Ia pun merelakan waktu dan pikirannya terbagi untuk merebut kembali tekonolgi yang dicuri dan juga membuka teka-teki siapa sosok bertopeng itu. Meskipun tetaplah menemukan dan merebut kembali tekonologi itu ialah prioritas utama bagi Bujang.

Bujang memang tidak bisa lengah dari tugasnya sebagai Tauke Besar, karena pastilah penguasa lain akan mencari celah untuk merebut dan memperluas daerah kekuasaannya. Bahkan perjalanan menuju Hong Kong harus dibatalkan dan kembali ke Ibu Kota Provinsi karena Togar memberi kabar bahwa orang suruhan Master Dragon menaruh bom di pusat perbankan Keluarga Tong. Tapi, semua itu berhasil ditangani dengan cerdas oleh Bujang.

Ditengah pikiran yang masih dipenuhi strategi agar teknologi itu bisa cepat kembali, Bujang memutuskan untu menemuni Tuanku Imam, adik dari ibunya, Midah. Ia mencari tahu kisah masa lalu bapaknya. Ia pun mengunjungi rumah yang dulu diceritakan sempat ditinggali bapak beserta istri pertamanya.

Dengan kecerdasan dari Rambang, anak dari Lubai, seorang tukang pukul kepercayaan Tauke Besar dulu, akhirnya Bujang menemukan titik cerah dari sosok bertopeng tersebut. Ada beberapa surat yang tertimbun namun dengan bantuan seorang professor, akhirnya bisa terbaca, dan dapat memberikan banyak informasi bagi Bujang.

Sebagai ucapan terima kasih dan juga kagum dengan kecerdasan Rambang, Bujang pun meminta izin kepada Lubai untuk mendidik anaknya itu. Lubai dan Bibi Kim merasa tersanjung dengan permintaan Bujang tersebut. Tapi, niat Bujang harus terhenti ketika Rambang harus tewas tertembak karena ia mencoba melindunginya dari serapan sniper suruhan Master Dragon. Namun, tepat sebelum Rambang dikebumikan, sniper itu bisa tertangkap dan dijatuhkan langsung dari ketinggian. Video kematian tragis si sniper sengaja disebar agar menjadi pelajaran bagi siapapun.

Setelah prosesi pemakaman Rambang, Bujang mengumpulkan semua orang-orangnya. Mereka mulai menyusun strategi untuk membalas Master Dragon. Bujang memiliki ide agar dua penguasa shadow economy bisa bergabung dengan Keluarga Tong. Bujang berharap agar Yamaguchi di Jepang dan Krestniy Otets, pimpinan Bratva di Rusia bisa bersekutu dengan Keluarga Tong.

Undangan dari Yamaguchi untuk menghadiri pernikahan putri bungsunya dijadikan waktu paling tepat untuk menyatakan ide ini. Gayung bersambut, Yamaguchi mau bergabung dengan Keluarga Tong untuk menghancurkan Master Dragon. Selain itu, peristiwa yang tidak akan dilupakan pada pesta pernikahan putri bungsu Yamaguchi pun menjadi alasan kuat untuk membalas dendam kepada Master Dragon.

Bujang pun mulai mendatangi Otets di Moskow, Rusia. Otets mau bergabung dengan Keluarga Tong dan Keluarga Yamaguchi tapi dengan satu syarat. Awalnya Bujang merasa keberatan dengan syarat tersebut, tapi ia tidak memiliki pilihan lain. Dan, akhirnya karena syaratnya terpenuhi, Otets pun mau bersekutu dengan dua penguasa shadow economy tersebut.

Ketiga penguasa shadow economy itu berkumpul dan merencanakan sebuah strategi. Bujang memiliki ide untuk meruntuhkan Grand Lisabon, tempat bernaung Master Dragon. Dengan persiapan yang matang mereka pun menyerbu Hong Kong. Bujang merasa idenya ini sangat brilian untuk menjatuhkan Master Dragon. Ia pun merasa tidak ada kesulitan yang berarti untuk memasuki daerah kekuasaan Master Dragon.

Tapi, Bujang keliru. Master Dragon memang tidak bisa dianggap enteng. Ia sudah mencium akan kedatangan tiga penguasa shadow economy. Master Dragon sudah menyusun rencana yang jauh lebih cerdik. Ia pun sudah meminta Yurii, si pembuat bom untuk merakit bom penghancur yang canggih.

Tanpa disadari oleh Bujang dan juga sekutunya, ketika mereka mulai memasuki Hong Kong, ternyata ada kabar kalau anak buah Master Dragon berhasil memasuki daerah kekuasaan Keluarga Tong, Keluarga Yamaguchi dan juga Keluarga Bratva. Bujang merasa idenya gagal dan berpikir inilah akhir dari semuanya.

Tapi, di saat kondisi yang sudah sangat terhimpit, tiba-tiba malaikat penolong datang. Dan, sosok bertopeng itu kembali muncul. Namun, kali ini Bujang sudah sangat mengenalnya dari surat-surat yang telah baca.

Diego Samad, Bujang kini tahu namanya. Tidak hanya mengetahui namanya, namun ia tahu siapa Diego Samad itu. Semua teka-teki tentangnya sudah terpecahkan dari surat-surat yang ia baca.

Diego datang di saat yang tepat. Diego membantu Bujang untuk mengalahkan Master Dragon. Dan, di tempat yang berbeda Basyir, yang dulu sempat disebut sebagai pengkhianat, datang bersama Brigade Tong untuk menyelamatkan markas mereka. Mereka berhasil memukul mundur lawan.

Setelah kehancuran Master Dragon, Bujang menemui Diego. Ia ingin berterima kasih kepada Diego. Tapi, ternyata Diego melakukan itu semua bukan untuk membantu Bujang. Ia hanya ingin menghancurkan semua penguasa shadow economy. Ia mengajak Bujang. Namun, Bujang menolak untuk bergabung. Bujang memilih untuk pergi. Dan, ia tahu kemana ia akan pergi.

Novel Pergi ini banyak sekali mengajarkan filosofi kehidupan. Dengan gaya bahasa khas Tere Liye membuat kita sebagai pembaca benar-benar dibawa ke dalam alur cerita. Dari mulai alur hingga akhir cerita tidak bisa ditebak. Memang karya-karya Tere Liye sudah tidak bisa diragukan lagi, termasuk novel “Pergi” ini. Pokoknya, novel ini harus dibaca oleh siapapun yang ingin belajar tentang bagaimana memaknai kehidupan.



Selasa, 14 Agustus 2018

Menjadi Orang Tua Zaman Now

19.07 2 Comments



“Aduh, anak zaman sekarang tuh beda banget dengan anak zaman dulu ya.”
“Anak zaman sekarang tuh ya mainannya HP, laptop. Pokoknya gadget aja terus.”
“Anak sekarang tuh lebih percaya sama google daripada sama orang tua atau guru.”

Pernah nggak sih kita mendengar curhatan atau mungkin boleh dikatakan ocehan seperti di atas? Atau jangan-jangan kita sendiri yang sering mengucapkannya?

Hmmm… Kalau saya boleh berpendapat sih, rasanya kasihan sekali kalau anak zaman sekarang tuh selalu saja dibandingkan dengan anak zaman dulu. Menurut saya sih nggak apple to apple. Please dong, kita itu hidup di tahun sekarang, di zaman ini, bukan zaman nenek moyang.

Terkadang kita tidak sadar sudah melukai perasaan anak-anak kita dengan mengatakan kalau anak zaman sekarang itu susah diatur. Kita juga seringkali membandingkan kalau dulu saat kita masih anak-anak, jauh lebih nurut sama orang tua dan guru. Tidak jarang kita katakan kalau zaman kita, orang tua dan guru itu bagaikan raja yang tidak boleh ditentang.

Kalau saya biasanya tanya balik ke diri sendiri, mau nggak sih kita dibandingkan dengan orang lain. Nih, contohnya saja suami atau istri membandingkan kita dengan pasangan orang lain atau dengan saudaranya. Enak nggak? Mau nggak kita digitukan?

Pastinya dan yakin seratus persen, nggak mau. Nah, begitu juga anak-anak. Mereka juga manusia, punya rasa, punya hati (ini bukan mau ngajak nyanyi lho hehe…). Okelah mungkin untuk sebagian anak-anak akan memilih diam ketika membandingkannya dengan orang lain. Tapi, mereka akan tetap merekam apa yang telah kita lakukan.

Lantas, apa yang seharusnya kita lakukan? Apa kita bisa lari dari perkembangan zaman? Apa kita mau tetap bertahan dengan parenting zaman old dalam mendidik putra-putri kita? Apa kita hanya akan memberikan tanggungjawab penuh kepada pihak sekolah dan guru karena merasa sudah membayar mahal?

Mari kita berhenti sejenak dari segala rutinitas obsesi karir dan keegoaan kita. Cobalah berpikir dan mendengarkan apa kata hati kecil kita masing-masing. Ingatlah kembali ketika pertama kali kita berdoa meminta keturunan. Renungkan, siapa sebenarnya yang lebih berhak untuk bertanggung jawab membersamai anak-anak? Siapa kelak yang akan ditanya ketika Yang Maha Memiliki mengambil kembali makhluk titipan-Nya dari kita?

Yap. Ayah dan Ibu. Kitalah yang punya peran paling besar dalam membentuk dan mendidik anak-anak. Bukankah seorang ibu itu madrasah pertama bagi anak-anaknya dan ayah juga memiliki tugas sebagai kepala sekolahnya?


Ibu Sebagai Madrasah Pertama





Menjadi ibu zaman sekarang itu memang butuh banyak belajar. Perubahan dan perkembangan zaman membuat pola pikir anak pun sangat jauh berbeda dengan zaman kita dulu. Anak-anak sekarang jauh lebih kritis dengan apa yang mereka lihat. Disinilah ibu punya tugas yang luar biasa untuk membersamai anak-anak zaman now yang semakin cerdas.

Sejatinya memang seorang ibu adalah madrasah pertama. Sebuah ungkapan yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tapi, memang amanah dan tugas mulia itu sudah diemban bahkan ketika anak belum terlahir ke dunia ini.

Ya, menjadi seorang ibu itu tidak dimulai ketika anak lahir ke dunia. Sejatinya persiapan menjadi seorang ibu itu dimulai jauh saat masih sendiri (single). Kejauhan? Kelamaan?

Tidak sama sekali. Memang untuk membentuk generasi yang luar biasa, maka ibunya pun harus jauh luar biasa. Seorang ibu yang cerdas. Tidak hanya cerdas pikir, tapi juga cerdas hati dan perilaku.

Seorang ibu yang cerdas hati, pikir dan perilaku akan mampu mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang cerdas pula. Ibu yang bisa menjadi guru sekaligus sahabat bagi anak-anak. Ibu yang mampu menjadi motivator, fasilitator, dan juga supporter bagi anak-anaknya.

Anak-anak yang terlahir dari ibu yang cerdas akan jauh lebih bahagia. Mereka akan menemukan apa yang mereka inginkan di rumah. Mereka akan menemukan sosok ibu yang bisa mengantarkan mereka menjadi pribadi yang sukses.

Kita tidak bisa menutup mata dari fenomena yang terjadi sekarang. Banyak anak yang kehilangan sosok ibu. Secara fisik mungkin ibunya masih ada, tapi secara emosional mereka tidak merasakan keberadaan ibu sepenuhnya.

Mau diakui atau tidak, ada beberapa ibu yang hanya punya sisa waktu untuk anak-anaknya. Kesibukan, baik itu wanita karier maupun yang hanya berada di rumah, menjadikan anak-anak hanya mendapat waktu sisa untuk ditemani. Ya, pernahkah kita bertanya kepada anak-anak kita, apa sebenarnya yang mereka inginkan?

Kita tidak sedang membandingkan antara ibu rumah tangga dan juga ibu bekerja. Karena pastilah ada alasan kuat seseorang mengambil keputusan untuk memilih salah satu darinya. Namun, yang perlu digarisbawahi di sini, tugas utama seorang ibu adalah sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Seorang anak akan belajar banyak hal untuk pertama kalinya kepada ibu. Nah, pertanyaannya, apakah kita sebagai seorang ibu sudah bisa menjadi madrasah ternyaman bagi anak-anak?



Jangan Lupakan Vitamin A(yah)




Ibu memang madrasah pertama bagi anak-anaknya. Terus mungkin ada yang bertanya, kalau peran seorang ayah apa? Apa ayah itu hanya bertugas mencari nafkah saja? Artinya seorang ayah hanya perlu memiliki kemampuan untuk mencari rezeki saja?

Kalau kita masih berpikiran seorang ayah itu hanya memiliki peran untuk menjemput rezeki, maka ada pemahaman yang salah selama ini. Ada konsep keluarga yang keliru ketika ada pembagian seoarang ayah hanya fokus bekerja, dan anak-anak sepenuhnya tanggung jawab seorang ibu. Padahal, harus disadari dan dipahami seorang ayah, mendidik anak itu harus ada sentuhan seorang ayah juga.  

Jika seorang ibu itu madrasah pertama bagi anak-anak, maka ayahlah yang berperan sebagai kepala sekolahnya. Sejatinya seorang kepala sekolah memiliki wewenang dan tugas untuk membuat pola serta visi dan misi sebuah madrasah atau sekolah. Ketika seorang kepala sekolah mampu menyajikan pola yang menarik, maka sebuah madrasah pun akan tempat yang nyaman untuk mendapatkan ilmu.

Ketika seorang kepala bisa mendesain madrasah agar selalu terlihat nyaman, maka anak-anak akan merasa betah berlama-lama di madrasah tersebut. Artinya apa? Seorang ayah memiliki tugas untuk selalu menjaga psikologis istrinya. Karena seorang ibu yang psikologisnya terjaga, ia akan jauh lebih bahagia. Kembali lagi, ibu yang bahagia akan membersamai anak-anaknya dengan senang, maka anak-anak pun akan merasa bahagia pula.

Tapi, sebaliknya, ketika seorang ibu merasa tertekan. Ia tidak mendapatkan perhatian penuh dari pasangannya. Maka, kita sudah sering mendengar banyak kasus yang akhirnya anak menjadi korban kekerasan seorang ibu. Anak menjadi pelampiasan dari ketidakpuasannya akan sikap suami.

Itu mungkin kasus yang sangat ekstrim. Kasus yang mungkin sering kita temui bahkan kita sendiri rasakan, sikap kita yang sering keluar dari pola pengasuhan. Kita tak jarang membentak, memarahi dan bahkan memukul anak. Padahal sebenarnya kita marah dan kesal kepada pasangan bukan anak. Tapi, karena kita tidak bisa melampiaskannya langsung, maka anaklah yang menjadi korban.

Kehadiran ayah yang benar-benar hadir memang sangat memberikan efek yang luar biasa. Seperti yang telah dikatakan di awal, peran ayah bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi. Ada peran yang luar lebih penting, membersamai dan menemani tumbuh kembang anak-anak.

Ya, keberadaan ayah di samping anak tidak kalah penting dalam tumbuh kembang mereka. Kehadiran ayah ditengah-tengah keluarga yang benar-benar hadir jauh lebih penting daripada materi yang diberikan. Pengaruh dari kedekatakan ayah dan anak begitu luar biasa. Tidak hanya secara emosional, namun ada pengaruh positif bagi kecerdasan intelektualnya juga.

Pernahkah kita mendengar kalau Negara Indonesia itu termasuk kedalam fatherless country? Bahkan berada di urutan ketiga. Ya, kita tinggal di negeri tanpa ayah.

Sebuah kondisi yang seharusnya menjadi perenungan bagi kita semua. Jangan pernah menganggap enteng keadaan ini. Kita bahan patut berpikir, kondisi negeri yang semakin carut marut ini pastilah ada kaitan erat dengan pola pendidikan, khususnya di dalam keluarga.

Jika kita melihat fenomena yang ada, terutama di kota-kota besar, secara status anak-anak itu memiliki ayah. Bahkan memiliki keluarga inti yang lengkap. Tapi, apa yang terjadi? Mereka haus akan kasih sayang seorang ayah.

Ayah mereka sudah tidak memiliki waktu untu bermain dengan anak-anaknya, bahkan hanya sekadar untuk bercengkerama saja tidak ada. Para ayah beranggapan mereka sudah menjadi ayah yang baik ketika semua kebutuhan materi anaknya terpenuhi. Padahal mereka lupa anak-anak pun membutuhkan waktu sejenak bersama ayahnya.

Miris memang ketika kondisi seperti ini sudah dianggap biasa dan lumrah. Atas nama perkembangan zaman, kita merasa ini bukan sebah kesalahan. Komunikasi antara anak dan orang tua merasa sudah sangat cukup ketika bisa menyapa lewat media sosial.

Padahal ketika kita ada di dekat anak, bermain, bercerita dan bahkan memeluk serta mencium dengan penuh kasih sayang, aka nada efek positif yang bisa kita dapatkan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Office on Child Abuse and Neglect, anak yang dekat dengan sosok ayah dan sering menghabiskan waktu bersama dengan durasi cukup cenderung memiliki tingkat kecerdasan IQ di atas rata-rata.

Tidak hanya itu, menurut penelitian dari Father Involvement Research Alliance, anak yang dekat dengan ayahnya sejak dini akan memiliki tingkat emosi yang stabil. Sehingga ia dapat tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa percaya diri tinggi, mudah bersosialisasi, dan terbuka pada lingkungan sosial di sekitarnya.


Menjadi Orang Tua Zaman Now



Menjadi orang tua bukanlah sebuah warisan. Jangan pernah berpikiran kalau mendidik anak itu sama dari dulu sampai sekarang. Manusia itu berkembang sesuai dengan perubahan zaman.

Karena alasan inilah mengapa menjadi orang tua itu butuh belajar. Meskipun tidak ada sekolahnya untuk menjadi ayah dan ibu, tapi setidaknya ada banyak cara untuk menjadi orang tua zaman now. Perkembangan zaman sekaligus juga perkembangan teknologi sejatinya bisa menjadi jalan agar kita bisa memahami dan selaras dengan anak-anak.

Satu hal yang perlu digarisbawahi di sini, anak-anak zaman sekarang itu sangat jauh berbeda dengan zaman kita. Mereka tumbuh di zaman serba digital. Karena itulah kita pun harus mau mengikuti dan melebur dengan pola pikir mereka. Parenting yang diterapkan pun harus benar-benar sesuai dengan cara berpikir mereka.

Mendidik anak di zaman digital itu memanglah tidak mudah. Tapi, bukan artinya juga sulit, karena pasti selalu ada pola atau cara yang sesuai. Kembali lagi, mendidik anak bukanlah tugas guru atau sekolah semata. Ada peran yang jauh lebih penting dari ayah dan ibu. Pertanyaannya, bagaimana agar kita bisa menjadi orang tua yang cerdas dalam mendidik anak-anak zaman now?

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar dapat menjadi orang tua zaman now yang cerdas, diantaranya:
- Tanamkan pendidikan agama sejak dini.

-  Hadirkan fisik dan juga pikiran serta hati ketika membersamai anak.

- Mengenal dan memahami dunia digital agar nyambung ketika berkomunikasi dengan anak.

- Memberi teladan bukan suruhan.

- Jangan pernah membandingkan anak.

- Posisikan sebagai sahabat yang bisa diajak curhat.

- Aturan yang ditentukan harus dari hasil kesepakatan bersama antara orang tua dan anak.

- Adanya reward dan juga punishment dari aturan yang telah dibuat, tidak hanya untuk anak tapi juga untuk orang tuanya.

Itulah beberapa poin yang harus kita perhatikan. Terasa sederhana tapi memang ketika diterapkan tentunya tidak bisa dianggap enteng. Pastilah akan ada banyak tantangan. Namun, disitulah seni dalam dunia parenting, apalagi di zaman now. Dan, ketika kita mampu untuk menerapkannya, lihatlah apa yang terjadi dengan anak-anak kita di kemudian hari.

Intinya, keluarga haruslah menjadi pondasi yang kuat bagi anak-anak. Ibu harus tetap menjadi madrasah ternyaman bagi anak-anak, dan ayah bisa menjadi kepala sekolah yang hebat. Jadi, keluarga bukan sekadar status semata. Keluarga adalah muara cinta yang tak pernah ada jeda mengalirkan rasa dan asa.

#sahabatkeluarga

Rabu, 01 Agustus 2018

NASTBEE HONEY LEMON, Jadikan Tubuh dan Pikiranmu Tetap ON!

19.43 0 Comments


Stress? Gaya hidup yang tidak sehat? Polusi?
Hmm… Rasanya menjadi manusia zaman now itu sangat familiar dengan kegalauan di atas. Sepertinya kita tidak bisa lari dari kondisi lingkungan yang semakin tidak bersahabat. Di dalam ruangan kita bersentuhan terus dengan dinginnya AC yang membuat kulit kita kering. Kalau kita berada di luar ruangan, kita juga tidak bisa terhindar dari debu, asap kendaraan dan juga polusi udara lainnya. Tidak hanya itu, pikiran penat tertekan dengan situasi kantor, pekerjaan yang tak kunjung selesai, masalah pribadi yang terus menyapa. Seakan-akan semuanya menjadi satu di dalam pikiran yang akhirnya membuat penyakit satu per satu singgah di tubuh kita.

Tapi, apakah kita bisa menghindar? Tentu saja tidak. Terus, solusi apa agar kita masih bisa menikmati hidup? Bagaimana agar kita bisa tetap sehat dan bugar di tengah kondisi lingkungan yang jauh dari kata sehat?

Gaya hidup sehat. Yap, sudah saatnya kita perbaiki gaya hidup kita. Perhatikan apa yang kita konsumsi, maka kita akan jauh lebih sehat. Karena sudah bukan lagi rahasia kalau apa yang kita makan dan minum bisa menentukan kondisi tubuh kita.

Perlu kita akui dan sadari kita lebih memilih makanan dan minuman yang asal-asalan. Asal enak di perut, asal murah, asal lagi nge-trend. Padahal itulah yang membuat penyakit semakin mudah singgah di tubuh kita.

Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

Mungkin sudah seringkali kita mendengar pernyataan di atas. Tapi, memang mau nggak mau itulah yang harus kita lakukan. Kita akan merasa kalau sehat itu mahal dan penting ketika kita jatuh sakit. Namun, ketika kita masih sehat, tak jarang kita lupa untuk menjaga tubuh.

Terus, apa dong yang harus kita lakukan?
Sebenarnya semua orang sudah paham, apa saja yang harus dilakukan. Yap, ada 3 poin yang seharusnya kita perhatikan agar tubuh tetap sehat, diantaranya:

  •  Menjaga pikiran
Pikiran kita harus tetap positif agar energi yang tersalurkan juga positif.
  •   Menjaga hati
Ketika hati kita bersih jauh dari sifat-sifat yang jelek, maka kita akan jauh lebih tenang. Dan, tentu saja ketenangan akan membuat tubuh pun jauh lebih sehat.
  •   Menjaga tubuh
Mau tidak mau, tubuh juga punya hak. Hak tubuh itu ialah cukup makan, cukup minum dan cukup gerak. Artinya antara yang dikonsumsi dan yang dikeluarkan harus seimbang. Jangan sampai kita makan dan minum banyak, tapi kita mager (malas gerak) abis.


Nah, kalau poin pertama dan kedua sudah kita jalani, kita jangan lupakan poin ketiga. Ada banyak cara untuk hidup sehat. Selain kita harus rutin berolahraga, pola makan dan minum sangat harus kita perhatikan. Apa yang masuk ke dalam lambung akan menentukan kesehatan kita. Terus, apa yang harus kita konsumsi agar tetap sehat?

Back to nature. Sebenarnya tidak sulit untuk hidup lebih sehat. Semua yang bisa membuat kita sehat itu ada di dekat kita, bahkan murah meriah. Sebut saja buah lemon dan madu. Keduanya sering kita temui di sekitar kita. Kalaupun kita mencari di pasaran, akan sangat mudah untuk mendapatkannya.

Tapi, terkadang kita abai dengan manfaaat kedua ‘harta karun’ bagi tubuh ini. Kita bahkan lebih percaya dengan obat-obatan mahal dan perawatan dengan harga selangit untuk mendapat tubuh yang sehat. Ketika kita merasa kurang enak badan, kita langsung memutuskan untuk mengkonsumsi obat-obatan kimia.

MANFAAT LEMON

Lemon, buah berasa asam  yang memiliki nama ilmiah citrus limon ini memang memiliki banyak manfaat. Dikutip dari www.alodokter.com, buah lemon memiliki kandungan sebagai berikut:

Kandungan jus lemon per satu gelas (Lemon dicampur satu gelas air):
Jumlah
Jenis
61
Kalori
6 gram
Gula
112 miligram
Vitamin C
3 gram
Protein
303 miligram
Kalium
0,1 miligram
Vitamin B6
31,7 microgram
Folat
0,1 miligram
Thiamin
0,1 miligram
Copper
1 gram
Serat
14,5 miligram
Magnesium
0,4 miligram
Vitamin E
0 gram
Lemak

Jika dilihat dari kandungan yang terdapat dalam buah lemon, kita bisa mengambil banyak manfaat dari mengkonsumsi buah yang satu ini. Manfaat yang bisa kita dapatkan dari buah lemon diantaranya:

  1.   Meningkatkan daya tahan tubuh 
  2.   Sumber antioksidan
  3.   Mengangkat sel kulit mati
  4.   Membantu penyerapan zat besi
  5.   Mengobati infeksi tenggorokan
  6.   Membantu diet
  7.   Mengontrol tekanan darah tinggi

MANFAAT MADU

Madu, cairan kental berasa manis yang dihasilkan oleh lebah dan serangga lainnya dari nectar bunga. Rasa manisnya yang menyerupai gula ini disebabkan oleh unsur monosakarida fruktosa dan gluktosa. Dan, kandungan lengkap yang terdapat dalam madu ialah:
Fruktosa                 38,2 %
Glukosa                  31,3 %
Maltosa                  7,1 %
Sukrosa                  1,3 %
Air                         17,2 %
Abu (Analisis Kimia) 0,2 %
Lain-lain                 3,2 %

Nah, kita juga pastilah sudah sangat familiar dengan manfaat madu. Cairan manis yang satu ini memang tidak bisa diragukan lagi khasiatnya dalam dunia medis. Ini dia diantaranya manfaat madu yang bisa kita peroleh dikutip dari www.okaydoc.com :

  1. Menjaga kesehatan system pencernaan
  2. Mengatasi sakit tenggorokan
  3. Mencegah munculnya penyakit asam lambung
  4. Mengatasi infeksi
  5. Mengatasi alergi
  6. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
  7. Merawat kulit berjerawat
  8. Menurunkan tekanan darah
  9. Rhinitis alergi dan bekas gigitan serangga
  10. Baik untuk kesehatan jantung
  11. Meningkatkan stamina dan energi


NASTBEE Honey Lemon


This is the solution for healthy life. Yap, saat ini ada minuman yang bisa dinikmati langsung dengan khasiat yang luar biasa. Minuman dengan rasa buah lemon dan juga madu ini memiliki banyak manfaat. Salah satunya bisa menjadi penangkal dan pembersih tubuh kita dari zat-zat yang berbahaya bagi tubuh.

NASTBEE HoneyLemon dibuat dari perpaduan buah lemon dan madu ini memiliki rasa yang segar. Kita benar-benar merasakan kesegaran rasa lemon dan madu seperti kita buat sendiri. Manisnya pas banget, jadi nggak perlu takut untuk gemuk juga.

Dengan mengkonsumsi NASTBEE Honey Lemon, bisa membantu memenuhi kebutuhan vitamin C kita setiap hari. Tubuh akan jauh lebih sehat. Tidak hanya itu, kulit pun kan terasa lebih sehat dan juga terlihat lebih segar.


NASTBEE Honey Lemon, minuman madu lemon yang kaya manfaat ini bisa kita dapatkan di supermarket dan minimarket terdekat lho. Harganya? Hmm… Pokoknya sangat bersahabat dengan kantong kita deh. So, nggak perlu pikir-pikir lagi, saatnya kita nikmati kesegaran dan manfaatnya setiap hari. Karena dengan mengkonsumsi NASTBEE Honey Lemon, tubuh dan pikiranmu akan tetap ON. Hidup #AsikTanpaToxic akan kamu rasakan tanpa titik dech! NASTBEE Honey Lemon, bersihkan hari aktifmu!

Tulisan ini diikutsertakan dalam NASTBEE HONEY LEMON Blog Competition