Kamis, 26 September 2019

Peran Keluarga dan Masyarakat Dalam Membudayakan Literasi


 
Foto ini diambil ketika saya masih berumur 4 tahun

Berbicara tentang literasi, saya selalu teringat almarhum Bapak. Ya, beliaulah yang memperkenalkan saya dengan dunia literasi. Sejak kecil, saya dan keempat kakak saya selalu diajak untuk mencintai buku. Saat itu, kami hidup pas-pasan, bahkan boleh dibilang kekurangan. Tapi, yang selalu ditekankan oleh almarhum Bapak, yang terpenting itu bagaimana memberi 'makan' leher ke atas, bukan leher ke bawah.

Saya masih ingat, seringkali Bapak membeli majalah dan buku-buku bekas untuk kami baca. Ada sebuah kebahagiaan tersendiri ketika Bapak pulang dan membawa bahan bacaan. Bahkan tak jarang, kami harus rebutan buku atau majalah.

Tidak hanya untuk urusan bahan bacaan, untuk menulis pun, Bapaklah yang mengajarkan saya untuk berani menuangkan kata dan kalimat. Ketika duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, Bapak mengajari saya untuk menulis cerpen. Dari hasil didikannya, mulai saat itu, saya selalu mewakili sekolah untuk mengikuti lomba mengarang. Selain itu, karena kebiasaan membaca yang telah ditanamkan Bapak sejak kecil, saya pun sering dipercaya untuk mengikuti lomba membaca cepat.

Bagi saya dan keluarga, buku itu merupakan #SahabatKeluarga. Kami bisa saja berpuasa dan menahan lapar, tapi kami tidak bisa menahan keinginan untuk membaca. Dengan kecintaan kami kepada literasi, ada banyak mimpi yang sudah terealisasi.


Apa Itu Literasi?

Literasi. Satu kata yang begitu familiar di telinga kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak sekali orang berbicara tentang literasi. Lalu, apa itu literasi?

Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan menurut UNESCO, literasi memiliki pengertian seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks di mana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh, dan bagaimana cara memperolehnya. Pemahaman seseorang mengenai literasi ini akan dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik, konteks nasional, institusi dan nilai-nilai budaya serta pengalaman.

Intinya, secara garis besar, literasi itu berhubungan dengan membaca dan menulis. Ketika kita mengatakan literasi, maka pemahamana pastilah kita akan tertuju pada membaca dan menulis.


Apa Benar Minat Baca Indonesia Masih Rendah?

Berdasarkan data dari UNESCO, persentasi minat baca Indonesia masih 0.01 persen. Sedangkan data dari Bank Dunia dan Studi International Association For the Evaluation of Education Achievement (IEA), Indonesia berada di posisi terendah di ASEAN dengan skor 51,7. Skor tersebut berada di bawah Filipina (skor 51, 6), Thailand (skor 65,1) dan Singapura (skor 74).

Dari data tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan, ternyata negara kita masih jauh tertinggal dari negara-negara ASEAN lainnya. Lalu, siapa yang harus disalahkan kalau sudah seperti ini?

Tidak ada yang patut disalahkan. Tapi, pertanyaannya, apa yang seharusnya dilakukan agar minat baca Indonesia bisa meningkat. Artinya, kecintaan akan dunia literasi bisa menjadi lebih dan mungkin mengalahkan negara-negara ASEAN lainnya.

Kalau kita berbicara tentang siapa yang harus ikut terlibat? Semua pihak harus ikut terlibat, baik itu keluarga, masyarakat dan juga pemerintah. Kita tidak bisa mengandalkan salah satu saja untuk menciptakan masyarakat yang sadar literasi.


Apa Keberadaan Gawai Menjadi Penyebab Kurangnya Minat Baca?

Kalau menurut saya, gawai bukanlah penyebab seseorang tidak suka membaca. Gawai itu alat. Bagaimanapun juga, yang sangat berpengaruh adalah yang mengoperasikan alat tersebut, atau manusianya. Bagi anak-anak tentu saja orang tua berperan sangat penting dalam penggunaan gawai.

Perlu kita akui, Generasi Alpha itu lahir dan besar di era digital. Jadi, mereka tidak mugkin bisa dipisahkan dengan yang berbau digital, termasuk gawai. Kita tidak mungkin melarang mereka untuk terhindar dari gawai. Kalaupun ada yang aturan untuk tidak bersentuhan dengan gawai di rumah, anak-anak akan tetap menyentuh benda ini di luar rumah. Dan, ini yang paling berbahaya, ketika anak-anak menggunakan gawai tanpa sepengetahuan orang tua. 

Bila dihubungkan dengan minta baca, saat ini dengan adanya kecanggihan teknologi, banyak penerbit yang menyajikan buku Augmented Reality. Anak-anak diajak untuk lebih imajinatif dengan buku ini. Jadi, keberadaan gawai pun bisa membuat anak semakin asyik membaca buku.

Intinya, gawai bukan untuk dihindari, tapi dijadikan alat agar-agar anak-anak bisa mendapatkan banyak pengetahuan melalui gawai tersebut. Berikan mereka ruang untuk tetap menjadi manusia digital yang mencintai literasi. Disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan untuk menciptakan #LiterasiKeluarga.


Peran Keluarga

Keluarga. Inilah pondasi dan sumber dari semuanya. Kebiasaan apapun itu akan mucul dan terlatih di sini. Dalam hal ini, tentu saja, peran orang tua sangatlah penting. Lantas, apa saja yang harus dilakukan agar budaya literasi bisa ditumbuhkan dalam keluarga?

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membudayakan #LiterasiKeluarga. Menurut apa yang saya alami, ada 5 poin yang harus diperhatikan untuk menciptaan generasi yang sadar dan cinta literasi, yaitu:
  • Orang tua sebagai role model



Ini hal yang paling penting. Jangan bermimpi memiliki anak yang suka baca, kalau orang tuanya sendiri tidak pernah megang buku sama sekali. Ketika kita ingin memiliki menciptakan generasi yang cinta literasi, maka orang tualah yang harus memberi contoh terlebih dahulu. Ingat, teladan akan jauh lebih bisa diterima daripada perintah.

  • Perkenalkan anak dengan buku sejak ia dalam kandungan
Saat hamil 2 bulan dan ngidam pengen banget ke Jakarta Islamic Book Fair



Bagi ibu-ibu, jangan sepelekan aktifitas kita saat hamil. Menurut berbagai penelitian, apapun yang biasa ibu lakukan ketika hamil, itu akan memberikan efek kepada si bayi. Selain itu, menurut Dr. Miriam Stoppard, pakar pola asuh, menyebutkan bahwa bayi yang dibacakan buku sejak dalam kandungan, ia akan lebih cepat bisa berbicara. Bahkan tidak hanya itu, kelekatan antara orang tua dan anak pun akan jauh lebih erat. Satu hal lagi, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, kritis, imajintif dan kreatif

  • Bacakan anak-anak buku sejak dini
Membacakan buku bukan hanya tugas seorang ibu, tapi juga ayah memiliki hak untuk melakukannya



Ketika anak sudah lahir, tentu saja ia tidak otomatis bisa baca buku sendiri. Di sini peran orang tualah yang sangat penting. Membacakan buku kepada anak, baik itu sebelum tidur maupun di jam-jam lain, akan memberikan banyak manfaat. Selain anak akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, kritis dan kreatif, kelekatan antara anak orang tua pun akan jauh lebih terasa. Kita bisa menyampaikan pesan yang ingin kita sampaikan melalui buku. Biasanya anak akan jauh lebih mengerti dan tersimpan dalam alam bawah sadarnya, ketika kita menyampaikan sesuatu melalui buku yang dibaca.

  • Jadikan buku sebagai hadiah
Senang banget ketika tahu dapat hadiah paket buku



Menjadikan buku sebagai hadiah bisa menjadi salah satu cara agar anak mencintai buku. Ia akan lebih sering ‘berkomunikasi’ dengan buku daripada dengan benda lain. Selain itu, memberi hadiah buku akan jauh lebih mendidik daripada memberikan barang lain. 

  • Ajak anak ke toko buku atau pameran buku

Usianya belum genap 2 tahun, tapi sudah bisa memilih buku sendiri yang dia mau



Wisata edukasi. Kalau kita boleh mengatakan bahasa kerennya, mengunjungi toko buku atau pameran buku itu bisa disebut wisata edukasi. Ketika anak sering diajak ke tempat-tempat yang berhubungan dengan buku, maka lama-kelamaan ia akan mulai suka dan bahkan mencintai buku.

Itulah 5 poin penting yang saya sudah rasakan dan lakukan. Ya, dulu orang tua saya menerapkan kelima poin tersebut kepada anak-anaknya, dan sekarang saya terapkan kepada kedua buah hati saya. Lalu, apakah dengan kelima poin itu, budaya literasi akan menjadi lebih baik?

Bisa ya, bisa juga tidak. Kenapa? Kita jangan lupakan peran masyarakat. Ada andil masyarakat untuk membudayakan literasi kepada anak cucu kita. Pekerjaan Rumah kita untuk menciptakan generasi yang sadar literasi masih panjang. Peran serta masyarakat juga tidak bisa diabaikan.


Peran Masyarakat

Selain keluarga, tentu saja masyarakat pun memiliki peran yang sangat penting untuk membudayakan literasi ini. Karena bagaimana pun juga, sebagai makhluk sosial, kita tidak mungkin hanya berdiam diri di rumah saja dan bertemu dengan anggota keluarga inti.

Karena itu, masyarakat pun memiliki andil yang sangat penting untuk meningkatkan kesadaran literasi. Lalu, apa saja yang seharusnya dilakukan agar generasi yang ada sekarang tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang mencintai literasi?

Ada 5 poin yang harus diperhatikan untuk membudayakan literasi. Kelima poin tersebut ialah:
  • Hapus stigma “Orang Indonesia Malas Baca”



You are what you think. You are what you say. Yap, kita harus akui itu. Ketika kita masih saja menyebut kalau orang Indonesia itu malas baca, maka yang tertanam dalam alam bawah sadar kita kata-kata tersebut. Cobalah untuk mengganti dengan kata-kata yang lebih memotivasi, apalagi kepada Generasi Alpha (anak-anak kita).

  • Memperbanyak perpustakaan yang layak dan kekinian
Di depan Perpustakaan Kab. Jember, yang boleh dibilang masih belum layak dan kekinian


Di bagian dalam perpustakaan, koleksi buku kebanyakan sudah sangat lama dan tidak terawat



Perpustakaan bagaikan istana bagi para pecinta literasi. Penyuka buku dan penikmat aksara akan merasa nyaman berlama-lama di perpustakaan. Karena alasan itulah, keberadaan perpustakaan yang nyaman, layak dan kekinian seharusnya menjadi hal yang harus diperhatikan. Tapi, kita patut bersenang hati karena perpustkaan masuk dalam program dan kegiatan Priorotas Nasional perihal “Penguatan Literasi untuk Masyarakat” dengan indicator “Meningkatnya kualitas Pelayanan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.

  • Memperbanyak bahan-bahan bacaan yang berkualitas
Koleksi Pribadi


Koleksi Pribadi



Membudayakan literasi tentu saja tidak bisa terlepas dari buku. Semakin banyak buku yang berkualitas, maka akan sangat membantu untuk meningkatkan budaya literasi di negeri ini.

  • Memperbanyak komunitas literasi
Kegiatan di TBM Tanoker Ledokombo, Jember



Komunitas literasi sangat membantu untuk menyebarkan ‘virus’  kepada banyak orang. Orang akan merasa lebih tergerak dan bersemangat ketika dia berada dalam sebuah komunitas.

  • Mengadakan acara-acara yang berhubungan dengan literasi
Sharing bersama komunitas pecinta sastra di Bandung


Acara-acara yang berhubungan dengan literasi menjadi sarana edukasi dan motivasi. Akan ada banyak ilmu yang didapat ketika menghadiri. Acara-acara literasi bisa dijadikan ajang berbagi ilmu dari para penggiat literasi untuk lebih mencintai aksara.


Intinya, membudayakan literasi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meningkatkan minat baca tidaklah segampang mengucapkannya. Semuanya harus dipupuk sejak dini, sehingga akan menjadi sebuah kebiasaan. 

"Possible thing is usual. Usual thing is forced or love."


Generasi Alpha merupakan generasi yang cerdas. Sekarang tugas kitalah yang bisa menggiring mereka untuk menjadi generasi yang cinta literasi. Satu hal yang saya rasakan ketika memperkenalkan literasi kepada dua buah hati saya, dengan literasi anak-anak akan lebih cerdas menarasikan apa yang sedang dirasakan oleh hati.

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga

47 komentar:

  1. ALhamdulillaah aku termasuk orang yang masih senang membaca buku, apalagi secara konservatif hahaha. Kudu pegang bukunya, dinikmati bacanya sambil santai. Ga begitu demen baca online karena mata lelah kena cahaya gawai dll. AKu juga mengajarkan anak2 untuk tetap suka baca buku. Ada lemari khusus penyimpanan koleksi buku di rumah. Kalau ada pameran buku BBW wuiiih dateng dong :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toss dulu, Mbak... Kita sama :) Ada sensasi berbeda aja kalau baca buku biasa ya, Mbak.

      Hapus
  2. Sejak dari kandungan sudah bisa ya membacakan buku. Anak-anak juga sedang saya latih untuk gemar membaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa banget.

      Ayo, Mbak! Kita sama-sama budayakan literasi pada anak-anak kita.

      Hapus
  3. Mbak asli Jember ya?
    Kami pernah ke Jember rombongan waktu ada acara Waton Festival di Watu Ulo. Blogger pada ke sana. Apakah Mbak ikutan?
    Kami mengunjungi banyak lokasi di Jember, tapi sayang tidak ke perpustakaan daerahnya. Semoga suatu saat bisa ke Jember lagi hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Saya mah sama kayak Teteh Okti, USA (Urang Sunda Asli). Tapi sekarang lagi merantau di Jember.

      Saya nggak ikutan, soalnya punya dua krucil hehehe... Hayu, Teh ka Jember deui ke ku abdi diajak ka perpustakaana :)

      Hapus
  4. Memang membaca buku harus lebih dioptimalkan, dibuat Kegiatan-keg yang menyenangkan dengan buku

    BalasHapus
  5. Peran keluarga emang yang utama yaa.. Cara bapak mbak bisa dicontoh nih.. Sayapun ingin anak-anak saya kelak cinta dengan buku dan ilmu pengetahuan. Seperti generasi ulama di masa terdahulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Ya, Mbak generasi yang cinta literasi akan jauh lebih bisa saling memahami dan menghormati :)

      Hapus
  6. Peran ibu dalam membiasakan anak membaca sangat diperlukan sekali loh mba..masalahnya saya tuh suka baca tapi anak saya yang pertama agak gk suka tapi saya biasakan sblum tidur membaca dongeng bersama akhirnya dia jadi suka baca karena terbiasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, Mbak betul banget saya setuju. Saya juga selalu menginvestasikan waktu setiap hari untuk membacakan buku kepada anak-anak.

      Hapus
  7. Wahhh, Masya Alloh. Semoga kita tetap istiqomah membudayakan literasi di lingkup keluarga kecil kita maupun lebih luas dari itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Makasih suhu... :) Semoga habit baca suhu menurun ke anak-anak kita :)

      Hapus
  8. suka baca gegara diajari bapak yg juga gemar buku yak. menurun positif nih. saya jg suka baca gegara abi yg juga suka baca. senang deh lingkupnya kalau kutu buku semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kita sama dong. Keteladanan, itu yang membuat kita jadi suka baca ya, Mbak? :)

      Hapus
  9. Wah samaan nih mba, dulu bapak juga suka membelikan kami buku/majalah sehabis pulang kerja. Tapi aku sempat malas membaca buku sewaktu kuliah-kerja, karena mungkin waktu yang udah kehabisan di kampus dan kantor kali ya. Tahun ini mulai bertobat, dan mulai baca buku lagi, heheh. Setiap malam juga masih selalu bacain buku buat anakku, walaupun kadang anakku ogah, tapi sebisa mungkin diusahain walau hanya sebentar hehehe. semoga kelak generasi kita makin cinta membaca ya mbak. Aamin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Ayo, tetap semangat membersamai anak-anak agar cinta literasi :)

      Hapus
  10. Benar banget, mbak. Memang kalau mau anak suka membaca harus dari orang tuanya dulu yang memberi contoh ya. Trus soal perpustakaan kayaknya memang harus mengikuti perkembangan jaman juga biar menarik untuk dikunjungi. Misalnya dibuat instagramable

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sippp... Setuju. Secara sekarang kalau nggak selfie serasa ada yang kurang ya, Mbak hehehe...

      Hapus
  11. Yap
    Beruntung bisa mengajari anak kenal literasi sejak di kandungan
    Pas lahir sudah ga asing sama kegiatan baca, nulis dan sejenisnya

    Semangat ya Mbak

    BalasHapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  13. Buka blog baru kali ini aku mbak intan, jd tadu dah nulis comen hilang, nulis lg heda deh yg ditulis...
    pengin mulai baca tp kok balapan ama ngantuknya ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Semangat, Bu. Terima kasih sudah mampir di rumah maya saya :)

      Hapus
  14. aku juga sudah memperkenalkan buku sejak dini mba, jadi sampai sekarang mereka ketagihan minta beli buku terus ke toko buku tiap minggu, semoga bisa mendukung anak-anak agar melek literasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Mbak, sebagai ibu kita harus lebih peduli dengan habits membaca anak-anak agar mereka mencintai literasi.

      Hapus
  15. Bagaimanpun membaca dengan media buku lebih menarik daripada dengan media gawai karena lebih imajinatif. Disamping itu tentunya lebih sehat karena melatih gerak otot mata yang dirangsang untuk bergerak mengikuti alur tulisan.
    Semangat terus NENG, dalam mencetak generasi cinta baca. Terutama lagi membaca Wahyu dan Firman-Nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget.

      Aamiin... Hatur nuhun Afitra. Mudah-mudahan Neng istiqomah... :)

      Hapus
  16. Wah kok sama mbak, papa juga menjadi orang pertama yg membuat saya jatuh cinta dgn buku

    Dan benar, keluarga adalah garda terdepan dlm mengenalkan literasi pada anak

    BalasHapus
  17. setuju mba gawai hanya alat dan untuk minat baca tidak bisa disalahkan karena gawai ya mba bahkan kini ada perpus online yang bisa baca lewat gawai..dan ortu sebagai model itu setuju :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, benar banget, yang terpenting kita sebagai orang tua harus punya aturan yang jelas dan bijak.

      Hapus
  18. Benar mbak, saya sekarang lagi hunting perpustakaan kece di daerah biar anak-anak semakin menyenangi dunia literasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saja perpustakaan yang nyaman bisa menyebar sampai ke pelosok di negeri ini.

      Hapus
  19. Ikutan komunitas literasi memberikan feed back positif buat kita, jadi pertukaran semangat buat baca

    BalasHapus
  20. Dunia literasi sangat berguna untuk negeri ini, oleh karena itu bawa anak anak ke perpustakaan atau kita ajak bercerita untuk menyukai membaca

    BalasHapus
  21. Benar banget sedari kecil kita harus mengenalkan anak dengan buku. Supaya nanti akan selalu penasaran akan apa isi buku yang akan dibaca. Dan tentu menjadi penggiat literasi kan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sippp... Setuju banget, dan itu semua tugas kita sebagai orang tua, Mbak :)

      Hapus
  22. Yang paling penting kalau sekarang ini adalah meningkatkan literasi membaca ya mbak, apalagi dimulai sejak anak-anak. Karena orang-orang Indonesia ini termasuk dalam kategori malas baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hapus stigma malas baca yuk, Mbak. Kita mulai berpikir dan berkata positif agar nanti kebawa positif juga ke action-nya :)

      Hapus
  23. wah saya juga masih seneng ke perpustakaan. sayangnya perpus deket rumah jam 3 sore udah tutup hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, terkadang terkendala kondisi juga ya, Mbak. Mudah-mudahan kedepannya perpustakaan bisa lebih memfasilitasi hobi baca kita :)

      Hapus