Selasa, 26 Mei 2020

Kumparan, Kiblatnya Berita Terkini dan Terupdate

18.12 17 Comments




Kumparan. Platform media kolaboratif Indonesia yang pertama kali diluncurkan pada Januari 2017. Kumparan hadir sebagai wadah membaca, membuat dan berbagi beragam berita dan informasi. Kumparan merupakan platform pertama di Indonesia yang menerapkan jurnalisme berbasis teknologi yang memungkinkan interaksi bagi penggunanya.

Kumparan berkomitmen menghadirkan konten yang menjunjung tinggi kredibilitas dan memegang teguh etika jurnalisme. Hal tersebut dikarenakan Kumparan menerapkan Personalization Algorithm Technology (PAT). Dengan PAT ini, konten yang dihasilkan akan berkualitas dan tersebar kepada orang yang tepat  di waktu yang tepat pula.



Selain menerapkan PAT, seluruh jurnalis Kumparan pun telah mendapatkan sertifikasi resmi dari Dewan Pers pada tahun 2018. Sebanyak 158 jurnalis Kumparan telah lulus uji kompetensi.

Kumparan tidak hanya bisa dinikmati di website saja. Kita pun bisa mengakses berita dan informasi terupdate melalui aplikasi di mobile phone. Dengan cara meng-install aplikasi Kumparan di Playstore, kita bisa langsung mendapatkan update berita terkini yang berkualitas dan kredibel. Aplikasi Kumparan di smartphone terhitung ringan, sehingga mudah diakses. Kita hanya membutuhkan ruang penyimpanan sebesar 58MB di smartphone.




Kelebihan lainnya dari aplikasi Kumparan ialah tampilannya yang fresh dan tidak banyak iklan. Kita sebagai pembaca diberikan kenyamanan untuk mendapatkan berita dan informasi. Tidak membuat mata lelah karena tampilan yang ramah dan simple.

Berita dan informasi yang disajikan di aplikasi Kumparan biasanya tidak terlalu panjang. Namun, apa yang dicari pembaca bisa didapatkan. Artinya penyajian berita tidak bertele-tele. Pembaca bisa langsung mendapatkan berita atau informasi yang diinginkan. 

Kumparan pun menyajikan berita dengan sangat cepat. Biasanya tidak sampai hitungan jam, informasi terkini dan terupdate bisa kita dapatkan. Hal ini menjadikan kita lebih mudah, cepat dan tepat dalam mendapatkan berita dan informasi. Saya pribadi merasakan manfaat dari sejak memasang aplikasi Kumparan di smartphone. Setiap kejadian akan kita ketahui secepat mungkin.

Selain itu, yang saya suka dari Kumparan ialah cepat mengkonfirmasi dan meminta maaf ketika berita yang disajikan sebelumnya tidak sesuai atau ada kesalahan. Sehingga berita yang tersebar tidak menjadi hoaks di masyarakat luas.

Kumparan juga menyediakan ruang bagi masyarakat untuk ikut berbagi informasi. Kita bisa menuliskan informasi atau apapun yang kita ingin bagikan. Tentu saja apa yang kita tulis dan sebarkan harus yang bersifat positif.

Tidak hanya itu, sebagai pembaca, kita pun disediakan wadah untuk mengetahui berita  terkini dan terupdate, mendapatkan informasi mengenai event atau kesempatan mendapatkan hadiah dari Kumparan. Kumparan menyediakan WhatsApp Group bagi para pembacanya. Kumparan memiliki 9 cluster, diantaranya: News, Entertainment, Tekno&Sains, Bola&Sport, Woman, Mom, Bisnis, Food&Travel, dan Otomotif



Menurut saya, Kumparan benar-benar platform media kolaboratif. Ada banyak manfaat dengan memiliki aplikasi Kumparan. Pokoknya tidak ada keraguan untuk #PercayaKumparan, karena berita dan informasi yang disajikan benar-benar terkini dan terupdate.



#TenanguntukMenang
#BerkahNulisdiRumah


Selasa, 19 Mei 2020

#CeritakuDariRumah, Lakukan Kebaikan, Meski Terlihat Sepele!

21.43 8 Comments



“Udah nyantol berapa, Pak?”
“Ah, sejak adanya corona, jam segini saya belum dapat penumpang. Padahal biasanya jam 7 pagi udah dapat 2 atau 3 penumpang.”

Sebuah percakapan singkat Pak Suami dengan supir ojek online, sambil kami menunggu pesanan penganan khas Jawa Timur. Wajah lesu seakan menyiratkan kebingungan supir ojol tersebut. Ia pun mengeluh, saat ini lebih banyak mengandalkan penghasilan istrinya sebagai penjual makanan.

Covid-19. Ah, entah sampai kapan virus menakutkan dan mematikan ini akan pergi menjauh. #DiRumahAja selama hampir 3 bulan tentu saja tidak mudah. Tidak hanya rasa bosan, tapi juga bagi kebanyakan orang berdampak pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Covid-19 membuat Ramadan tahun ini terasa berbeda. Masjid-masjid sepi. Tak ada riuh canda kebahagiaan anak-anak mengaji menyambut waktu berbuka. Tak terdengar derap langkah orang-orang bersiap melaksanakan shalat tarawih. Hanya ada muadzin yang setia mengumandangkan panggilan cinta dari Sang Pemilik bumi dan langit.

Covid-19 membuat semuanya berubah. Kita telah kehilangan banyak hal. Kebiasaan-kebiasaan di bulan Ramadan tidak kita rasakan saat ini. Bahkan suasana Idul Fitri pun, mungkin hanya tinggal khayalan belaka. Tidak hanya itu, dampak yang terasa adalah banyaknya orang kehilangan mata pencaharian. Jika tahun kemarin, momen Ramadan dan Hari Raya selalu menjadi kebahagiaan tersendiri. Biasanya kebanyakan orang akan mendapatkan kantong rezeki lebih. Namun, tidak di tahun ini.

Pemberlakuan Work From Home (WFH) dan School From Home (SFH) telah membuat beberapa mata pencaharian ikut terdampak. Mereka yang menggantungkan hidupnya dari sektor transportasi, pemilik café atau restoran dan juga agen tour dan travel sangat merasakan efek pandemi Covid-19 ini.

Pemberlakuan aturan karantina dan #DiRumahAja memang merupakan cara paling ampuh untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini. Meskipun akhir-akhir ini kita merasa dikhianati oleh sebagain orang yang seakan menutup mata dan telinga  mereka. Mulai dari adanya kerumunan orang-orang pada saat penutupan McD Sarinah Jakarta hingga berjejalnya orang-orang di beberapa mall di beberapa kota di Indonesia.

Coba kita perhatikan lagi curhatan para supir ojol yang sepi penumpang. Apalagi ketika kita melihat perjuangan dan pengorbanan luar biasa para tenaga medis. Ah, rasanya geram dan marah dengan segala kebodohan perilaku orang-orang tersebut. Dimana empati mereka? Dimana hati mereka?

#Terserah. Tidak salah ketika hastag ini mulai berseliweran. Putus asa dan seakan ingin menyerah saja dengan kondisi yang ada. Covid-19 yang katanya menakutkan, toh belum bisa membuat semua orang patuh untuk #DiRumahAja.


Menyerah atau berbuat sesuatu?
Yap, kadang terbersit juga pertanyaan tersebut dalam hati. Bisikan malaikat dan setan adu kuat saling memengaruhi. Namun, hati kecil selalu membisikkan hal yang baik. Berbuat kebaikan meski sekecil apapun, mungkin jauh akan menjadi solusi.

Menyerah bukanlah solusi. Tapi, berbuat sesuatu sebisa kita, itu jauh lebih cerdas dan bijak. Apa yang bisa kita lakukan untuk memutus mata rantai penyebaran vrus ini?


Jika belum bisa menjadi solusi, maka jangan jadi penyebab masalah.
Ya, bagi saya pribadi, hal inilah yang selalu ditanamkan. Jika saya belum bisa memberi banyak manfaat dan solusi, setidaknya saya jangan menjadi penyebab masalah. Jika saya belum bisa menjadi relawan, tenaga medis, menyumbang APD, atau menyebar masker dan cairan disinfektan serta bantuan bahan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan, maka saya jangan sampai menjadi penyebab bertambahnya pasien baru Covid-19.

Kembali kepada curhatan supir ojol yang tanpa sengaja kami dengar, membuat saya dan suami selalu terngiang dengan hal tersebut. Di masa pandemi ini, saya harus sangat bersyukur karena masih bisa sehat, bermain dengan anak-anak, mengobrol dengan suami, makan makanan yang layak, dan memiliki waktu untuk belajar serta mengembangkan diri. Tapi, lihatlah di luaran sana?

Oleh karena itu, saya dan suami ingin berbuat kebaikan sebisa dan semampu kami. Jika menunggu kami memiliki uang berdigit-digit di rekening, harus nunggu sampai kapan kami bisa berbuat baik?

Menurut saya, kebaikan sekecil apapun pasti akan memberikan dampak. Mungkin terlihat sepele, membelikan menu makanan yang sama kepada pengemudi ojol. Tapi, melihat mata yang berkaca-kaca dan ucapan terima kasih berulang-ulang, ada pesan tersirat yang membuat mata kita ikut berembun.

Tidak ada kebaikan yang sia-sia, apalagi di bulan Ramadan ini. Dengan segala keterbatasan, kami coba sisihkan sedikit rezeki. Kami titipkan kepada lembaga yang memang amanah.

Apakah semua ini kami lakukan karena kami berlebih? Bukan berlebih, tapi kami merasa telah dicukupkan oleh Allah Swt. Saya dan suami hanyalah manusia biasa. Saya pun seorang ibu rumah tangga, bukan wanita karier. Jalan rezeki saat ini hanya dari pekerjaan suami. Namun, kami bersyukur masih diberikan kecukupan.

Kehadiran Covid-19 memang telah mengubah semuanya, tapi tidak akan menghilangkan niat untuk selalu melakukan kebaikan. Baik itu kebaikan untuk diri sendiri dengan cara menjaga untuk tidak tertular dan menularkan. Selain itu, kita pun harus berusaha untuk bisa melakukan kebaikan untuk sesama. Bersikap simpati dan empati terhadap sekitar.

Sebenarnya tidak ada yang sulit ketika kita memiliki niat untuk berbuat kebaikan. Meskipun saat ini kita #DiRumahAja. Apa yang saya dan suami lakukan pun #CukupDariRumah untuk bisa berbagi.

Kita tidak boleh kalah dengan Covid-19 ini. Apalagi di bulan Ramadan, bulan penuh keberkahan, saatnya kita manfaatkan untuk lebih banyak menebar kebaikan. Di hari-hari terakhir Ramadan ini, kita jadikan momen untuk menjadi jalan kebaikan bagi semua orang. #CukupDariRumah namun efeknya akan sangat luar biasa dan akan mengubah alur cerita menjadi lebih menyenangkan.



**Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition "Ceritaku Dari Rumah" yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan.


Sabtu, 09 Mei 2020

#DengarkanHatimu, Jangan Biarkan Pandemi Ini Membuatmu Tak Bahagia

09.59 24 Comments



#DiRumahAja. Pernah kebayang nggak sih sebelumnya kita bisa ngumpul bareng suami dan anak-anak hampir sebulan lebih? 4L deh, Lu Lagi Lu Lagi. Dari mulai bangun sampai tidur hampir tidak ada jeda menatap wajah mereka. #DiRumahAja, Work From Home, School From Home menjadi kata-kata yang sangat familiar.

Hayooo, jujur sama diri sendiri nih ya, kamu masuk tipe mana? Suka plus bahagia karena bisa ngumpul sama suami dan anak-anak 7 hari 24 jam nonstop? Atau, kamu tipe orang yang ngeluh bin sedih karena harus bertemu suami dan anak-anak tanpa jeda?

Kalau kamu tipe kedua, bertobatlah. Ups, just kidding… heheheh…. Manusiawi kok kalau kamu ada saatnya merasa bosan dan lelah dengan rutinitas akhir-akhir ini. Kebayang dong, kita harus #DiRumahAja dan nggak sekadar window shopping atau nongkrong di café gitu. Ditambah lagi kita harus superwoman alias multitasking. Yap, pekerjaan domestic seperti masak, nyuci, nyapu, ngepel aja belum tentu kelar sekejap mata. Eh, sekarang harus jadi guru buat anak-anak yang School From Home (SFH). Mending kalau kita paham dengan pelajarannya. Nah, kalau nggak? Nanya mbah google, kok tambah mumet bin ruwet.

Tugas-tugas di atas belum nemu solusi buat selesai sesuai rencana dan target, eh suami yang Work From Home juga kadang menjadi pikiran kita para emak-emak. Emang, kenapa juga harus dipikirin? Sebenarnya masalahnya sih sepele.  Biasanya kalau bapaknya anak-anak ada di rumah, biasanya anak-anak tuh secara alami pengen dong main terus sama bapaknya. Nah, paksu pengennya fokus dengan segala pekerjaannya, apalagi kalau pas online meeting, hadeeeuuh… Auto complain sama kita tuh buat jagain bocah.



Drama nggak berhenti sampai disitu. Yap, bagi para emak-emak yang berkarier, management waktu dan perasaan harus bin kudu dikelola dengan baik. Bisa-bisa stress tuh karena kerjaan kantor nggak selesai, tugas anak belum dikelarin dan kondisi rumah menuntut untuk dituntaskan, ditambah udah nggak punya ide buat masak apa lagi karena anak-anak dan suami never ending ngemil. Ah, kalau dipikir mah, bisa langsing tanpa program diet atau olahraga ketat, loh. Gimana? Seru kan? Sedap-sedap gimana gitu? J

You are what you think. Yap, situasi seperti ini tuh sebenarnya bisa kita lihat dari dua sisi loh. Kalau kita memandang dengan keluhan, ya pasti kita menjalaninya dengan susah juga. Pasti yang kita lihat itu nggak enaknya, mulai dari nggak bisa kemana-mana, merasa dibatasi, tiap hari di rumah, gaji ke-13 ditunda (bagi ASN), THR nggak dapat (bagi sebagian orang), harga-harga naik, dan serentet hal yang bisa bikin mumet.

Kebayang nggak stress mikirin itu semua. Eh, belum lagi anak-anak nuntut minta dibeliin ini itu, plus jajan melulu dan makan tambah banyak karena di rumah terus. Hadeuuh… apa nggak bikin pening tuh kepala emak.

Eits, take a breath, please. Tahu nggak bedanya mata lalat sama mata lebah? Yap, mata lalat hanya mencari sampah (sesuatu yang kotor), tapi mata lebah hanya mencari bunga (sesuatu yang baik/indah). Di saat pandemic ini, berhentilah berkeluh, karena itu bukan solusi.

Coba kita lihat sisi positifnya. Kalau saya pribadi sih, belajar terus untuk mensyukuri apa yang ada. Di tengah pandemic covid 19, Alhamdulillah suami bisa Work From Home, jadi intensitas bertemu bisa lebih sering. Kelekatan dengan kita ataupun anak-anak malah bisa lebit erat.

Dapat kabar katanya gaji ke-13 paksu juga ditunda, ya disyukuri aja, mau gimana lagi. Lagian saat ini, kami masih bisa makan layak. Coba lihat di luaran sana, untuk makan hari ini saja masih bingung harus dapat dari mana. Nah, kita? Masih bisa milih menu apa yang akan disediakan buat buka puasa dan sahur.

Ramadhan kali ini, nggak bisa ibadah ke masjid. Sisi positifnya bisa shalat bersama suami dan anak-anak di rumah, malah hampir setiap waktu shalat. Sekalian edukasi juga buat anak keduaku yang belum genap 2 tahun. Selain itu, kita bisa sering punya waktu ngaji bareng plus lihat atau dengerin kajian online.

Lebaran tahun ini nggak bisa mudik. Daripada mudik berisiko, baik itu buat diri kita, keluarga atau orang lain, mending #DiRumahAja. Kalau menurut saya sih, kalau kita sayang sama orang tua atau keluarga di kampung, lebih baik nggak mudik. Ketimbang kita juga harus menjalani masa karantina. Apa nggak kasihan tuh psikologis anak-anak di tempat karantina. Ya, mencoba ambil sisi positifnya? Hmmm… Uang yang biasanya dipakai transportasi mudik, bisa dialihkan loh buat nyumbang saudara-saudara yang terkena dampak covid 19, dan minta mereka mendoakan orang tua kita. Gimana? Cakep kan? J

#DiRumahAja tuh bukan masalah yang bisa bikin hidup kita berhenti. Sebagai seorang ibu yang punya hobi merangkai kata, saya sih sudah terbiasa #DiRumahAja. Meskipun saat ini ada yang beda. Beda karena suami pun tetap #DiRumahAja.

Oya, ada lagi nih yang beda. Biasanya saya dan suami mengajak anak-anak nge-trip di setiap weekend. Saat ini, kebiasaan itu berhenti total. Sedih plus kangen juga sih nge-trip. Tapi, mau gimana lagi, kondisi memaksa kami untuk tetap #DiRumahAja.



Bosan? Pasti. Saya sih nggak menampik itu. Biasanya tiba-tiba kami berempat meluncur kemana saja yang tempat yang terlintas di otak kami. Nah, karena saat ini tidak bisa, jadi harus pintar-pintar nih jaga mood. 

Terus, solusinya? Ah, meskipun suka bad mood kalau udah bosan dan lelah, tapi penangkalnya pun nggak susah dan mahal kok. Biasanya cukup diajak ngobrol sama suami atau uyel-uyelan bareng anak-anak, langsung cair lagi deh.

Saya juga tetap menjaga kondisi rumah bersih. Meskipun punya dua anak cowok yang lagi aktif-aktifnya, tapi saya paling nggak betah kalau rumah sampai kotor nggak terurus. Itu semua bisa bikin bad mood banget. Dan, suami pun nggak jauh beda sama saya. Jadi, kita biasanya bersih-bersih rumah bareng sekalian ngajakin anak-anak juga. Rumah bersih, anak-anak juga senang loh kalau dilibatkan.

Selain bersih-bersih, sebagai seorang ibu, saya pun harus punya waktu khusus buat anak-anak. Ngajak main anak itu wajib loh hukumnya, dan bukan pekerjaan sampingan. Biasanya anak-anak suka kalau ditemani bermain, mulai dari bermain balok kayu, lego, membaca dan mewarnai.







Aktivitas penghilang bosan dan faedah lainnya, ya memasak. Menyiapkan menu puasa dan sahur. Meskipun di hari kesepuluh di bulan Ramadhan ini, emak sudah mulai bingung mau masak apa. Tapi, kebingungan, kelelahan dan keriweuhan saat masak terobati ketika melihat suami dan anak-anak lahap makannya. Bagi emak-emak seperti saya, bahagia itu sederhana banget ya J.

Kalau semua aktivitas di atas sudah tidak mempan. Bosan masih menyapa dan bad mood meradang, biasanya saya diajak keluar jarak beberapa meter dari rumah alias keliling komplek lalu mutar balik. Ya, istilah lainnya cari angin segar plus kalau ketemu tukang buah, ya sekalian beli buat buka puasa.

Jujur saja sih, memang nggak mudah #DiRumahAja buat saya dan suami. Tapi, ya mau gimana lagi. Life must go on. Tetap jalani saja dengan happy. Bagi saya sih, satu hal yang penting, #DengarkanHatimu. Artinya, diri ini punya hak loh untuk dibahagiakan. Sesekali manjakan diri. Rebahan hitungan satu sampai dua jam kan bukan dosa besar juga, apalagi saya masih menyusui. (Maaf bukan mencari alasan untuk masuk tim rebahan J )

Selain itu, membuat diri bahagia bisa dengan menjaga penampilan diri. #DiRumahAja bukan berarti lupa segalanya, apalagi lupa mandi. Nah, biar bikin lebih fresh dan tambah semangat, jangan lupa tetap rajin keramas.

Bagi wanita berhijab seperti saya, memilih shampoo khusus hijab itu penting loh. Karena rambut yang tertutup hijab itu butuh treatment khusus juga. Meskipun saat ini #DiRumahAja, bukan berarti kita sama sekali nggak berhijab kan? Kalau bersih-bersih di luar rumah? Belanja di tukang sayur? Atau nemenin anak main di halaman rumah? Sudah pasti kita pakai hijab kan?



Nah, sekarang ada shampoo khusus hijab dari Emeron. Shampoo khusus hijab dengan tea trea oil dengan MOC parfume yang dapat mengurangi rambut rontok dan dapat memberikan kesegaran pada rambut. Emeron Hijab Nutritive Shampoo ini memang salah satu varian terbaru dari Emeron.



Emeron Shampoo akan menemani hari-harimu #DiRumahAja dengan penuh semangat. Nggak perlu khawatir lagi dengan rambut rontok karena tertutup hijab terus. Karena Emeron telah memberikan solusinya.

So, #DiRumahAja bukan sesuatu yang bikin bad mood, kan? Kuncinya, asal kita tahu cara untuk mengisinya dengan hal-hal yang positif. Tetap #DengarkanHatimu, agar kita bisa tetap bahagia dan waras di masa pandemic ini.  

Selasa, 05 Mei 2020

5 Tips Agar Tetap Fit Bagi Busui Di Bulan Ramadan

21.12 13 Comments



Ramadan. Tak terasa kita sudah menikmati jamuan 10 hari kedua bulan penuh berkah ini. Meskipun, mungkin hampir setiap orang merasakan atmosfer berbeda di Ramadan kali ini. Tapi, Ramadan tetaplah memberi suasana hati yang lebih menenteramkan.

Ramadan tahun ini kita benar-benar memaknai proses menahan diri. Ya, pandemic covid 19 membuat kita harus #DiRumahAja. Kita harus menahan diri untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan, baik yang dilakukan sebelum, saat ataupun setelah Ramadan. Semua kebiasaan dan juga rencana yang telah kita susun, mulai dari aktivitas rutin di bulan suci hingga mudik, tidak bisa terealisasikan.

Tapi, Ramadan tetaplah Ramadan. Itulah yang harus kita tanamkan. Himbauan maupun larangan untuk membatasi gerak lingkup kita untuk ibadah berjamaah, tidak harus menjadikan kita merasa jauh dari Sang Pencipta.

Melaksanakan Ibadah puasa tentu saja memiliki tantangan sendiri-sendiri. Contohnya saja bagi ibu menyusui. Berpuasa bagi busui memang sangat butuh perjuangan. Saking tidak mudahnya melaksanakan puasa bagi ibu hamil ataupun menyusui, bahkan Allah memberikan keringanan (rukhsoh). Kita diperbolehkan untuk tidak berpuasa kalau kondisi anak tidak memungkinkan.

Tapi, bagi ibu-ibu yang tetap ingin berpuasa, tentu saja boleh. Sekali lagi, kita juga harus melihat kondisi si ibu dan bayinya. Nah, saya ingin berbagi tipsnya berdasarkan pengalaman pribadi. Busui juga bisa loh tetap fit meskipun sedang berpuasa. Ini dia 5 tips tetap fit bagi busui di bulan Ramadan:
  • Yakin dan tetap positive thinking

Kenapa ini menjadi poin nomor satu? Ya, poin setelah ini hanyalah pendukung. Ketika diri kita sudah yakin untuk berpuasa penuh, maka kekuatan itu akan mengikuti. Intinya memang di pikiran yang harus tetap positif. Puasa ini jangan dibawa cemas dan was-was dulu, tapi dinikmati. Coba bayangkan hal-hal positif yang bisa didapat dengan kita berpuasa. Jauhkan juga pikiran-pikiran ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran lainnya. Karena dengan pikiran yang positif, kita akan jauh lebih bahagia. Ketika kita bahagia, produksi ASI jauh akan lebih banyak. Artinya apa? Kebutuhan ASI bagi buah hati pun akan tercukupi dan kita bisa melaksanakan puasa tanpa rasa was-was dan bersalah.

  • Cukup kebutuhan air putih

Air putih ini merupakan asupan yang paling penting. Tidak hanya untuk busui, tapi juga bagi setiap orang. Apalagi bagi busui yang membutuhkan asupan cairan lebih banyak daripada yang tidak sedang menyusui. Ibu menyusui itu membutuhkan 8 ditambah 3 gelas air putih setiap harinya. Untuk waktu minumnya, bisa kita atur sendiri kok. Pokoknya jangan sampai kurang dari itu.

  • Konsumsi Makanan Sehat

Untuk sebagian atau mungkin kebanyakan orang Indonesia, godaan terbesar saat berbuka itu ialah gorengan. Makan gorengan saat berbuka itu kenikmatan yang hakiki. Nah, bagi busui sebaiknya lebih banyak mengkonsumi makanan sehat, seperti buah dan sayur. Bagaimana dengan gorengan? Bagi orang yang sudah terbiasa ada baiknya bertahap untuk menguranginya. Agar tubuh pun tidak kaget, dan kita pada akhirnya bisa melepas gorengan dengan ikhlas tanpa paksaan dan mengganti dengan cemilan sehat.

  • Kurangi konsumsi kafein

Memang benar kafein itu tidak seratus persen memberikan efek negative. Kafein juga memberikan efek positif kok. Seperti yang dilansir oleh www.sehatq.com, 7 manfaat kafein diantaranya: meningkatkan daya ingat, menurunkan berat badan, meningkatkan performa olahraga, mengurangi risiko penyakit Parkinson dan Alzheimer, mencegah kanker kulit, mengatasi depresi, dan meningkatkan kewaspadaan.

Tapi, manfaat tersebut akan kita dapatkan ketika takaran yang masuk ke perut sesuai, tidak berlebihan. Kita disarankan mengkonsumsi kafein, tidak lebih dari 400 mg. Oya, ingat ya, kafein itu tidak hanya ada pada kopi, tapi juga pada teh dan minuman bersoda.

Kenapa tidak boleh lebih dari 400 mg. Karena ada efek negative yang bisa kita rasakan, diantaranya: gugup, gangguan tidur, detak jantung tidak normal, tekanan darah tinggi, sakit kepala, hingga tremor otot.

  • Cukup istirahat

Biasanya ketika perut kosong, kita sering merasa lemas. Apalagi bagi ibu menyusui yang harus tetap memberikan asupan bagi si kecil. Nah, bagi para busui, istirahat yang cukup bisa membantu untuk tetap fit.

Ketika kita kurang istirahat, akan membuat bad mood, dan itu tidak baik untuk produksi dan kualitas ASI. Istirahat yang cukup bukan berarti harus tidur terus loh. Cukup tidup 1-2 jam di siang hari, itu sudah sangat membuat badan kita kembali segar.


Intinya, berpuasa itu jangan dijadikan beban. Apalagi di bulan yang penuh keberkahan dan kemuliaan ini, ada baiknya kita lebih banyak melakukan hal-hal yang positif. Niatkan ibadah dan juga sebagai sarana kita lebih dekat dengan Allah Swt.

Jangan lupa untuk tetap bahagia agar kita bisa membahagiakan orang-orang di sekitar kita. Ingat, kesehatan itu tidak hanya didapat dengan menjaga asupan gizi, tapi juga ada doa dari orang-orang yang kita bantu. Misalnya saja, kita belanja bahan-bahan pokok atau pakaian di Shopee lalu kita bagikan kepada saudara-saudara yang terkena dampak. Dengan berbelanja di Shopee, belanja nggak perlu keluar rumah, tapi kita bisa tetap dapat berkah.




Kita manfaatkan momen Ramadan di saat pandemic covid 19 ini untuk lebih meningkatkan kualitas keimanan kita. Di Ramadan kali ini, kita akan jauh lebih merasakan apa itu peduli dan menahan diri. Satu hal lagi, keep healthy agar puasa kita jauh lebih bermakna.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog #THRBigRamadhanSale202 bersama Shopee.