Follow Us @soratemplates

Friday, July 29, 2016

Ini Bandung, Nak!

July 29, 2016 0 Comments

Banyak hal yang berbeda di lebaran tahun ini. Aku merasa Hari Raya Idul Fitri kali ini memberi makna yang begitu dalam. Setelah 8 bulan lebih tidak menyapa kampung halaman, hari raya ialah waktu yang paling dinanti. Ada rasa yang memaksa, ada rindu yang harus terobati.
Perjalanan mudik kali ini memang penuh tantangan. Suami yang sedang riweuh dengan kerjaan di kantor membuat aku khawatir rencana mudik akan tertunda. Apalagi 2 minggu sebelum keberangkatan, suami memberi tahu kalau akan ada pelatihan setelah hari raya. Itu artinya, suami tidak bisa mengambil cuti setelah cuti bersama. Tapi, syukurlah, karena izin yang diajukan oleh suami sudah dari 3 bulan sebelumnya, jadi pihak pimpinan pun tetap memberikan izin.
Tantangan mudik tidak berhenti sampai di situ. Tepat seminggu sebelum keberangkatan menuju Bandung, mulai muncul pemberitaan tentang himbauan kepada PNS untuk tidak mengambil cuti setelah hari raya. Aku dan suami menghela napas panjang. Pikiran dan perasaan pun bercampur tidak menentu. Andaikan suami tidak diizinkan untuk mengambil cuti, banyak hal yang harus kami pikrikan ulang. Mulai dari tiket kepulangan yang sudah kami pesan 3 bulan sebelumnya, sampai menjaga perasaan kedua orangtua yang tentunya waktu bertemu dengan cucunya sangat singkat.
Tapi, semuanya kami serahkan kepada Allah Swt. Aku dan suami berdoa yang terbaik untuk semuanya. Alhamdulillah, ternyata suami masih tetap diizinkan untuk mengambil cuti tambahan. Aku dan suami bersyukur karena setidaknya waktu pertemuan dengan keluarga di Bandung tidak terlalu singkat.
Tidak hanya tantangan yang membuat mudik kali ini terasa berbeda. Perjalanan mudik kali pertama bagi si kecil pun, menjadi perhatian besar kami. Semua persiapan sudah kami lakukan dari jauh hari. Kami tidak menapik adanya kekhawatiran dengan perjalanan yang tidak bisa dibilang dekat. Selain itu, bagi si kecil, inilah pertama kalinya melakukan perjalanan menggunakan pesawat di saat usia masih 10 bulan kurang.

Namun, ternyata semua ketakutan itu sama sekali tidak terjadi. Si kecil sangat menikmati perjalanan dari Jember ke Surabaya pukul 10 malam, dan harus ditempuh dalam waktu 5 jam. Tidak hanya sampai disitu, kami pun harus bersabar menunggu di bandara sekitar 3 jam, hingga akhirnya melanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju Bandung. Tapi, syukurlah, dimanapun berada, si kecil asyik lirik kanan kiri dan menyapa setiap orang didekatnya. #MemangAnakRamah J
Kedatangan si kecil di tengah keluarga besar di Bandung memang sudah sangat dinanti-nanti. Senyuman, tatapan mata tajam dan juga celotehannya membuat Mamah dan Bapak tersenyum lebar. Si kecil mampu menjadi ‘obat’ bagi mereka. Kehadirannya memberi warna yang berbeda.
Merayakan hari raya bersama orangtua dan keluarga besar merupakan momen yang tidak bisa tergantikan. Saat kebersamaan, melihat senyum bahagia kedua orangtua dan juga keriuhan keluarga besar menjadikan semuanya akan menjadi kenangan di kemudian hari. Apalagi bagiku yang sudah lama tidak berkunjung ke tanah kelahiran, momen lebaran kali ini menjadi penawar rindu.

Menjejakkan kaki kembali di bumi parahyangan kali ini pun, tidak akan kami sia-siakan begitu juga. Selain memang ingin silaturrahim dan merayakan Idul Fitri, aku dan suami juga ingin memperkenalkan si kecil Azka dengan tanah kelahirannya. Waktu 2 minggu, kami manfaatkan untuk melihat kota Bandung dengan segala keindahannya. Kami pun mengajak serta keluarga besar untuk menemani si kecil Azka untuk mengenal kota kembang yang terus berkembang.


Meskipun memang terlalu singkat waktunya untuk berkumpul dengan keluarga besar di Bandung. Rasanya berat ketika harus menggantikan keceriaan di wajah Mamah dan Bapak dengan tangis perpisahan. Tapi, aku bersyukur karena setidaknya ada kesan manis yang tertinggal, ada rasa yang terobati. Lebaran yang sekaligus reuni plus silaturrahim ini, akan menjadi cerita sendiri. Dan, satu hal lagi, aku dan suami pun merasa senang karena sudah memperkenalkan si kecil akan kota kelahirannya. Ada banyak kisah yang akan menjadi kenangan tersendiri baginya. 


The upcoming event of Diary Hijaber "Hari Hijaber Nasional" on August 7th - 8th, 2016 at Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta. Don't miss it!!!

Tuesday, May 31, 2016

Bahagia di Rumah

May 31, 2016 0 Comments

Menjadi wanita memang sejatinya berfitrah untuk menjadi istri dan ibu. Seorang istri memiliki hak dan kewajiban menjadi partner bagi suami. Sedangkan seorang ibu, sudah menjadi tugasnya menjadi baby sitter bagi amanah yang dititipkan oleh Sang Penggenggam Jiwa.
Aku, yang dulu sebelum menikah sangat workaholic, kini harus mengerem sekuat tenaga kebiasaanku itu. Memang tidak ada tuntutan apapun dari suami. Namun, aku sudah bertekad, jika pilihan terbaik dari hasil keputusan bersama, aku harus fokus untuk mengatur keseharian di rumah tangga, maka akan aku jalani dengan senang hati.
Selain karena hasil keputusan aku dan suami, aku juga memang memiliki impian terbesar dalam hidupku. Ya, impian terbesar, yang bahkan muncul jauh sebelum aku menikah. Aku ingin menjadi bagian dari tumbuh kembang anak-anakku. Aku sangat tidak rela jika anak-anakku lebih dekat dengan pengasuh atau orang lain. Aku berpikir karena aku telah dipercaya untuk mengandung dan melahirkan, maka aku pun tidak akan menyia-nyiakan hadiah terindah ini.

Melihat senyuman manis, mendengar ocehan yang menggemaskan dan juga tingkah yang lucu, merupakan suntikan vitamin kebahagiaan setiap hari. Memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan si kecil yang begitu pesat, membuatku tak berhenti bersyukur. Aku akan sangat menyesal jika aku melewatkan momen-momen berharga yang tidak akan bisa terulang ini.

Sekarang, aku sedang menjalani episode menjadi seorang istri dan ibu dari satu putra. Prioritasku ialah menjadi bagian cerita indah dalam lembaran-lembaran kisah kehidupan suami dan anakku. Aku tidak ingin terlewatkan satu bagian dari penggalan cerita itu.
Bagiku, berdiam di rumah itu bukan berarti tidak bisa mengekspresikan diri. Di tengah waktuku yang tersita bahagia dengan menjalani keseharian menjadi ibu rumah tangga, aku masih bisa memiliki waktu untuk menulis sebagai hobiku. Ya, aku masih bisa merasakan me time dengan menulis dan membaca.
Awalnya aku berpikir untuk meninggalkan sama sekali hobiku ini. Tapi, atas masukan dan juga izin dari suami, aku akhirnya memutuskan untuk tetap menjalani kebiasaan yang sudah aku lakukan sejak kecil. Aku dan suami sepakat untuk mengenalkan si kecil dengan habits menulis dan membaca. Menurut kami, tidak ada salahnya ketika aku melibatkan si kecil ketika membaca dan menulis.
Ada kebahagiaan tersendiri ketika aku bisa menyelesaikan sebuah tulisan dengan ditemani si kecil. Terkadang lucu, saat tangan kiri menggendong dan tangan kanan mengetik dengan fokus yang terkadang harus terpotong tiap 10 menit. Tidak hanya itu, jika si kecil sedang tidak ingin diduakan perhatiaanya, maka aku harus menunggu hingga ia tertidur pulas. Tapi, saat-saat seperti itulah yang menjadi penggalan kisah yang menjadikan cerita semakin berwarna.

Berada di rumah juga, bukanlah menjadi halangan untuk terus berkarya. Memang benar, sebagai seorang istri dan ibu, aku harus fokus kepada keluarga. Tapi, aku yakin apa yang aku lakukan ini tidak bertentangan dengan kewajibanku sebagai seorang istri dan ibu.
Bagiku, bahagia itu sederhana. Saat aku bisa menemani si kecil belajar banyak tentang apapun dan aku juga bisa menjadi guru pertama baginya. Karena menurutku, sejatinya tempat yang paling berharga bagi seorang ibu dan istri ialah rumah. Dari rumahlah, akan muncul generasi-generasi yang dicetak oleh kehalusan dan kasih sayang kita sebagai seorang ibu.
Betapa bahagianya, ketika anak-anak kita dewasa, mereka tumbuh menjadi orang-orang yang penuh dengan cinta. Itu semua karena kita tak pernah lelah menambah deposit cinta dan perhatian kepada mereka. Seperti halnya Tabloid Nova, yang hingga perayaan novaversary, tidak pernah berhenti memberikan inspirasi dan motivasi kepada semua wanita.
              

Friday, May 6, 2016

Mamah

May 06, 2016 0 Comments

Mah, sudah hampir 6 bulan Neng nggak bertemu Mamah. Bukan waktu yang sebentar tentunya. Jauh dari sosok yang sebelumnya begitu dekat. Sosok yang selalu menginspirasi dan memberikan banyak teladan.
Mah, Neng selalu membayangkan, andaikan waktu bisa dilipat dan semua harap menjadi kenyataan. Neng rindu bisa melihat Mamah setiap hari. Neng kangen merasakan kebersamaan kita. Neng merasa sangat menyesal karena dulu Neng belum bisa memuliakan dan membahagiakan Mamah.
Mah, nggak terasa ya, Mamah sudah berusia 61 tahun tepat tanggal 5 kemarin. Ah, usia yang sudah tidak muda lagi. Tapi, di usia Mamah yang sudah sepuh, Neng masih belum bisa menjadi perantara kebahagiaan Mamah. Neng masih belum bisa membuat Mamah tersenyum. Malah sebaliknya, dari dulu hingga sekarang Neng selalu menyusahkan Mamah.
Mah, Neng belum bisa menjadi istri dan ibu sehebat Mamah. Mamah selalu bisa menyembunyikan tangis dalam senyuman dan semangat hidup yang tak pernah redup. Mamah selalu mendahulukan kebahagiaan orang lain. Bahkan seringkali Mamah mengorbankan dirinya hanya untuk orang lain. Tidak ada sisi egois sedikit pun dalam diri Mamah. Ah, Neng harus banyak belajar dari Mamah.
Mah, maafkan Neng belum bisa membuat bangga Mamah. Neng hanya bisa mendoakan Mamah. Neng selalu berdoa yang terbaik buat Mamah. Neng selalu berharap Allah Swt masih memberikan kesempatan kepada Neng untuk bisa memuliakan dan membahagiakan Mamah. Terus sehat dan bahagia selalu, Mah. Neng rindu memeluk dan melihat senyum Mamah J .




Monday, May 2, 2016

Terasa Berbeda

May 02, 2016 10 Comments

20 April, tanggal yang tidak akan aku lupakan. Mungkin sebagian orang hanya melihat dari 2 angka yang digabungkan menjadi satu. Tapi, bagiku tanggal ini ialah tanda saat seorang insan yang kini jatah usianya sudah semakin berkurang. Ya, di tanggal inilah aku dilahirkan.
Sebenarnya hanya satu kali aku merasakan perayaan ulang tahun dari orang tuaku, dan itupun ketika aku masih kecil. Selebihnya aku sering menerima suprise dan hadiah yang tak terkira dari murid-muridku. Namun, 2 tahun terakhir, ada sedikit yang berbeda.
Ya, tahun kemarin, di saat usia pernikahan baru menginjak 4 bulan, suamiku sengaja meluangkan waktu seharian untuk menemaniku berkeliling di kota kelahiranku yang penuh cinta, Bandung. Menelusuri indahnya Bandung masa kini dan mencoba beberapa kuliner kota kembang ini. Sebenarnya itu juga sekalian memperkenalkan Bandung kepada suami yang bukan urang sunda ini. Sekalian jadi tour guide ceritanya J.
Dan, tahun ini, ada atmosfer yang berbeda di momen bertambahnya angka usiaku. Kehadiran si kecil yang semakin lucu dan banyak tingkahnya itu, membuat aku bersyukur berkali-kali. Bagiku, keberadaan suami dan kehadiran si kecil ialah kado terindah dari yang Maha Kuasa. Karena memang menjalani kehidupan yang hampir sempurna ini, membuatku tak bisa lari dari kata bersyukur.
Di ulang tahun kali ini, sebenarnya aku tidak berharap banyak mendapatkan surprise atau hadiah apapun. Aku paham betul, kondisi suami yang sangat sibuk akhir-akhir ini, menjadi alasan paling mendasar. Dengan bisa berkumpul dengan keluarga kecil pun dan juga mendengar keluarga di Bandung sehat, itu jauh membuatku bahagia.
Tapi, ternyata ada sebuah kejutan yang telah disiapkan oleh suamiku. Kejutan di siang bolong. Aku menyebutnya seperti itu. Kejutan yang berhasil membuat air mata ini membasahi pipi.
Ketika aku sedang berada di kamar mandi, suamiku yang seharusya sedang berada di kantor, ternyata pulang. Aku merasa ada yang berbeda dengan sikap suamiku. Tidak biasanya ia menutup pintu kamar rapat-rapat. Dan sangat kebetulan juga, si kecil sedang digendong ibu mertuaku di luar rumah.
Taraaa... Speechless... Ya, aku tak kuasa melihatnya. Sebuah kue ulang tahun bertuliskan nama penaku ada di atas tempat tidur. (Aku tahu kenapa suamiku tidak menuliskan nama asliku, pasti takut nggak muat di kuenya ya hehe...) Aku merasa terharu karena di tengah kesibukan pekerjaan yang tak mengenal kompromi itu, suamiku masih menyempatkan memesan kue sepulang kerja malam sebelumnya. Dan yang paling amazing, kue yang diberikan suamiku itu sama persis dengan kue yang sebulan lalu sempat aku inginkan. Tapi, aku memang tidak pernah mengatakannya kepada suami. Ternyata pesannya langsung terkirim tanpa lewat kata hehe....
Sebenarnya bukan kali ini aku mendapat surprise atau hadiah dari suamiku. Tapi, jujur, bentuk perhatiannya kali ini sangat mengobati rasa rindu pada keluarga besar di rumah. Dan, satu hal lagi, suamiku sudah seringkali memberikan kejutan di momen-momen istimewa. Tapi, aku tidak pernah bisa menebak apa yang akan ia lakukan. Ya, termasuk di ulang tahunku kali ini.
Oya, di ulang tahunku ini juga suamiku berhasil membuatku menangis dan mengeluarkan air mata di depan ibu mertuaku. Hmm... itu adalah aib bagi seorang golongan darah A kalau sampai ketahuan menangis di depan umum. Biasanya kan menutupi tangisan dengan fake smile-nya. Eh...#Abaikan J
Tapi, rasa senangku jauh lebih besar sih dibanding kekesalan dikerjain di depan mertua. Nah, sekarang giliran si aku ini buat merengek minta foto bareng meskipun suamiku hanya menggunakan kaos oblong. Padahal suamiku itu orangnya perfeksionis dan paling nggak pede kalau difoto nggak dalam keadaan rapih. Ya, tapi kan kalau buat istri apapun akan dilakukan. (Demi terciptanya ketenteraman, foto tidak akan di share hehe...)
Bagiku, ulang tahun kali ini terasa sangat berbeda. Beda semuanya pokoknya. It’s the unforgettable birthday for me. Oya, satu hal yang wajib aku tuliskan, seperti apapun perayaan ulang tahunku, yang terpenting aku bisa semakin baik di sisa usiaku ini.





Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke lima Warung Blogger.




Monday, March 21, 2016

SAMSUNG GALAXY S7 & S7 EDGE, Complete Your Life

March 21, 2016 0 Comments

Hi! Kali ini gue bakalan ngasih tau gadget keluaran dari merek yang selalu selangkah lebih maju di kelasnya. Perusahaan yang satu ini memang tidak pernah kehabisan akal untuk memproduksi produk yang membuat para konsumen terbelalak matanya. Kepuasaan konsumen ialah kejaran utamanya.
Waduh kayanya gue kepanjangan ngasih nih pembukaan. Udah kaya pejabat ngasih sambutan aja ya. Ya sudah, gue langsung kepada tujuan awal buat yakinin semua orang kalau sekarang ada smartphone yang benar-benar smart.

Ok, sekarang kita mulai dari tampilan luar. Secara kan yang pertama dilihat itu tampilan fisiknya dulu, meskipun akhirnya inner beauty-lah yang akan membuat kita bertahan. Lho, kok kaya lagi nyari pasangan hidup aja. Ya iyalah gadget itu kan sekarang sudah seperti teman hidup yang tidak bisa dipisahkan. Alright, kembali ke Samsung Galaxy S7 dan Samsung Galaxy S7 Edge. Gadget yang satu ini memiliki design yang slim dan elegan. Samsung Galaxy S7 itu tampilannya Quad HD/5.1 inches/577 ppi. Sedangkan Samsung Galaxy S7 Edge, Quad HD/5.5 inches/534 ppi.

Setelah kita lihat design-nya yang kece abis, sekarang baru kita lihat kelebihan yang lainnya dari gadget ini. Camera. Hmmm...hari gini siapa sih orangnya yang nggak bersahabat baik sama yang namanya kamera. Sekarang tuh, semua momen sepertinya wajib bin kudu di share ke semua orang.  Nah, Samsung melihat fenomena itu. Samsung Galaxy S7 dan S7 Edge adalah smartphone pertama yang memiliki professional-grade Dual Pixel Sensor. Dengan teknologi canggih ini, kita semua bisa mengambil foto di tempat yang tanpa cahaya sekalipun dengan hasil yang jelas dan bersih. Keren abis nggak tuh?
Ok, now, it’s for you para gamers sejati yang nggak pernah bisa move on dari addict nge-game-nya. Samsung Galaxy S7 dan S7 Edge dilengkapi dengan game control center dan gameplay recording. Selain itu, dengan prosesor yang canggih, tampilannya pun seperti lebih nyata.
Terus, gimana nih dengan hardware-nya? Wait...kamu-kamu semua nggak bakalan menyesal dengan membeli Samsung Galaxy S7 dan S7 Edge. Selain prosesornya yang canggih, ditambah RAM yang sangat besar, dan baterai yang tahan lama. Pokoknya kamu akan dimanjakan dengan smartphone yang satu ini.

Dan yang terakhir, yang hanya dimiliki oleh Samsung Galaxy S7 dan S7 Edge ialah Water & Dust Resistance. Kamu nggak perlu takut deh kalau tiba-tiba smartphone-nya kehujanan, jatuh ke kolam renang. Everything is gonna be ok, guys. Kamu mau bawa ke kamar mandi pun, nggak perlu khawatir gadget-nya jadi nggak bisa hidup lagi. Samsung Galaxy S7 dan S7 Edge akan tetap aman sekalipun terkena air selama 30 menit atau jatuh di kedalaman air mencapai 1.5 meter. Wuih, canggih kan?

Gimana nih, guys? Masih mikir-mikir buat ganti smartphone-nya? Udah deh, buruan beli Samsung Galaxy S7 atau S7 Edge. Pokoknya nggak bakalan rugi deh. Kamu bakalan tampil menjadi sosok yang kekinian kalau pake nih gadget. Semua yang kamu pingin ada di smartphone ini. Hmm...masalah harga? Pokoknya sesuai dengan ada apa yang kita dapatkan dari nih ponsel pintar. Dan, kamu harus tahu, kelebihan-kelebihan yang tadi dijelasin, nggak bakalan kamu temukan di smartphone yang lain. Samsung Galaxy S7 and S7 Edge tuh memang smartphone yang benar-benar smart. So, rethink and redefine what a phone can do,because the smartest smartphone will complete you life. 


For more information about Samsung Galaxy S7 and S7 Edge, please see at http://www.samsung.com/id/consumer/mobile-devices/smartphones/galaxy-s/galaxy-s7/  

Tuesday, March 15, 2016

Aku dan Buku

March 15, 2016 0 Comments

Buku adalah teman yang tidak pernah mengkhianatiku. Buku adalah sahabat yang selalu menemani tanpa banyak bertanya dan menuntut. Buku telah menjadi guru kehidupan bagiku, tanpa aku merasa digurui. Buku telah mengajakku menjelajah tanpa membuat lelah fisik. Mengenal sesuatu yang awalnya sama sekali tidak aku tahu. Memahami banyak hal yang tadinya sulit aku mengerti.
Berawal dari seringnya mendengarkan cerita dari bapakku. Hampir setiap hari, pastilah ada sebuah cerita sebagai pengantar tidurku. Rasanya ada yang hilang jika satu hari saja tidak meminta Bapak untuk bercerita. Hingga akhirnya, ketika aku melihat keempat kakakku begitu asyik membaca buku sendiri, aku pun meminta untuk mengikuti apa yang mereka lakukan. Aku lebih memilih untuk memegang buku atau majalah sendiri, meskipun saat itu aku belum mengenal huruf sama sekali.
Ya, ketika usiaku masih 4 tahun, aku sama sekali belum bisa membaca langsung dari buku atau majalah. Tapi, aku senang jika sudah memegang buku. Aku mencoba memahami cerita dari gambar yang membuat mataku enggan untuk beralih. Aku paling suka ketika melihat gambar-gambar di majalah anak yang sampai sekarang masih menjadi bacaan favorit anak Indonesia.

Di keluargaku, buku adalah barang wajib untuk dimiliki. Bapak begitu senang menghadiahkan buku kepada anak-anaknya. Padahal, saat itu, keadaan ekonomi keluarga kami bisa dibilang kekurangan. Tapi, Bapak berusaha sekuat tenaga untuk bisa memberikan buku bacaan untuk kami. Beliau bahkan sering membeli buku cerita atau majalah bekas untuk kami baca. Menurut beliau, buku itu tidak ada istilah  kadaluarsa. Ketika kita ingin membacanya berulang-ulang pun, tidak akan membuat kita rugi, malah sebaliknya.
Kebiasaan membaca buku itu terus melekat didiriku. Aku tidak pernah absen membawa buku di tas setiap kali bepergian. Bahkan menurut beberapa teman dan muridku, aku memiliki kebiasaan yang aneh sebelum menikah. Ketika ada waktu kosong di sela-sela jam ngajar, aku akan mengunjungi toko buku atau pameran buku.
Aku pun tidak akan berpikir lama ketika melihat buku yang bagus di toko buku atau pameran buku. Meskipun aku harus ‘berpuasa’ untuk membeli barang yang lain, atau berpuasa dalam arti yang sesungguhnya. Ketika uang sedang menipis dan perut pun menagih untuk diberi amunisi. Tapi, aku akan lebih memilih membeli buku. Menurutku, lapar perut masih bisa ditunda, tapi lapar otak tidak ada kata menunda.
Kebiasaan aneh lainnya ialah setiap kali aku membaca buku, pastilah hal pertama yang aku lakukan ialah membaca halaman profil penulisnya. Ya, itu sudah aku lakukan sejak kecil. Waktu itu, aku selalu bermimpi, suatu saat akan ada nama dan fotoku terpampang di berbagai buku yang dibaca banyak orang dan juga menginspirasi.
Dan, impian itu pun menjadi suntikan semangat. Aku benar-benar ingin menjadi seorang penulis. Bagiku, penulis itu ialah sosok yang luar biasa. Ia bisa menjadi sahabat bagi semua orang tanpa harus ia berada dekat dengan orang. Ia juga bisa terus hidup, meski fisik sudah tiada.
Impian itu pun mulai menyapaku. Berawal dari buku antologi hingga akhirnya aku bisa menerbitkan buku solo pertamaku. Ada banyak cerita dari buku solo pertamaku ini. Mulai dari diundang jadi pemateri seminar, talkshow di radio dan yang paling berkesan ialah aku dipertemukan jodoh lewat buku ini.

Awalnya aku tidak pernah menyangka kalau lewat tulisan, seseorang bisa yakin untuk menjadikanku bagian dari hidupnya. Tapi, itulah yang terjadi kepadaku. Ia, yang sekarang menjadi suamiku ialah seseorang yang sama sekali tidak aku kenal. Namun, ia begitu yakin datang ke rumah dan meminta izin kepada bapakku untuk mengenalku lebih jauh. Sebelumnya, ia hanya mengenalku dari tulisan yang aku torehkan di buku dan juga blog pribadiku.
Ketika ingat bagaimana cara kami dipersatukan, kadang kami masih tidak percaya. Tapi, kami sadar mungkin karena aku dan dia memiliki hobi yang sama. Aku dan suamiku sangat gila buku. Tempat nongkrong kami bukan di restoran, cafe atau mall, tapi toko buku dan pameran buku. Hadiah yang sering suamiku berikan pastilah buku yang sedang aku idam-idamkan untuk membacanya. Dan, sekarang aku dan suami sedang menularkan virus cinta buku kepada anak kami yang baru berusia 6 bulan.

Bagiku, buku lebih dari sekedar memberikan ilmu. Buku telah menjadi jalan bagiku menjemput setiap impian dan pencapaian indah selama ini. There are many magical things happen in my life because of loving book. Aku dan buku menyatu menorehkan kisah baru yang selalu seru.

Saturday, March 5, 2016

Rehat Sejenak

March 05, 2016 3 Comments


Ditengah info lomba menulis yang saling berkejaran dan impian menerbitkan buku, aku berhenti sejenak. Ya, entah kenapa beberapa bulan ini, aku kehilangan ‘sesuatu’. Aku terus menulis, tapi rasanya apa yang aku impikan sama sekali tidak aku dapatkan.
Begitu banyak target yang ingin aku dapatkan. Dari mulai memenangkan lomba seperti hal nyatahun lalu, atau menerbitkan buku lagi. Impian yang memang patut aku perjuangkan. Aku berkata seperti ini, tentunya aku telah berusaha. Hampir setiap hari aku usahakan untuk menulis setidaknya satu halaman untuk tetap menjaga habits menulisku.
Tapi, kadang apa yang aku inginkan tidak selamanya bisa aku dapatkan. Aku ikuti beberapa lomba, tapi tidak satupun yang mendapatkan kabar menggembirakan. Aku juga masih melanjutkan naskah yang terbengkalai, tapi rasanya aku tidak pede dengan tulisanku yang satu ini. Selain itu, beberapa naskah yang kukirim ke media dan penerbit, belum tahu kabar beritanya.
Ada apa denganku? Ya, hari ini aku benar-benar merenung. Apa yang terjadi dengan diriku. Kemana Intan yang dulu? Bahkan, awalnya aku berpikir, apa aku harus mengubur rapat-rapat impianku menjadi penulis?
Tapi, saat mata ini kuarahkan pada sosok malaikat kecil yang sedang tersenyum menatapku. Ah, semuanya berubah. Mungkin saat ini, aku boleh saja tidak menjadi pemenang lomba-lomba menulis. Sekarang, bisa jadi naskahku masih tidak tahu dimana rimbanya. Namun, aku telah menjadi pemenang karena dititipkan oleh Allah Swt seorang pahlawan kecil yang sholeh, cerdas, sehat, tampan dan hebat. Diantara banyak wanita, akulah yang dipilih-Nya untuk menerima hadiah terindah ini. Terima kasih Ya Rabb...
Bismillah...mulai saat ini, aku ingin belajar untuk menulis dengan hati. Aku tidak ingin menulis hanya karena hadiah, memiliki banyak karya, dipuji, disanjung, dan semua niatan yang pada ujungnya hanyalah untuk kesombongan belaka.
Bismillah...mulai saat ini, menulis ialah sebagai tanda syukur atas apa yang telah Allah Swt berikan kepadaku. Semuanya butuh proses. Dan, sekarang, aku sedang menjalani proses itu. Aku sedang melangkah selangkah demi selangkah untuk menjemput keridhoan-Nya dengan jalan menulis. Aku harus terus melangkah menebar kebaikan melalui kata yang kutorehkan. Aku bertekad menulis adalah jalanku untuk menabung kebaikan sebagai bekal di kehidupan yang kekal kelak.
Bismillah...Ya Allah izinkan dan bimbing diri ini agar senantiasa menulis dengan hati. Aamiin...


#Muhasabah
#LuruskanNiat
#MyDreamsComeTrue

#BelieveInAllah