Minggu, 24 September 2017

Kapan Nikah?


“Kapan nikah?”
“Kamu sih terlalu workaholic?”
“Mau nyari yang kaya gimana?”
“Ingat usia lho.... Kamu kan wanita.”
 Risih banget deh kalau udah dengar pertanyaan dan pernyataan di atas. Sejak lulus kuliah, pertanyaan dan sekaligus juga ungkapan itulah yang paling menyebalkan yang aku dengar. Kadang aku berpikir, apa orang-orang itu nggak punya stok pertanyaan lain, atau memang mereka nggak punya hati sampai nggak peka meraba perasaan orang yang ditanya.
Pokoknya bete banget kalau udah ngumpul acara keluarga, ketemu teman sekolah atau ngobrol sama ibu-ibu. Ya, secara kesibukanku berhubungan dengan banyak orang. Memiliki aktifitas mengajar di sebuah sekolah formal, memiliki tempat les, mengajar privat dan juga mengisi seminar, membuatku bertemu banyak orang setiap hari. Bisa bayangin kan, gimana rempongnya kalau ibu-ibu lagi nanya, pokoknya ilmu 5W1H sudah dikuasai banget deh hehe...
Perlu aku akui, saat berkumpul dengan keluarga besar, aku sangat terbebani dengan pertanyaan ‘Kapan nikah?’ setiap hari. Tak jarang, orang yang sama menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang. Memang mereka bertanya sambil bercanda sih. Tapi sebercanda-bercandanya, kalau untuk urusan yang satu ini, terkadang menjadi lebih sensitif untuk ditanyakan, apalagi bagi perempuan.
Ya, awalnya, aku merasa sangat stress ketika ada yang bertanya, ‘Kapan nikah?’. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku pun menjadi lebih kebal dengan pertanyaan tersebut. Malah aku memiliki cara untuk menjaga mood tetap happy meskipun dicecar dengan pertanyaan yang sama.
Ketika mereka bertanya, ‘Kapan nikah?’, aku akan menjawabnya dengan senyuman saja. Kalau kata anak sekarang, disenyumin aja. Meskipun, tak jarang beberapa orang yang kepo terus menggali agar aku bisa curhat masalah jodoh. Tapi, aku memang menjaga untuk tidak mengeluhkan masalah jodoh ini kepada siapapun selain kepada yang Maha Tahu segalanya. Melangitkan doa setiap saat adalah salah satu caraku untuk minta disegerakan.
Memang tidak mudah untuk keep smile ditengah pertanyaan ‘Kapan nikah?’ yang terus-menerus. Aku harus terus meyakinkan diriku kalau hari bahagia itu pasti akan segera menyapaku. Tapi, aku bersyukur memiliki aktifitas yang lumayan padat, bahkan weekend pun ada kegiatan full sampai malam. Dengan semua kegiatan tersebut, aku merasa lebih menikmati masa penantianku.
Tapi, kembali lagi, terkadang ada beberapa orang yang ‘sangat perhatian’ denganku. Melihat akumasih sendiri, ada saja cara mereka untuk mengenalkan dengan laki-laki pilihan mereka. Mulai dari keluarga dekat hingga teman bahkan tetangganya dikenalkan denganku. Ya, kalau aku pribadi sih melihat dari sisi positif, mungkin mereka ingin segera melihat aku memiliki pendamping.
Mereka sangat bersemangat menjadi mak comblang, meskipun terkadang aku tidak sadar sedang dicomblangi oleh mereka. Tapi, aku patut berterima kasih dengan segala usaha mereka untuk menjodohkanku dengan laki-laki pilihan mereka. Menurutku apa yang mereka lakukan lebih manusiawi daripada terus bertanya ‘Kapan nikah?’ tanpa memberikan solusi.

Dan, atas izin Allah, akhirnya aku dipertemukan dengan suamiku saat ini. Proses perkenalan yang terbilang singkat dan tanpa bersua apalagi jalan berdua. 10 Januari 2015, adalah hari dimana janji suci melangit untuk melangkah bersama, menua dalam cinta dan kasih sayang. Aku pun bersyukur bisa terlepas dari pertanyaan ‘Kapan nikah?’. Oya, aku juga harus lebih bersyukur lagi, karena aku bisa melewati pertanyaan ‘Kapan hamil?’, karena satu bulan setelah menikah, aku langsung diamanahi janin dalam rahimku. 

2 komentar: