Senin, 04 November 2019

Menyampai Rindu, Mengenang Waktu

05.22 1 Comments



Satu bulan sudah Mamah pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Tulisan ini bukan untuk mencipta sedih yang tak berkesudahan. Untaian kata ini bukan berarti karena aku tidak ikhlas dengan semua yang sudah ditakdirkan oleh Allah Swt. Deretan kalimat ini aku tulis sebagai pengingat diri ketika iman ini mulai menurun.

Aku sadar kepergiaan Mamah yang tiba-tiba, masih membuatku tak percaya. Terkadang aku pun berharap ini semua hanyalah mimpi. Namun, harus aku sadari bahwa semua ini adalah nyata dan sudah digariskan oleh Allah Yang Maha Kuasa.

Siapa yang tidak bahagia mendengar kabar akan kehadiran orang yang paling berjasa dalam hidup? Siapa yang tidak bahagia ketika orang yang pernah ditinggali rahimnya berniat tinggal bersama kita? Siapa yang tidak bahagia akan bertemu seseorang yang sudah hampir satu tahun tak besua?

Namun, siapa yang tidak bersedih ketika semua bahagia itu sirna?
Siapa yang tidak sedih ketika dalam hitungan menit, harapan untuk memeluk dan dipeluk Mamah hanya sekadar mimpi?
Siapa yang tidak bersedih ketika hadirnya Mamah di rumah dalam keadaan sudah tak bernyawa?
Siapa yang tidak bersedih dengan kepergiaan Mamah yang hanya berselang 1,5 bulan dengan Bapak?

Padahal sebelum berangkat dari Bandung, aku beberapa kali memastikan kondisi kesehatan Mamah. Dalam perjalanan pun aku dikabari kalau Mamah sehat dan terlihat menikmati perjalanan, bahkan aku sempat video call-an dengan Mamah dan terlihat senang. Beberapa menit sebelum Mamah akan turun dari kereta api, kondisi beliau masih baik-baik saja. Beberapa saat sebelum kereta api berhenti, aku pun masih mengirim pesan lewat whatsapp menanyakan kabar.

Allah Akbar… Skenario ini memang hak prerogative Allah. Padahal kami berniat membahagiakan Mamah, tapi Allah lebih berhak membuat Mamah jauh lebih bahagia di sana. Kami rindu Mamah, namun Allah jauh lebih rindu dengan Mamah.

Sampai saat ini, rindu itu masih teriris sempurna dalam hati dan pikir. Tangis ini masih saja memaksa untuk menyapa. Imajiku masih saja membayangkan Mamah berada di dekatku. Tapi, kembali lagi, semua ini bukan karena aku tak ikhlash. Tapi, karena ada rindu yang belum terobati, ada cinta yang tak bisa terganti.



Sebagai anak bungsu, tentu saja aku begitu dekat dengan Mamah. Tidak hanya itu, banyak orang mengatakan, kalau wajah dan sifatku sangat mirip dengan Mamah. Ah, sebenarnya kalau sifat, aku masih jauh dikatakan mirip dengan Mamah. Mamah itu orangnya tulus, tidak pernah banyak menuntut, selalu mengalah, tidak suka konflik, selalu menyembunyikan kesedihan, patuh kepada suami, tegar menghadapi ujian kehidupan, dan masih banyak sifat baik Mamah yang belum bisa aku tiru.

Ya, aku belajar tentang hidup dan kehidupan dari Mamah. Aku belajar bagaiman menjadi seorang istri yang baik. Aku belajar menjadi seorang ibu yang hebat. Aku belajar kesederhanaan. Aku belajar mencintai itu tidak sesederhana mengucapkan. Aku belajar tentang ketulusan dan keikhlasan tanpa jeda dari Mamah.

Aku bersyukur bisa terlahir dari rahimnya. Aku bahagia bisa menjadi bagian alur cerita hidup Mamah. Aku berterima kasih karena dibesarkan dengan ketulusan dan cinta darinya.

Saat ini, aku hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan Mamah dan Bapak di sana. Semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosanya, menerima amal ibadahnya, diterangkan kuburnya, dilapangkan kuburnya, diberikan nikmat kubur dan nikmat surga-Nya. Semoga kami bisa bertemu dan berkumpul kembali di surga-Nya. Aamiin…