Minggu, 20 September 2020

Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok

20.32 0 Comments

 


“Lebih baik tidak makan daripada tidak merokok.”

Pernahkah kita mendengar pernyataan di atas? Rasanya statement itu memang sangat familiar di telinga kita.

 

Pembenaran. Ya, rasanya itu hanya sebuah pembenaran dari para perokok. Mereka merasa kebutuhan rokok itu menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan bisa mengalahkan kebutuhan pokok.

 

Bahkan akhir-akhir ini, muncul statement yang menyatakan kalau rokok bisa menghindari virus corona. Nah, kalau ini jelas-jelas salah. Karena yang sebenarnya ialah perokok jauh lebih berbahaya ketika ia terkena virus corona. Penyakit yang diakibatkan dari rokok bisa menambah parah virus corona tersebut.

 

Kembali lagi, banyak sekali pembenaran dan seribu alasan dari para perokok. Memang tidak mudah bagi perokok untuk sadar kalau apa yang dilakukannya itu sangat berbahaya, tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.

 

Sebagai orang Indonesia, kita patut bersedih sekaligus berpikir dengan kondisi di negara kita. Berdasarkan laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) yang dirilis pada 2019, yang berjudul The Tobacco Control Atlas Asean Region, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di ASEAN, yakni 65,19 juta orang.

 

Setali tiga uang, menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam kurun waktu setahun terakhir, pengeluaran non-konsumsi per kapita dalam sebulan sebesar lebih dari 50 persen. Dari data tersebut, jumlah uang yang dikeluarkan untuk rokok nilainya cukup besar. Dalam sebulan angkanya mencapai lebih dari 6 persen secara rata-rata nasional. Pengeluaran uang untuk membeli rokok lebih besar dibanding uang yang dipakai untuk membeli beras yakni sekitar 15 persen sebulan.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat bahwa pengeluaran rokok, khususnya rokok kretek filter, menjadi komoditas penyumbang terbesar kedua pada kemiskinan setelah makanan. Dalam catatan BPS angka kontribusi rokok sebesar 11-an persen di perkotaan dan 10-an persen di pedesaan. Tidak hanya itu, masa pandemi ini, Komnas Pengendalian Tembakau merinci terjadi peningkatan jumlah perokok sekitar 13 persen.

 

Tapi, coba perhatikan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Juni dari 87.379 responden, sebanyak 70,53% kelompok pekerja di sector informal yang mengalami penurunan pendapatan terbesar. Pekerja sektor informal ini memiliki pendapatan 1,8 juta.

 

Bisa kita bayangkan sebelum pandemi, mereka mendapatkan gaji sebesar 1,8 juta perbulan. Dengan jumlah tersebut, tentu saja bisa dikatakan tidak besar atau bahkan masih dikatakan kekurangan. Lalu, setelah pandemi pendapatan mereka mengalami penurunan. Namun, kebiasaan merokok masih belum bisa ditinggalkan.

 

Kita coba hitung secara kasar, harga rokok saat ini sekitar Rp. 11.500,00 – Rp. 30.000,00. Kalau seorang kepala rumah tangga yang merokok menghabiskan 1 bungkus rokok per hari, berapa ia harus mengeluarkan uang selama sebulan?

 

Lalu, bandingkan dengan harga beras premium saat ini sekitar Rp. 10.000,00 dan harga telur sekilo sekitar Rp. 20.000,00. Apakah pengeluaran untuk beras jauh lebih tinggi atau sebaliknya? Apakah harga untuk kebutuhan protein masih lebih mahal daripada asap mematikan yang dihisap?

 

Terkadang memang sulit untuk memahami pola pikir ahli hisap ini. Sudah jelas-jelas banyak efek negative, namun masih saja dilakukan. Sebenarnya apa yang didapat dengan merokok? Ketenangan sesaat? Bisa diterima oleh komunitas sesama perokok?

 

Kalau dipikir dengan pikiran yang jernih, memang sangat sulit untuk mencari manfaat merokok. Tapi, memang lingkungan sangat berpengaruh untuk membentu kebiasaan merokok ini. Biasanya karena melihat orang tuanya yang merokok, atau berteman dengan para perokok.

 

Ketika seseorang sudah terbiasa merokok, sangat tidak mudah untuk menghentikannya. Kandungan nikotin yang terdapat pada rokok membuat perokok kecanduan dan sulit menghentikan kebiasaan merokoknya.

 

Bahkan menurut Nurul Nadia Luntungan, peniliti CISDI (Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives) pada Ruang Publik KBR dalam talkshow bertema “Pandemi: Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok", adiksi nikotin pada rokok itu terbesar di dunia, mengalahkan adiksi dari narkotika.

 

Masih menurut Nurul, perokok yang ingin berhenti setidaknya membutuhkan waktu 6 bulan. Namun, hal ini pun harus diikuti oleh keinginan yang kuat dan lingkungan yang mendukung. Para perokok yang ingin menghentikan kebiasaannya harus benar-benar menjauh dari komunitas perokok. Karena biasanya pengaruh teman dan lingkungan jauh lebih kuat.

 

Dikatakan oleh Nurul, perokok yang ingin berhenti tapi masih berkumpul dengan orang-orang yang suka merokok kalau dianalogikan seperti orang yang ingin diet di saat hari raya. Tentu saja akan banyak godaan untuk bisa menghindarinya.

 

Lingkungan itu memang sangat berpengaruh. Maka patut diacungi jempol ketika ada daerah yang berani untuk menjadikan kampung bebas asap rokok dan covid-19, seperti di daerah Cililitan, Jakarta Timur.

 

Seperti yang dijelaskan oleh M. Nur Kasim, Ketua RT 01/RW 03 Kampung Bebas Asap Rokok dan Covid-19 Ciliitan pada talkshow yang sama di Ruang Publik KBR, daerahnya mulai menerapkan aturan bagi para perokok sejak 18 Juli 2020. Terdapat beberapa aturan, salah satunya ialah larangan  merokok di dalam rumah.

 

Dengan adanya aturan seperti ini, sangat bisa memberikan efek positif. Karena para perokok menjadi terbatas ruang geraknya. Setidaknya dengan adanya larangan merokok di dalam rumah, artinya mereka harus mencari tempat lain, dan tentu saja itu bisa mengurangi jumlah rokok yang dikonsumsi. Bahkan ketika dalam satu lingkungan sudah sangat jarang yang merokok, maka mau tidak mau kebiasaan merokok akan berkurang.

 

Budaya. Sebenarnya masalah budaya ini yang harus kita perhatikan juga. Di beberapa daerah, pada setiap acara kenduri, pribumi (yang punya hajat) harus menyediakan rokok dan membagikan kepada para tamu. Kebiasaan seperti ini sudah berlangsung sejak lama. Jadi, secara tidak langsung, para generasi muda akan berpikir, merokok itu sesuatu yang biasa dan bukan menajdi sebuah hal jelek.

 

Selain masalah budaya, harga rokok di Indonesia pun masih sangat murah. Meskipun per awal tahun 2020 ini ada kenaikan harga, namun tetap saja masih bisa terjangkau. Di Australia harga rokok perbungkus sekitar Rp 271.000,00. Di Selandia Baru rokok dihargai sebesar Rp. 240.000,00. Sedangkan di Inggris, harga rokok sekitar Rp. 183.000,00. Sekarang bandingkan dengan di Indonesia?

 

Harga sebungkus rokok masih lebih murah dari harga makanan siap saji. Bahkan anak-anak di bawah umur pun bisa membelinya dari uang jajan yang dia dapat dari orang tuanya.

 

Tidak hanya itu, penjualan rokok pun masih bisa didapatkan dengan mudah. Di Indonesia, kita bisa mendapatkan rokok hampir di setiap kita melangkah. Warung kecil, fasilitas umum, bahkan di area perkantoran atau sekolah, rokok bisa ditemui.

 

Sudah seharusnya semua pihak mulai peduli dengan masalah rokok ini. Kita tentu tidak ingin generasi muda hancur karena rokok ini. Saatnya kita menyadarkan para ahli hisap untuk menghentikan kebiasaan merokoknya. Tentu saja harus ada peraturan yang tegas dari para pemegang kebijakan, dan menaikkan cukai rokok saja tidak cukup untuk membuat perokok jera dan meninggalkan kebiasaan jeleknya tersebut.

 

 

“Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagai dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesia Social Blogpreneur (ISB). Syaratnya bisa Anda lihat di sini.

Selasa, 11 Agustus 2020

Pertanian Di Tangan Generasi Y, Z dan Alpha

21.37 26 Comments

Dok. pribadi
 


Menurut data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dirilis BPS 2018, jumlah petani hanya tinggal 4 juta orang dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak 264 juta orang. Jumlah yang sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah penduduk keseluruhan.

Tapi, memang kita pun dapat melihat fenomena yang terjadi saat ini. Para generasi milenial lebih memilih profesi lain daripada harus melanjutkan menggarap sawah orang tuanya. Menjadi petani tidak ada dalam list pekerjaan impian mereka.

Padahal kondisi seperti ini akan berpengaruh kepada produksi pangan. Mau tidak mau, jumlah penduduk yang banyak tentu akan mengakibatkan permintaan atau kebutuhan pangan meningkat. Tapi, hal tersebut tidak sebanding dengan produksi. Jadi, akibatnya akan berpengaruh kepada harga dari komoditas pangan tersebut.

Tidak hanya dari sisi sumber daya manusianya saja, tapi luas lahan pun berpengaruh. Tahun 2019, Indonesia memiliki luas Lahan Baku Sawah (LBS) 7.463.948 hektare. Pulau Jawa mendominasi jumlah luas ini. Provinsi Jawa Timur menduduki urutan pertama yang memiliki luas Lahan Baku Sawah (LBS) tertinggi, yaitu 1,2 juta hectare.

Data tersebut berdasarkan pendataan yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Badan Informasi Geospasial (BIG) serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN).

Luas tersebut jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, mengalami kenaikan. Namun, jika dibandingkan dengan luas Lahan Baku Sawah (LBS) pada 2013, maka mengalami penyusutan sekitar 287.000 hektare.

Salah satu penyebab menyusutnya luas Lahan Baku Sawah (LBS) dikarenakan alih fungsi lahan. Lahan pertanian sudah banyak yang berubah menjadi properti, infrastruktur, atau juga pabrik yang cukup masif. Intinya terjadi ketidakselarasan antara pembangunan dengan pelestarian lahan pertanian. Di satu sisi, ingin meningkatkan pembangunan infrastruktur, tapi di sisi lain melupakan keberadaan lahan pertanian yang juga memberikan kontribusi pada perekonomian negera.

Padahal kita patut bersyukur karena di saat pandemi ini, pertanian masih menjadi salah satu sektor yang mendominasi struktur PDB menurut lapangan usaha. Struktur sektor pertanian ada di urutan ketiga sebesar 12,84%  setelah sector industri pengolahan (19,98%) serta perdagangan besar dan eceran (13,30%).

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor pertanian tetap menunjukkan kinerja yang baik pada April 2020 dengan nilai US$ 28 miliar. Itu artinya, terjadi kenaikan sebesar 12,66 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019.

Dengan kondisi seperti ini, setidaknya kita masih memiliki harapan agar sektor pertanian ini bisa tetap memberikan andil dalam perekonomian Negara. Bagaimanapun juga, Indonesia sebagai Negara agraris, tidak bisa dan bahkan jangan sampai kehilangan sektor pertanian ini.

Berkaca dari masa pandemi ini, lapangan pekerjaan yang tetap ada dan tidak terganggu adalah sektor pertanian. Tidak ada petani yang tidak turun ke sawah karena wabah covid-19 ini. Apalagi di bulan Maret dan April tahun ini, Indonesia mengalami panen raya.

Selain sebagai penyedia lapangan kerja, ada beberapa alasan mempertahankan dan meningkatkan kualitas sektor pertanian, diantaranya: meningkatkan devisa negara, perolehan nilai tambah dan daya saing, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, sebagai bahan baku industry dalam negeri dan optimalisasi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Tapi, pertanyaannya, apa bisa sektor pertanian bertahan di masa depan? Bukankah generasi saat ini saja sudah berkurang atau bahkan tidak memiliki ketertarikan untuk turun ke sawah?

 

Karakteristik Generasi Y, Z dan Alpha

Generasi Y atau disebut juga Generasi Milenial ialah generasi yang lahir pada tahun 1981-1994. Generasi ini lahir di era perkembangan teknologi yang pesat. Generasi ini sudah mengenal handphone sebagai alat komunikasi.

Dikutip dari Forbes, generasi ini memiliki passion yang besar dan sangat kreatif menjadikan passion mereka sebagai sumber penghasilan. Karena generasi ini lahir di era perkembangan teknologi, maka mereka bisa mendapatkan informasi yang jauh lebih cepat. Mereka tumbuh menjadi generasi yang lebih inovatif dan memunculkan ide visioner terkait perkembangan teknologi dan sains.

Generasi Z ialah generasi yang lahir pada tahun 1995-2010. Mereka lahir pada saat transisi perkembangan teknologi. Mereka sudah mengenal inovasi teknologi seperti smartphone dan social media.

Saat ini mereka memasuki usia dewasa muda. Generasi ini jauh lebih terbuka terhadap perubahan dan juga inovatif dalam mengembangan hal baru. Generasi inipun tumbuh lebih individualis.

Generasi Alpha ialah generasi yang lahir pada tahun 2010 ke bawah. Ini adalah generasi termuda. Mereka sudah mengenal teknologi dari sejak lahir. Mereka pun sudah sangat familiar dengan smartphone dan interner. Generasi ini sangat terpengaruh dengan teknologi.

 

Inovasi Sektor Pertanian

Saat ini dan beberapa tahun ke depan, pembangunan dan roda perekonomian Indonesia berada di tangan ketiga generasi ini. Sebenarnya Pemerintah sudah menyadari kondisi ini. Jangankan Generasi Z dan Generasi Alpha, Generasi Milenial pun sudah banyak yang tidak tertarik dengan sektor pertanian.

Tentu saja, keadaan seperti ini tidak bisa dielakkan. Kita tidak bisa memaksa para generasi digital untuk turun ke sawah. Tapi, kita bisa mencari cara cerdas agar mereka mau mengenal dan bersentuhan dengan sektor pertanian.

Sebagai generasi yang lahir dan dibesarkan di dunia digital, mereka pastinya akan sangat familiar dengan yang berbau teknologi. Oleh karena itu modernisasi dan digitalisasi pertanian merupakan jawabannya.

Tak bisa dipungkiri, untuk tetap bertahan di era revolusi industri 4.0, pemanfaatan teknologi dan digitalisasi menjadi hal yang sangat penting. Pergeseran tenaga manusia menjadi tenaga mesin serta terintegrasi internet sudah menjadi sebuah keharusan saat ini.

Karena itu, tidak salah untuk saat ini dan di masa depan, kita sudah harus menerapkan konsep pertanian presisi (precision agriculture). Pertanian presisi ialah bertani dengan input dan teknik yang tepat sehingga tidak terjadi pemoborosan sumber daya.

Pertanian presisi merupakan konsep manajemen pertanian berdasarkan pengamatan, pengukuran dan repons terhadap variabilitas dalam dan antar bidang pada tanaman. Dengan cara ini, produktivitas dan kualitas produk bisa lebih optimal.

Tidak hanya itu, dalam pertanian presisi, pemanfaatan teknologi dapat meminimalisir dampak negative lingkungan dan juga risiko pertanian. Artinya, pertanian presisi jauh lebih bisa diaplikasikan di era sekarang dan masa depan.

Kita pun patut bersyukur, karena inovasi pertanian presisi ini sudah mulai dilakukan oleh para pelaku start up dan beberapa perusahaan. Tentu saja, perusahaan  yang mengembangkan pertanian dengan memanfaatkan teknologi big data analytic yang berbasiskan analisis cuaca, informasi sensor tanah, serta pencitraan satelit dan drone yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian.

Tidak hanya berinovasi pada proses produksinya saja, sektor pertanian saat ini dan di masa depan juga harus memiliki manajemen yang baik dalam hal distribusi atau pemasaran. Kembali lagi, pemanfaatan teknologi harus menjadi poin penting. Bahkan dengan digitalisasi, akan jauh lebih cepat, tepat dan efisien.

Selasa, 28 Juli 2020

Tips Tetap Sehat dan Bahagia di Masa Adapatasi Kebiasaan Baru

22.02 26 Comments

Modena, Live Healthy and Happy


The New Normal. Mau tidak mau kita harus menjalani kebiasaan hidup baru. Banyak hal berubah setelah kehadiran Corona Virus. Kebiasaan baru sudah menjadi gaya hidup kita sekarang, mulai dari menggunakan masker, memakai hand sanitizer dan juga menjaga jarak.

Kita dituntut untuk semakin peka akan kesahatan, setidaknya dengan peduli terhadap kesehatan diri sendiri, secara tidak langsung kita pun telah melindungi kesehatan orang lain. Sebagai seorang ibu, tentu saja kita pun harus lebih cerdas dan bijak dalam menjaga kesehatan keluarga. Ibu adalah garda terdepan agar keluarga tetap sehat di masa adapatasi new normal.

Banyak cara yang bisa dilakukan agar kita bisa tetap sehat dan bahagia di masa adaptasi new normal ini. Kenapa harus sehat dan bahagia? Ya, dua hal tersebut tidak bisa dipisahkan loh, saling berhubungan. Ketika kita merasa bahagia, maka itu akan berdampak pada kesehatan tubuh kita. Bukan karena kita sehat, maka kita bahagia. Tapi, karena kita merasa bahagia maka tubuh akan memiliki imunitas yang tinggi.

Nah, kali ini saya ingin berbagi tips agar tetap sehat dan bahagia di masa adaptasi new normal ini. Sssttt, ini sudah saya lakukan bersama pasangan dan anak-anak loh di rumah.  Saya menyebutnya MESH Tips

Apa itu MESH Tips? Yap, dalam bahasa Inggris, MESH berarti lubang, menghubungkan, saling menangkap, bertautan. Nah, tapi MESH yang dimaksud di sini ialah akronim dari 4 aktivitas sederhana yang hasilnya luar biasa. Ini dia MESH yang akan membuat hidup kita lebih sehat dan bahagia: 

  • Move

Menurut studi yang terbit di American Journal of Epidemiology ditemukan bahwa bergerak selama 30 menit (selain duduk) tetap dapat membantu kita memiliki umur panjang.

Sebagai seorang istri dan ibu, tentu saja aktivitas kita hampir tanpa jeda. Tapi, investasikan waktu sedikit saja untuk berolahraga. Tidak perlu mencari olahraga yang harus mengeluarkan uang. Ya, cukup dengan berjalan kaki atau senam aerobic. Tak harus lama, karena yang terpenting rutin saja dilakukan.

Menurut Physical Activity Guidelines Amerika Serikat, orang dewasa sebaiknya melakukan 150 menit latihan aerobic per minggu dengan intensitas sedang atau 75 menit latihan aerobic per minggu dengan intensitas tinggi yang diimbangi dengan olagraga lainnya.

Berjalan sekitar 7.000 sampai 8.000 langkah per hari juga sama manfaat dengan melakukan aerobic. Bahkan, ada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa wanita yang melakukan jalan 10.000 langkah per hari mampu menurunkan tekanan darah setelah 24 minggu dan meningkatkan kadar glukosa dalam tubuh.

Berolahraga tidak hanya bermanfaat bagi fisik kita, tapi juga secara psikologis akan memberikan efek yang luar biasa. Kita akan jauh lebih bahagia. Dengan berolahraga, maka akan memicu pelepasan endorphin, yang merupakan zat kimia otak yang membuat kita merasa lebih bahagia dan rileks.

Di masa adaptasi kebiasaan baru, bahagia itu wajib. Karena pemicu datangnya penyakit itu, adalah perasaan tertekan. So, mulai saat ini, NO MAGER!

  • Eat Well

You are what you eat. Setuju nggak dengan pernyataan tersebut? Kalau saya sih, yes.

Urusan makan ini sebenarnya sederhana, tapi terkadang kita sendiri yang membuatnya sulit. Saya yakin semua orang tahu dan paham makanan sehat itu seperti apa. Namun, seringkali kita lebih memenuhi keinginan daripada kebutuhan tubuh kita.

Makanan sehat itu seharusnya mengandung beragam nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Tubuh kita membutuhkan asupan nutrisi yang seimbang. Kita memerlukan karbohidrat, protein, lemak dan vitamin. Tentu saja dengan takaran yang seimbang sesuai dengan usia dan juga aktivitas kita sehari-hari.

Tidak hanya makanan, kita pun membutuhkan cairan. Kebutuhan cairan tiap orang berbeda-beda. Pada orang dewasa, disarankan mengkonsumsi air putih sebanyak 8 gelas berukuran 230 ml atau setara dengan 2 liter per hari.

Ketika tubuh kita tidak mendapat asupan cairan yang cukup, maka akan mengakibatkan dehidrasi, baik dehidrasi ringan ataupun berat. Dehidrasi sedang bisa sembuh tanpa bantuan medis dengan cara minum lebih banyak.

Dehidrasi sedang ditandai dengan adanya rasa haus, mulut terasa kering dan lengket, warna urine lebih gelap dan pekat, mudah mengantuk, cepat meras lelah, frekuensi buang air kecil menurun, sembelit dan sakit kepala.

Sedangkan dehidrasi berat ditandai dengan sesak napas, mata tampak cekung, mudah marah dan kebingungan, denyut jantung cepat tapi lemah, demam, penurunan kesadaran atau pingsan, kulit tidak elastis dan tekanan darah rendah.

  • Sleep Enough

Jangan pernah anggap enteng masalah tidur. Tidur bukan sekadar memejamkan mata. Tidur yang berkualitas akan memberikan efek yang baik pada kesehatan tubuh kita, baik secara fisik maupun psikis.

National Sleep Foundation merekomendasikan waktu tidur sesuai dengan kelompok usia, yaitu:
  • Bayi baru lahir (0-3 bulan): 14 – 17 jam setiap hari
  • Bayi (4-11 bulan): 12 – 15 jam setiap hari
  • Balita (1-2 tahun): 11 – 14 jam setiap hari
  • Pra sekolah (3-5 tahun): 10 – 13 jam setiap hari
  • Usia sekola (6-13 tahun): 9 – 11 jam setiap hari
  • Dewasa muda (18-25 tahun): 7 – 9 jam setiap hari
  • Dewasa (26-64 tahun): 7 – 9 jam setiap hari
  • Lansia (64 tahun ke atas): 7 – 8 jam setiap hari


Lamanya waktu tidur akan memengaruhi fisik dan pisikis. Tidak kekuragan dan juga tidak kelebihan jam tidur akan membuat kita jauh lebih sehat dan bahagia.

  • Hug

Menurut penelitian di University of Kansas AS, pelukan semalam 10-20 detik dapat memperlancar sirkulasi darah dan oksigen.

Sementara menurut penelitian University of North Carolina, Amerika Serikat, memeluk pasangan akan meningkatkan hormone oksitosin yang membuat pikiran lebih tenang dan mengurangi cemas dan mengurangi hormone stress kortisol.

Selain itu, pelukan juga dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh. Tekanan lembut pada tulang dada dan muatan emosional yang diciptakan mengaktifkan solar plexus chakra. Solar Plexus Chakra merupakan kelenjar timus yang mengatur dan menyeimbangkan produksi sel darah putih, yang membuat kita tambah sehat dan bebas penyakit.

Itulah MESH tips yang bisa kita lakukan di masa adpatasi new normal. Sederhana kok, tapi efeknya sangat luar biasa. Karena saat ini, kita butuh imun lebih agar tetap sehat dan bahagia.


Water Dispenser Bio Pad



Oya, ngomong-ngomong agar tetap sehat di masa adaptasi kebiasaan baru, PT Modena Indonesia meluncurkan produk yang bisa mendukung gaya hidup sehat kita. Tadi di atas dibahas kan, kalau salah satu cara untuk tetap sehat itu, harus mengkonsumsi air yang cukup.

Nah, PT Modena Indonesia pada bulan Juli lalu mengeluarkan Modena Dispenser Bio Pad. Water Dispenser dengan seri Salutare DD 7181 ini menggunakan teknologi bio pad. Bio pad ialah semacam kristal yang ditaruh di dalam mesin water dispenser, yang dapat mengubah air biasa menjadi air heksagonal.

Mengkonsumsi air heksagonal dipercaya sebagai solusi untuk menjaga kesehatan sekaligus menciptakan keseimbangan dalam tubuh. Sebenarnya secara alami, air heksagonal ini terdapat di alam. Tapi, saat ini, karena pencemaran semakin banyak, maka air heksagonal semakin sulit ditemui.

Menurut Joko Santoso, Branch Manager PT. Modena Indonesia cabang Yogyakarta, teknologi bio pad akan menghasilkan gelombang kuantum yang membentuk struktur molekul air menjadi formasi segi enam, atau biasa disebut heksagonal. Ruang kosong di tengah formasi heksagonal inilah tempat dimana oksigen diikat. Karena itulah, air heksagonal mengandung lebih banyak oksigen.

Dengan kandungan oksigen yang lebih banyak, maka air heksagonal diklaim memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, diantaranya detoksifikasi tubuh, memkasimalkan penyerapan nutrisi dalam darah, sehingga menghasilkan lebih banyak energy. Selain itu, air heksagonal juga mengandung lebih banyak ion kalsium yang mampu meningkatkan imunitas tubuh dan menjaga kebugaran.

Water Dispenser Bio Pad ini memang sangat mendukung gaya hidup sehat. Apalagi di masa adapatasi kebiasaan baru, kita benar-benar harus peduli akan kesehatan diri sendiri dan juga keluarga kita.




Dengan kelebihan yang dimiliki Water Dispenser Bio Pad Salutare DD 7181 L ini, maka tidak heran kalau respon masyarakat luas dangat luar biasa. Water Dispenser Bio Pad bisa kita dapatkan dengan harga Rp, 5.000.000. Sangat sepadan dengan manfaat yang akan kita dapatkan.

Hadirnya Water Dispenser Bio Pad Salutare DD 7181 L ini menjadi bukti komitmen Modena untuk terus berinovasi menghadirkan produk-produk berkualitas yang menunjang gaya hidup sehat. So, untuk teman-teman yang peduli akan kesehatan, kini saatnya memiliki Water Dispenser Bio Pad ini. Tidak ada kata nanti untuk hidup lebih sehat dan bahagia.


Sumber:

Kamis, 09 Juli 2020

#DareToBeYou, Seperti ASUS VivoBook S14 (S433) Berani Tampil Beda

22.15 34 Comments

Laptop Kawula Muda



Dare to be you. Mudah mengucapkan tapi tak semudah melakukannya. Terkadang muncul keinginan untuk meniru orang lain seratus persen. Seringkali rasa tidak percaya akan kelebihan yang ada pada diri sendiri yang membuat kita lebih memilih meniru orang lain.


“Trust yourself. You know more than you do.” 
(Benjamin Spock)

Memang tak ada yang salah dengan meniru orang yang lebih baik dan juga lebih sukses daripada kita. Tapi, alangkah jauh lebih baik ketika kita tidak hanya meniru, tapi mampu memodifikasi dengan tambahan sentuhan value kita sendiri. Menciptakan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan, akan lebih cepat menarik perhatian orang. Dan, percayalah setiap individu itu pasti memiliki kelebihan, asal kita mau melakukan sesuatu yang berbeda dari orang lain.

Seperti halnya, ASUS VivoBook S14 S433, yang berani tampil beda dan menjadi diri sendiri. Saya pun pernah dan sedang terus belajar untuk menjadi diri sendiri. Meski saya akui, itu tidak mudah. Butuh keyakinan dan perjuangan yang luar biasa untuk tetap menjadi diri sendiri.

Tahun 2003 ialah langkah awal dari perubahan yang terjadi pada diri saya. Saat itu, saya masih duduk di bangku SMA. Saya memulai langkah menjadi pendidik di tahun tersebut. Ya, saya mulai mengajar les Bahasa Inggris sejak saya masih memakai seragam putih abu.


“Possible thing is usual, usual thing is forced or love.”

Ketika itu, lebih tepatnya saya dipaksa untuk belajar mengajar. Meskipun jujur, masih ada sedikit keraguan akan kemampuan yang saya miliki. Tapi, terkadang kita harus dipaksa untuk bisa keluar dari zona nyaman dan menjadi 'something'.

Sebenarnya, saat itu, saya tidak memiliki keinginan untuk menjadi guru. Alasannya karena saya merasa seorang introvert yang sakit-sakitan ini tidak akan bisa berbicara di depan banyak orang serta menyampaikan sesuatu di depan orang lain. Tapi, sekali lagi, awalnya saya dipaksa dengan alasan yang baru saya pahami setelah saya menjadi seorang ibu.

Ya, almarhum Bapak pernah mengatakan kalau saya boleh jadi apapun, tapi setidaknya saya pernah merasakan untuk mengajar. Kelak ilmu mendidik ini akan sangat bermanfaat untuk membersamai anak-anak. Dan, saya bersyukur karen telah dipaksa untuk belajar mengajar, hingga saya mencintai dunia pendidikan.


“A diamond can’t change into bronze or silver. A diamond can change into a valuable jewellery.”

Itulah moto hidup saya. Dan, saya selalu mengatakan kata-kata itu pada diri saya sebagai pengingat untuk tetap menjadi yang terbaik dalam hal apapun. Meskipun itu tidak mudah.

Di profesi yang saya tekuni pun, saya selalu menanamkan kata-kata tersebut.Saya harus menjadi yang terbaik. Karena itulah, saya juga harus terus meng-upgrade diri untuk menjadi yang terbaik.

Tanpa saya sadari, setelah lulus SMA, ternyata saya mulai menikmati menjadi pendidik. Tidak hanya mengajar les Bahasa Inggris, saya pun menerima tawaran mengajar private baca tulis, mata pelajaran, private baca Al Quran dan juga diberi amanah menjadi Kepala TPQ/MDA di sebuah perumahan di kota Bandung, serta menjadi guru honorer di SD. Dan, semua itu saya lakukan sambil menimba ilmu di bangku kuliah.

Setelah lulus kuliah, saya diminta menjadi  guru honorer di sebuah SMA Negeri di Kota Bandung. Selain itu, saya pun memberanikan diri membuka tempat les sendiri. Dari mulai memiliki murid dua orang sampai puluhan orang. Tidak hanya itu, permintaan private pun semakin banyak, sampai-sampai saya harus mulai mengajar dari pukul 5 shubuh hingga pukul 9 malam, dari Senin sampai Minggu. Murid yang saya ajar, mulai usia 2 tahun hingga 50 tahun lebih. Untuk di tempat les, akhirnya saya memutuskan untuk dibantu 3 orang pengajar dan 1 asisten untuk mengurusi administrasi.

Selain mengajar Bahasa Inggris, saya pun menerima tawaran untuk mengajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) kepada orang-orang Belanda yang datang ke Bandung. Mereka kebanyakan mahasiswa kedokteran yang akan praktek di beberapa Rumah Sakit di kota Bandung dan sekitarnya. Saya ditantang untuk bisa mengajarkan mereka lancar berbicara Bahasa Indonesia hanya dalam waktu 20 jam.

Sebenarnya tidak pernah terbayangkan saya bisa melakukan itu semua. Saya sadar saya bukan guru yang hebat. Bahkan saya masih terus belajar. Lalu, apa yang membuat saya bisa mendapat murid sebanyak itu? Bahkan banyak yang saya tolak karena jadwal sudah penuh.

Berani Beda. Ya, itu kuncinya. Awalnya, saya hanya mengamati dan meniru gaya mengajar Almarhum Bapak dan keempat kakak saya, lalu saya mencoba untuk memodifikasi gaya mengajar sesuai dengan karakter dan juga pengalaman saya belajar Bahasa Inggris sejak SD hingga kuliah. Apa yang saya tidak temukan dari guru-guru saya dan biasanya dicari oleh murid-murid. 

Saya pun mulai menerapkan cara mengajar ala Intan Daswan. Gaya mengajar pun saya sesuaikan dengan karakter saya dan kebutuhan 'pasar'.  Apapun yang saya ajarkan, mau itu Bahasa Inggris, membaca, mengaji atau BIPA (Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing), tetap saya tunjukkan gaya mengajar saya. Saya seorang visual kinestetik, jadi cara mengajar saya pun lebih condong ke arah sana, meskipun saya terus belajar memfasilitasi murid-murid dengan gaya belajar audio.

Saya ingin murid-murid yang saja ajar merasa puas. Metode pengajaran saya buat semenarik mungkin, dengan melihat gaya belajarnya, apakah visual, audio, atau kinestetik. Bahkan saya tidak merasa terbebani ketika harus menenteng notebook, sound system kecil, earphone dan berbagai macam alat peraga ke tempat private. Tujuannya satu, agar murid-murid saya bisa merasa puas dan targetnya tercapai.

Saya bersyukur karena saat itu, saya memaksakan diri untuk membeli notebook ASUS EeePC Series dari hasil mengajar. Setelah tanya sana-sini, ternyata dengan budget yang saya punya, banyak penjual di pusat penjualan elektronik terkenal di kota Bandung, merekomendasikan notebook ASUS. Ternyata memang cocok banget dibawa kemana-mana dan nggak rewel juga, sampai saat ini masih hidup loh, ya saksi hidup perjuangan saya hehehe...

Selain menjaga kualitas cara mengajar, tempat les pun saya buat senyaman mungkin. Bahkan tidak jarang mereka datang meskipun tidak ada jadwalnya. Atau, mereka datang lebih awal hanya untuk numpang makan atau mengerjakan tugas dari sekolah. Di kelas anak-anak, saya simpan banyak permainan, gambar-gambar dan musik anak-anak. Di kelas remaja, saya putarkan lagu-lagu dan film yang sedang trend sebagai salah satu sarana pembelajaran. 

#DareToBeYou. Saya akui, saat itu, di daerah saya banyak tempat les yang sudah punya nama. Tidak hanya itu, bahkan di sekolah tempat saya mengajar pun, banyak guru yang lebih senior keilmuannya daripada saya. Namun, saya selalu berpikir apa yang bisa saya lakukan dan orang belum lakukan itu. Dan, itulah yang bisa menjadi ‘nilai jual’ saya. Sejak awal mengajar, saya tidak pernah memposisikan sebagai guru yang lebih pintar. Saya selalu memposisikan sebagai teman diskusi. Apalagi saya tidak hanya mengajar yang usianya lebih muda, ada banyak yang sudah senior, bahkan dengan background pendidikan yang luar biasa. 

Di sela kesibukan saya mengajar, saya pun mulai melatih kembali kemampuan menulis. Saya mengikuti lomba menulis dan juga mencoba mengirim tulisan ke penerbit atau media. Bagi saya, menulis bisa menjadi refreshing di tengah kesibukan mengajar. Tapi, tetap saya punya target menang dan tembus penerbit.


“Usaha dan doa tidak akan mengkhianati hasil.”

Kelelahan saya menulis hingga malam menjelang, terbayar dengan memenangkan beberapa lomba menulis dan menerbitkan beberapa buku antologi serta buku solo. Dan, dari hobi menulis ini, saya kembali memiliki laptop ASUS karena menjadi juara 1 lomba menulis yang diadakan salah satu penerbit mayor (memang sudah jadi soulmate nih sama ASUS hehehe…).



Menjadi diri sendiri memang tidak mudah. Berani tampil beda memang butuh keberanian. Berani untuk diperhatikan, berani untuk dikomentari dan bahkan berani untuk menjadi seseorang yang ‘aneh’ bagi kebanyakan orang. Dan, saya pernah merasakan itu, bahkan mungkin sampai sekarang.

Ya, setelah memiliki anak, saya memang memilih jeda dari profesi mengajar. Saya memilih fokus untuk membersamai kedua buah hati. Meskipun keputusan ini tidaklah mudah. Kembali lagi, komentar berbalut rasa peduli dan simpati sering sekali saya dengar. Dari mulai, menyayangkan ilmu yang dimiliki, kesempatan emas, dan menghilangkan sumber rezeki. Ah, rasanya ingin menjadi diri sendiri dengan segala pilihan dan keputusan memang tidak mudah. 

Tidak hanya itu, menjadi emak-emak milenial dan memiliki 2 generasi Alpha itu susah-susah gampang. Saat ini, saya sedang fokus menjadi pendidik bagi kedua anak saya yang masih balita. Saya sedang belajar menjadi orang tua dan mendidik generasi Alpha yang kecerdasannya dan semangat belajarnya melebihi emaknya. Karena alasan itulah, cara saya dalam membersemai generasi digital ini pun, harus dengan cara yang berbeda, dan terkadang terkesan aneh di mata sebagian orang. Mendengar komentar warga +62, rasanya kalau nggak kuat iman dan imun diri, bisa stress dan langsing tanpa diet hehehe…

Tapi, saya bersyukur kebiasaan sebelum menikah ternyata membuat saya terbiasa berani tampil beda. Meskipun kadang dibilang aneh, namun saya selalu mengatakan “this is me, and I am happy to be myself”




Seperti halnya juga ASUS. Dari sejak kemunculannya, ASUS berani tampil beda. ASUS merupakan perusahaan multinasional sekaligus produsen motherboard, PC, monitor, kartu grafis dan router terbaik di dunia. ASUS memiliki visi sebagai perusahaan teknologi terdepan dan paling inovatif di dunia.

Hadir dengan brand spirit “In Search of Incredible”, ASUS berhasil memperoleh penghargaan tahun 2018 termasuk Forbes’ Global Top Regarded Companies, Thomson Reuters’ Top 100 Global Tech Leaders dan Fortune’s World’s Most Admired Companies. Dan, di tahun ini,  ASUS kembali mengeluarkan pruduk terbaru ASUS VivoBook S14 (S433) yang merupakan laptop juara di kelasnya. Apa saja kelebihannya? Ini dia kelebihan yang dimiliki ASUS VivoBook S14 (S433):

  • Performa Hebat



ASUS VivoBook S14 (S433) ditenagai oleh Intel Core 10th Gen. Varian yang digunakan ialah Intel Core i5-10210U yang memiliki konfigurasi empat core dan delapan thread. Processor terbaru dari Intel ini, tidak hanya powerfull namun juga hemat daya. Hal tersebut berdasarkan hasil pengujian menggunakan Cinebench R20 dan PCMark 10, ASUS VivoBook S14 (S433) berhasil meraih skor yang cukup tinggi dan terbukti cocok menemani berbagi kegiatan sehari-hari penggunanya.

Satu hal lagi, ASUS VivoBook S14 (S433) menggunakan PCle SSD berkapasitas 512GB. ViviBook S14 (S433) juga menggunakan SSD yang telah dilengkapi dengan Optane Memory berkapasitas 32GB. Optane Memory merupakan teknologi eksklusif Intel yang memanfaatkan memori tambahan sebagai cache. Dengan adanya cache, SSD mampu mengakses data yang sering diakses secara lebih cepat, sehingga performa secara keseluruhan akan lebih kencang.

Satu lagi yang paling penting, performa baterai ASUS VivoBook S14 (S433) ini merupakan yang terbaik. VivoBook S14 (S433) mengadopsi baterai 50Whrs, lebih besa dibandingkan laptop di kelasnya. Digabungkan dengan Processor Intel Core 10th Gen yang hemat daya, VivoBook S14 (S433) mampu bertahan selama 12 jam saat diuji menggunakan PCMark 10 Battery pada mode Modern Office.

  • Desain



Desain lebih elegan dengan aksen warna yang tajam dan minim dekorasi. Hanya ada tulisan “ASUS VivoBook” di tempatkan di samping, dan ada banyak “ruang kosong” atau bahasa dalam bahasa desain disebut “negative space”. Negative space ini nantinya bisa dipasang stiker ekslusif sesuai dengan karakter kita.


  • Stiker Eksklusif



ASUS bekerja sama dengan seniman Muchlis Fachri atau yang lebih dikenal dengan Muklay, seniman visual asal Jakarta. Muklay menghadirkan desain stiker eksklusif khusus untuk pengguna VivoBook S14 S433. Desain dibuat sesuai dengan jiwa generasi Z.


  • Warna



ASUS VivoBook S14 S433 menghadirkan 4 warna yang bisa dipilih sesuai dengan karakter kita, diantaranya:

     1. Gaia Green
Gaia Green yang terinspirasi dari alam berarti bagi mereka yang memilih warna ini memiliki karakter mudah beradaptasi dan terbuka terhadap segala sesuatu yang dunia berikan.

     2. Resolute Red
Berapi-api dan mencolok, mereka yang memilih warna ini berarti menempatkan diri di luar arus dan tidak takut dengan apa yang dipikirkan orang lain.

     3. Dreamy Silver 
Berani bermimpi, mereka yang memilih warna ini berarti mereka teguh dengan cita-cita dan bangga dengan apa yang diperjuangkan.

     4. Indie Black
Indendensi dan kepemimpinan tanpa kompromi, mereka yang memilih warna ini memiliki karakter bertanggung jawab atas situasi apapun dan tidak takut untuk berbicara untuk orang lain.


  • Layar



ASUS VivoBook S14 S433 menggunakan teknologi NanoEdge Display, sehingga mampu menghadirkan bezel yang tipis. Screen to body ratio hingga 85 persen dan ukuran keseluruhan body yang lebih kecil. Selain itu, teknologi ini pun membuat layar nampak lebih lega dan konten yang disajikan lebih impressive.


  • Bodi


ASUS ViviBook S14 (S433) memiliki bodi yang sangat tipis dan ringan untuk laptop di kelasnya. Beratnya hanya 1,4 kilogram dan ketebalannya hanya 15,9 mm. Jadi bisa dengan mudah dan nyaman untuk dibawa kemana-mana.


  • Fitur Premium




ASUS VivoBook S14 (S433) telah dilengkapi fitur terbaik di kelasnya. Ada fingerprint atau pembaca sidik jari yang sudah terintegrasi dengan Windows Hello di Windows 10.

Windows Hello merupakan fitur yang memudahkan pengguna untuk masuk ke dalam sistem tanpa harus mengetikkan password. Selain dapat login dengan cepat dan praktis, Windows Hello juga membuat laptop menjadi lebih aman karena tidak sembarang orang dapat mengaksesnya.

Selain Windows Hello, ASUS VivoBook S14 (S433) juga dilengkapi dengan audio premium bersertifikasi harman/kardon. Fitur ini sangat penting, karena ASUS VivoBook S14 (S433) ini memang diperuntukkan untuk kawula muda, jadi tentu saja music merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Kualitas audio yang dihadirkan merupakan terbaik di kelasnya.




Tidak hanya itu, ASUS VivoBook S14 (S433) memiliki kelebihan lainnya, yaitu Keboard backlit. Keyboard backlit pada ASUS VivoBook S14 (S433) sangat cocok untuk bekerja di lingkungan yang minim cahaya. Didesain secara ergonomis, kokoh, konstruksi satu bagian dan dengan key travel 1,4 mm yang memberikan pengalaman mengetik yang nyaman. 

  • Konektivitas Terbaik
ASUS VivoBook S14 (S433) dilengkapi dengan beragam konektivitas modern, salah satunya ialah modul WiFi 802.11ax atau WiFi 6. WiFi 6 merupakan teknologi komunikasi data nirkabel generasi terbaru. WiFi 6 menjanjikan kecepatan transfer data yang lebih tinggi yaitu hingga tiga kali lipat, kapasitas jaringan hingga empat kali lipat lebih banyak dan latency hingga 75 persen lebih rendah.



Sementara untuk konektivitas lainnya, ASUS VivoBook S14 (S433) telah hadir dengan beragam port termasuk USB 3.2 (Gen 1) Type-C yang menjanjikan kecepatan data lebih baik. Selain itu, port USB Type-C juga dapat dimanfaatkan untuk mengkoneksikan VivoBook S14 (S433) dengan berbagai perangkat eksternal modern yang saat ini lebih banyak memanfaatkan USB Type-C sebagai interface-nya.




Kesimpulannya, ASUS VivoBook S14 (S433) ini tidak hanya fokus pada tampilan dan gaya saja. Memang laptop ini dirancang untuk Generasi Z yang aktif, kreatif dan penuh kebebasan. Mulai dari aksen warna hingga stiker, memang sangat cocok untuk kawula muda. Tapi, di sisi lain, performa laptop ini sangat luar biasa. Laptop modern yang sangat powerfull, bahkan bisa bertahan hingga 12 jam.

Gimana? Apa nggak mupeng tuh lihat setumpuk kelebihan yang dimiliki oleh ASUS VivoBook S14 (S433). Hmmm… Harganya?

ASUS VivoBook S14 (S433) tersedia dan bisa dibeli melalui jaringan retail offline. Sedangkan untuk jaringan retail online, bisa melalui e-commerce berikut:

Oya, setiap pembelian ASUS VivoBook S14 (S433) melalui e-commerce tersebut, kita bisa mendapatkan T-shirt ekslusif Billionaire’s Project selama persediaan masih ada (warna T-shirt akan diberikan secara acak).

Nah, sekarang berapa sih harganya?
ASUS VivoBook S14 (S433) yang menggunakan processor Intel® CoreTM i5-10210U dibanderol dengan harga Rp 13.999.000.
ASUS VivoBook S14 (S433) yang menggunakan processor Intel® CoreTM i7-10510U dibanderol dengan harga Rp 15.999.000.

Hmmm… Gimana? Harganya sesuai dengan kelebihan yang dimiliki, kok. Asli, pokoknya nggak bakalan rugi deh. Apalagi buat kamu Generasi Z, laptop ini bakalan jadi sobat yang ngerti kamu banget. Percaya deh, ASUS VivoBook S14 (S433) akan membuat kamu tampil beda dan berani menjadi dirimu sendiri.