Follow Us @soratemplates

Friday, May 31, 2024

Keluarga Sehat dengan Jamu

 

minuman jamu

Pernah nggak kalian dikira anak SMA padahal udah kuliah?

Pernah nggak dikira anak kuliah padahal udah kerja?

Pernah nggak ngajak jalan-jalan anak, tapi dikira adiknya?

 

Kalau aku sih yes hehehe. Nggak usah emosi ya. Tapi, ini bukan sombong, hanya sekadar ingin berbagi. Memang tua itu pasti, tapi terlihat lebih muda dan sehat itu bisa diikhtiarkan, kok.

 

Nggak harus mengeluarkan rupiah berdigit-digit untuk mendapatkan itu semua. Hanya butuh sedikit usaha dan biaya ala kadarnya. Bahkan bisa jadi tidak usah mengeluarkan sepeserpun kalau memang semua bahan yang kita butuhkan tersedia di lingkungan rumah kita.

 

Apa aja sih tipsnya biar kita bisa tetap sehat, fit dan bonus terlihat awet muda?

Pertama, atur pola pikir kita. Kok? Ini paling penting, tapi jujur sih susah banget ngejalaninnya. Apalagi untuk Si Phlegmatis Melankolis kayak aku, butuh effort yang luar biasa untuk mengatur pola pikir kita. Tapi, memang benar sih, kalau kita stress, sibuk ngurusin orang, pikiran selalu negative, ya jangan harap bisa sehat. Malah yang kita dapatkan akan banyak penyakit yang mampir menyapa ke tubuh kita. Hati-hati loh dengan pikiran kita. Mulai sekarang nggak usah mikir yang nggak-nggak deh. (Kata-kata ini sebenarnya buat nasehatin terus ke diri sendiri hehehe…)

 

Kedua, atur pola makan. Jadi orang itu harus punya mindset, makan untuk hidup, bukan sebaliknya, hidup untuk makan. Paham kan maksudnya? Kalau makan untuk hidup, kita akan makan secukupnya, nggak berlebihan, yang penting bisa membuat tubuh kita memiliki tenaga untuk melakukan aktivitas. Kita tahu apa yang baik untuk dimakan dan apa yang tidak. Tapi, kalau hidup untuk makan, yang ada di pikiran kita pasti kita pengen makan yang enak, yang lagi viral, yang penting kenyang dan tidak peduli apa itu sehat atau tidak. Yuk, mulai jaga asupan makanan kita.

 

Ketiga, jangan mager alias malas gerak. Buat para ibu rumah tangga, niatkan mengerjakan pekerjaan rumah tangga selain karena Allah juga sekalian biar sehat. Bonus banget loh kalau kita dengan senang hati mengerjakan tugas domestik, terus bisa sekalian peregangan otot dan juga mengeluarkan banyak keringat. Buat para wanita karir juga bisa sekalian olah raga loh, kalau naik turun tangga.

 

Ketiga, cukupi kebutuhan air putih. Ini penting banget nih. Terkadang karena kesibukan atau malas, kita lupa untuk mencukupi kebutuhan air putih bagi tubuh. Bahkan ada yang lebih memilih minum minuman bersoda, kafein atau yang mengandung gula. Padahal, efek yang kita dapat kalau kurang minum air putih itu, ngeri juga loh. Yuk, mulai membiasakan minum air putih yang cukup!

 

Keempat, cukup istirahat. Jangan sepelekan istirahat bagi tubuh. Ingat, tubuh kita pun butuh waktu untuk rehat. Jangan memaksakan tubuh untuk terus bekerja. Efeknya bisa ke pikiran jadi stress, tubuh juga lelah, dan akhirnya penyakit akan datang menyapa.

 

Kelima, konsumsi jamu. Ini dia tips rahasiaku. Aku memang suka banget dengan jamu. Baik itu jamu yang sudah dijual dalam kemasan, atau aku meraciknya sendiri. Sebenarnya lebih enak racikan sendiri. Selain lebih fresh, tentu saja lebih hemat juga.

 

jamu kunyit asam

Ngobrolin tentang jamu, dari sejak kecil aku memang ‘dicekoki’ jamu oleh almarhumah mamah. Terlahir dengan kondisi fisik yang lemah dan sering sakit-sakitan dari mulai bayi hingga remaja. Dokter, suntikan dan obat-obatan menjadi sahabat sejati. Asupan makanan hingga ruang gerak pun dibatasi. Ah, rasanya tidak bisa menikmati keceriaan seperti halnya anak-anak yang lain.

 

Saking seringnya bolak-balik rumah sakit, aku pun pernah berada di titik jenuh dan Lelah untuk berobat. Akhirnya, mamah mencari cara agar rasa sakitku bisa berkurang dan yang pastinya bisa sehat. Dari situlah, aku mulai mengenal jamu.

 

Saat itu, almarhumah Mamah menyuruhku untuk mengkonsumsi jamu setiap hari. Ada satu penjual jamu keliling yang menjadi langganan keluarga kami. Selain itu, kalau penyakitku kambuh, almarhumah Mamah akan membuatkan racikan jamu sendiri yang dibuat dari rimpang dan tanaman obat lainnya.

 

minuman jamu

Bersyukur, tidak sulit bagi mulut dan lidahku untuk menerima minuman jamu. Malah aku suka sekali dengan jamu. Bagiku, meskipun ada jamu yang rasanya pahit, tetap saja masih bisa bersahabat dengan lidahku. Dan, hebatnya selalu ada penawar rasa pahit yang dibuat dari rimpang juga.

 

Kebiasaan mengkonsumsi jamu ini terus berlanjut meski penyakitku sudah tidak kambuh lagi. Aku pun merasakan badanku jauh lebih fit dan tidak gampang sakit. Padahal setelah lulus dari bangku SMA, aku memiliki aktivitas seabreg ketika kuliah sambil bekerja dan juga sibuk di kegiatan sosial. Dengan kesibukan ini, alhamdulillah aku diberikan kesehatan dengan ikhtiar mengkonsumsi jamu.

 

Memang benar apa kata pepatah, ketika sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan, maka seakan-akan sudah mandarah daging. Kebiasaan minun jamu pun terbawa hingga aku menjadi seorang ibu. Aku pun mulai memengaruhi suami dan anak-anak untuk ikut mengkonsumsi jamu. Ketika ada salah seorang anggota keluarga yang sakit, maka aku akan lebih memberikan jamu daripada menyarankan memberi obat kimia.

 

Menurutku, mengkonsumsi jamu itu mengurangi risiko ketergantungan tubuh pada obat, minim efek samping, dan murah meriah. Sebagai alumnus pengkonsumsi obat-obatan kimia, aku bisa merasakan bagaimana efek dari minum obat-obat kimia. Untuk itulah, aku berusaha memberikan ramuan jamu, baik untuk pencegahan maupun pengobatan suami dan anak-anak.

 

Selain membeli jamu yang sudah dikemas, aku juga sering membuat ramuan jamu sendiri. Apalagi aku penyuka banget kunyit asam dan ramuan jahe dicampur gula aren. Dua racikan jamu ini andalan banget untuk pencegahan dan juga menjaga imun tubuh sekeluarga. Oya, bonus buat aku sih, melangsingkan juga hehehe.

 

Kalau Paksu biasanya rutin mengkonsumsi temulawak. Temulawak ini juga andalanku kalau anak-anak sedang tidak nafsu makan setelah sakit. Biasanya setelah diberikan jamu temulawak, mereka akan kembali lahap makan.

 

Kalau ada anggota keluarga yang terkena batuk pilek, aku akan membuat ramuan jeruk nipis dicampur madu. Selain itu, aku pun akan memberikan jamu jahe dicampur gula aren. Ada lagi jamu anti bapil, yaitu jamu kencur yang dicampur dengan madu.

 

Oya, kami juga selalu sedia jamu kemasan, ada Vermint, produk Sido Muncul, dan juga produk lokal serbuk temulawak dan jahe.

 

Ada sedikit cerita di tahun 2018, suamiku terkena penyakit tifus. Setelah bolak-balik ke dokter, namun tetap saja kondisinya tidak berubah. Akhirnya atas saran dari seseorang, kami pun membeli produk ekstrak cacing Vermint. Kami pikir, karena ini merupakan jenis jamu, jadi aman untuk dikonsumsi siapapun.

 

Alhamdulillah, setelah mengkonsumsi satu dua hari, demamnya dan rasa sakit di badannya hilang. Bahkan Paksu bisa kembali berangkat ke kantor. Sampai saat ini, kalau sudah mulai terasa badan demam, beliau selalu mengkonsumsi Vermint.

 

Kejadian yang hampir sama namun tak serupa. Tahun 2021, aku pun terkena tifus. Ada kejadian lucu namun cukup mengesalkan. Saat itu, suhu tubuhku naik turun. Akhirnya Paksu mengantar ke dokter. Dokter menyuruh untuk cek laborarotium. Ketika dilihat hasilnya, sudah jelas kalau aku terkena tifus. Namun, entah bagaimana cara dokter itu membaca hasil lab, karena menurutnya aku terkena Demam Berdarah. Awalnya aku disuruh untuk opname, tapi suami menolak dan mengatakan untuk rawat jalan saja. Dokter memberikan obat dan juga ada Sebagian resep yang harus dibeli terpisah di apotek.

 

Untuk menjawab keraguanku, aku tanyakan kepada apotekernya, obat apa yang diresepkan oleh dokter tersebut, ternyata obat untuk Demam Berdarah. Dan, yang membuat kaget, harganya lumayan mahal. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menebus obat tersebut, karena aku yakin aku tidak terkena Demam Berdarah.

 

Aku pun meminta izin kepada suami untuk mencari second opinion. Dan, ternyata ketika aku memerikasakan ke dokter yang lain. Dokter tersebut mengatakan kalau aku memang tifus berdasarkan hasil lab. Oya, ada satu hal yang membuat aku tercengang dan kesal untuk yang kedua kalinya, ternyata obat yang diberikan dokter tersebut hanyalah vitamin bukan obat, baik itu obat Deman Berdarah ataupun untuk tifus. Dari resep obat yang aku minum selama beberapa hari ini, tidak ada satupun obat untuk mengurangi atau mengobati rasa sakit.

 

Akhirnya aku konsultasi dengan dokter untuk mengkonsumsi jamu ekstrak cacing. Dokter pun membolehkannya. Alhamdulillah, setelah dua sampai tiga kali minum, aku pun berangsur pulih.

 

Sebagai pecinta jamu dan sudah merasakan banyak manfaat jamu, rasanya rugi dan merasa bersalah kalau tidak sharing dan mengajak siapapun tentang manfaat minum jamu. Yakin deh, kalau dengan minum jamu, kita akan merasa jauh lebih sehat, fresh dan bonusnya terlihat awet muda hehehe. Trust me, it works! 😊

No comments:

Post a Comment