Jumat, 22 September 2017

Terjun Bebas

Sumber www.sport.tempo.co

Perlu kita akui bersama kalau di dunia ini tidak ada Perguruan Tinggi yang memiliki jurusan keluarga dengan program studi ayah atau ibu. Jadi, akan sangat mungkin terjadi, beberapa pasangan yang baru menikah merasa kikuk dan terkadang memicu pertengkaran.
Apa yang kita rasakan ketika berkenalan atau proses pendekatan ternyata berbeda jauh. Tak jarang setelah menikah, setiap orang memperlihatkan kebiasaan aslinya. Tentu saja hal tersebut membuat satu sama lain kaget. Mulai dari hal yang sangat sepele, seperti kebiasaan jam tidur atau bangun, kebiasaan mandi, kebiasaan makan, sampai kepada pola asuh anak.  
Nah, poin yang terakhir inilah yang seringkali menjadi pemicu masalah yang lebih serius. Sebagai contoh, keluarga kita terbiasa dengan pola asuh yang sangat terfokus kepada kedisiplinan. Pokoknya anak sebiasa mungkin harus belajar disiplin sejak dini. Sedangkan di keluarga pasangan kita, pola asuh yang ada terbilang acuh tak acuh. Membiarkan anak tumbuh dengan sendirinya. Mengizinkan lingkungan yang mengajarkan anak banyak hal.
Nah, dari satu sisi itu saja, bisa membuat masalah baru kalau tidak dikomunikasikan sejak awal. Ada baiknya sebelum menikah, kita tidak hanya terfokus kepada kriteria kecantikan atau ketampanan dan kemapanan pasangan kita. Kita juga tidak hanya sibuk mempersiapkan tema pesta pernikahan. Karena yang terpenting adalah mempersiapkan bagaimana kita bisa melangkah bersama setelah menikah kelak.
Menyatukan visi dan misi setelah menikah. Berusaha untuk bersinergi dalam membina biduk rumah tangga. Menyamakan pola asuh yang seperti apa untuk keturunan kita. Intinya, jangan sampai setelah menikah kita merasa kaget, kecewa dan juga stress dengan apa yang terjadi di depan mata kita.
Menikah adalah ibadah paling lama yang kita kerjakan. Oleh karena itulah, kita membutuhkan persiapan yang luar biasa. Persiapan di sini bukan hanya persiapan fisik semata, tapi yang paling penting ialah persiapan mental. Kita perlu banyak ilmu agar bisa membina keluarga yang harmonis.
Pernikahan itu bukan untuk satu atau dua bulan, tapi selama napas belum berhenti, maka kita harus berusaha menjaga keutuhan dan janji yang sudah melangit. Apalagi ketika kita sudah diberikan keturunan, tanggung jawab pun bertambah. Amanah yang dititipkan oleh Allah SWT tidak bisa dianggap remeh. Kita sudah terpilih untuk menerima titipan dari yang Maha Mencipta.
Jangan sampai kita memilih untuk terjun bebas tanpa menggunakan parasut. Tidak hanya itu, kita pun harus memiliki ilmu tentang bagaimana bisa mendarat dengan selamat. Karena meskipun sudah menggunakan parasut dan juga memiliki ilmunya, tidak jarang ada saja yang gagal mendarat. Banyak faktor yang bisa menyebabkan hal tersebut, mungkin bisa karena angin, pikiran (kurang konsentrasi) ataupun faktor cuaca.
Begitu pun ketika kita akan memasuki gerbang pernikahan dan mendidik anak-anak kita. Kita tidak bisa hanya melihat kebiasaan orang-orang sebelum kita. Jangan sampai kita hanya jadi orang tua copas (copy paste) tanpa melihat apa itu pantas dan cocok untuk buah hati kita. Ya, kalau kebiasaan itu baik, bisa kita terapkan. Tapi, kalau sebaliknya?
Pernikahan, membina rumah tangga dan mendidik anak itu bukan perkara gampang dan tinggal meniru kebiasaan dan budaya. Itu semua harus ada ilmunya. Dan, ingat satu hal lagi, semua hal yang berhubungan dengan manusia pastilah mengalami perubahan dan perkembangan. Oleh karena itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan budaya dan tradisi saja dalam menghadapinya. Jangan biarkan diri kita terjun bebas. Ya, kalau hanya melukai diri kita. Tapi, apa kita bisa menjamin untuk tidak melukai masa depan anak-anak kita?


8 komentar:

  1. Yup, setuju. Nggak mau terjun bebas, maunya mendarat dengan aman dan selamat :)
    Masih terus belajar untuk memberikan yang terbaik buat anak-anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, Mbak... kita semua memang harus terus belajar, apalagi diriku yang masih baru melangkah ini... :)

      Hapus
  2. betul banget mbak, aku juga dulu sempat berpikir harusnya ada sekolah untuk keluarga, bapak dan ibu rumah tangga (yg terakhir ini wabil khusus) :)

    BalasHapus
  3. Yahh karenanya itu bkan krna ingin shra nikah dg tujuan trburu2 ato ikut tradisi f sekitar tempat tinggal. Keinginan ada, tapi masih blum siap mentalnya itu. Ilmunya juga. .uhmmm...
    Bnyak blajar ttg membntuk sbuah kluarga di sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo Mbak sama-sama belajar dan pantaskan diri kita untuk menjadi sosok istri sekaligus ibu yang hebat :)

      Hapus